Evolusi Kosmis dan Tujuan

Evolusi Kosmis tetap berjalan sesuai hukumnya.

Walaupun dipisahkan oleh kelahiran (jati), tempat (desa), maupun waktu (kala), yang berkaitan dengan ingatan (smrti), kesan-kesan (samskara) serta kebiasaan-kebiasaan tetap berlangsung, karena yang merangsangnya tetap ada, namun itu tidak menjadi penyebab lagi (anadhitvam).
Hadirnya sebab, motif, struktur, dan tujuannya tetap mempersatukan mereka (smrti, samskara serta kebiasaan-kebiasaan); hanya dengan tidak hadirnya semua (sebab, motif, struktur, dan tujuan) itulah mereka tidak hadir pula.
Masa lampau dan masa depan (atita-anagata) eksis secara bergantian betapa adanya, mengikuti prinsip-prinsip kosmis yang mengaturnya (dharmanah).
Baik berwujud kasar maupun halus, mereka hanyalah guna yang menyertai Atman (guna atmanah).
(Sedangkan) evolusi menuju panunggalan merupakan realitas dari keberadaan Sang Yogi kini (vastu tattvam).
[YS IV.9 – IV.14]

EVOLUSI KOSMIS DAN TUJUAN.

Evolusi Kosmis tetap berjalan sesuai hukumnya.

Walaupun dipisahkan oleh kelahiran (jati), tempat (desa), maupun waktu (kala), yang berkaitan dengan ingatan (smrti), kesan-kesan (samskara) serta kebiasaan-kebiasaan tetap berlangsung, karena yang merangsangnya tetap ada, namun itu tidak menjadi penyebab lagi (anadhitvam).
Hadirnya sebab, motif, struktur, dan tujuannya tetap mempersatukan mereka (smrti, samskara serta kebiasaan-kebiasaan); hanya dengan tidak hadirnya semua (sebab, motif, struktur, dan tujuan) itulah mereka tidak hadir pula.
Masa lampau dan masa depan (atita-anagata) eksis secara bergantian betapa adanya, mengikuti prinsip-prinsip kosmis yang mengaturnya (dharmanah).
Baik berwujud kasar maupun halus, mereka hanyalah guna yang menyertai Atman (guna atmanah).
(Sedangkan) evolusi menuju panunggalan merupakan realitas dari keberadaan Sang Yogi kini (vastu tattvam).
[YS IV.9 – IV.14]

Sebagai penjelasan atas paparan sutra-sutra sebelumnya, kini Patanjali memaparkan prinsip hukum semesta berkaitan dengan sebab-akibat yang saling bergantungan dari semua keberadaan, disamping kesinambungan proses evolusi yang dialami oleh seorang Yogi yang belum berhasil menuntaskan evolusinya.
Sepanjang masih ada yang memotivasi kemunculan suatu sebab, maka selama itu pula akibat akan tetap menyertainya. Segala macam bentuk kelahiran, berapa lama, kapan serta dimana kelahiran itu terjadi, apakah dalam wujud kasar —dengan panca mahabhuta— maupun halus hanya menggunakan kelima atau beberapa tan-matra saja, akan selalu terjadi. Semua itu berpangkal pada adanya penyebab, motif, struktur atau susunannya, serta tujuan-tujuannya yang masih tersisa. Demikian pula pada waktu atau jaman apa kelahiran berikutnya akan terjadi, dan berapa lama harus dialami.
Dalam pada itu, kelangsungan waktu berjalan sesuai hukumnya, masa depan menjadi masa kini, dan masa kini terlewati dan menjadi masa lalu. Prinsip kosmis yang mengatur segala keberadaan. Berdasarkan hukum kosmis itulah, bila seorang pendamba kebebasan, penyatuan, dalam kurun tertentu mengakhiri hidupnya pada satu alam kehidupan tertentu, kesan-kesan (samskara) serta ingatan-ingatannya akan dambaannya itu tetap terbawa sebagai benih-benih perbuatan bagi kelahiran berikutnya (kriyamana karma vasana) untuk diteruskannya. Kriyamana karma-vasana inilah yang menjadi benih kelahiran demi kelahiran di berbagai alam kehidupan, kasar maupun halus. Ia menjadi sahabat setia dalam berbagai kelahiran.
Beruntunglah mereka yang telah terjun ke dalam Yoga, para pendamba penyatuan dan kebebasan (mumukshu) dalam kelahirannya ini; pencapaian yang diraihnya dalam kehidupan ini membentuk vasana-nya dan akan terus membimbingnya dalam evolusi spiritual pada kelahiran-kelahiran berikutnya. Itulah sesungguhnya yang menjadi realitas keberadaannya; evolusi yang berkelanjutan hingga tercapainya tujuan akhir, menyatu dan melebur di dalam-Nya. Paradigma ini, juga ditegaskan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Gita.
Tujuan tetap sama, hanya pengkondisinya yang berbeda.

Tujuan (vastu) tetap sama, sementara kondisi yang menyertai citta-lah yang berbeda—karena cara kerjanya berbeda.
Vastu tidaklah tergantung pada satu kondisi tertentu dari citta saja, karena bila kondisi itu tak hadir, lantas apa yang akan terjadi padanya?
Oleh terjadinya pencitraan terhadap citta —yang disebabkan oleh pusaran-pusaran pikiran— inilah vastu menjadi disadari atau tidak disadari (jñatãjñatam).
Pengetahuan yang ajeg merupakan modifikasi-modifikasi dari citta juga adanya, namun bagi Sang Yogi, itu terkendali sepenuhnya oleh kehadiran Hyang Purusa yang tiada berubah.
[YS IV.15 – IV.18]

Bagi yang telah terjun menuju kebebasan, tujuan satu-satunya adalah kaivalyam. Mereka ini juga disebut sebagai ‘pelawan arus’, yang dengan gagah-berani terjun melawan arus tumimbal-lahir yang maha-deras ini. Sekali tujuan ditetapkan dalam suatu kelahiran, ia akan mengalir sebagai missi lanjutan dalam kelahiran-kelahiran berikutnya.
Mungkin saja citta dalam suatu kelahirannya atau dalam kondisi tertentu, tampak berbeda; akan tetapi citta sesungguhnya jernih, dan kembali terjernihkan seperti sediakala. Pengalaman-pengalaman dari pendakian spiritualnya di masa lalu, pasti muncul kembali sebagai ‘vasana spiritual’. Paradigma ini seringkali mengecoh banyak orang. Jangankan orang awam, para peminat dan penekun-pun bisa terkecoh karenanya; padahal keterkecohan itu tak perlu terjadi bila Hukum Karma Phala dan Samsara benar-benar dipahami. Yang bijak mengatakan bahwa, derajat kesucian batin seseorang hanya dapat diketahui oleh mereka yang memiliki kesucian batin yang sekurang-kurangnya setara dengannya.
Pengalaman-pengalaman pada kehidupan lampau yang tersublimasi berupa vasana inilah yang mewarnai atau memberi citra-artifisial kepada pandangan murni, seperti juga halnya dengan pengalaman-pengalaman dalam kehidupan ini. Mereka mengendap sebagai kesan-kesan mental dan ingatan dan membentuk kebiasaan-kebiasaan. Nah, kumpulan mereka inilah yang ter-refleksi di permukaan berupa kepribadian berikut nasib seseorang dalam setiap kelahirannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s