Jalan Dhyana Yoga atau Meditasi

1. Seseorang yang mengerjakan kewajiban yang harus dilakukannya, tetapi tanpa menuntut keuntungan, tanpa pamrih, maka orang itu adalah seorang sanyasi dan seorang yogi; bukan ia yang tak mau menyalakan api pengorbanan dan tak mau melakukan upacara apapun.

Sebuah fakta kebenaran bahwa seorang sanyasi yang sejati adalah seorang yogi sekaligus karena telah mempersembahkan (mengorbankan) semua pekerjaan dan hasil-hasil dari pekerjaannya kepada Yang Maha Esa. Sanyasa sendiri juga berarti tidak terikat atau tidak berkeinginan. Seseorang yang hidupnya selalu berkeinginan tanpa habis-habisnya dan selalu terikat pada obyek-obyek duniawi dianggap tidak pernah berkorban untuk Yang Maha Esa (tidak menyalakan api pengorbanan) atau berbuat suatu apapun demi Yang Maha Esa.

2. Sebenarnya, Sanyasa yang sejati (penyerahan total) itu adalah Yoga,   Dan seseorang bukanlah yogi yang sejati kalau belum mengesampingkan sankalpa-sankalpanya (keinginan-keinginannya yang bermotifkan sesuatu atau suatu tekad untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat duniawi di masa depan).

Segi-segi penting dari sanyasa juga terdapat di dalam karma-yoga. Seorang sanyasi yang sejati sama halnya dengan seorang yogi yang sejati tidak akan terganggu oleh nafsu. Seorang karma-yogi yang sejati tak akan terusik oleh imbalan apapun untuk setiap perbuatan atau tindakannya.

Sankalpa harus dikesampingkan. Semua rencana yang bermotifkan keserakahan pribadi, rencana yang penuh dengan nafsu-nafsu egoisme harus dikesampingkan, karena rencana-rencana semacam ini timbul dari avidya (kekurang-pengetahuan), lahir dari suatu perasaan bahwa “akulah” pelakunya. Seorang karma-yogi yang sejati akan melenyapkan rasa “akunya” (egoisme dan ahankara) dari dirinya Yang dimaksudkan  di atas bukannya mengesampingkan pekerjaan seseorang, tetapi sebaliknya bekerja dengan mengesampingkan tekad-tekad atau rencana dan itikad yang punya motif atau tujuan yang tertentu untuk kepentingan diri atau egonya; biasanya setiap pekerjaan kita selalu disertai dengan pengharapan akan suatu hasil dan imbalan, bukan saja dari Yang Maha Esa, dari dewa-dewa tetapi dari orang-orang lain, maupun dari pekerjaan itu sendiri. Seyogyanyalah semua pekerjaan dilakukan dengan tekad untuk Yang Maha Esa semata, itu berarti kesatuan dengan Sang Atman dalam segala tindak-tanduk kita sehari-hari dan dalam hidup kita ini. Seorang yogi yang sejati tidak akan berjalan seirama dengan sankalpa-sankalpanya tetapi selalu bekerja tanpa pamrih selama hidupnya dan meditasi (atau dhyana) baginya adalah suatu faktor penunjang yang amat membantunya.

3. Untuk seorang suci yang ingin mencapai yoga, maka jalannya adalah dengan bertindak, untuk orang suci yang sama ini sekali ia telah mencapai yoga, maka ketenangan adalah jalannya.

Untuk mencapai yoga, maka seseorang yogi yang sejati harus bekerja selalu tanpa pamrih, dan setelah ia berhasil menyatu denganNya, maka tindakan sudah tidak penting baginya karena yang bertindak kemudian adalah kehendak Tuhan, dan ia hanyalah alatNya saja. Orang semacam ini akan bekerja dengan dan dalam segala ketenangan dan bagi kesejahteraan semua makhluk. la tak akan mempunyai sankalpa atau rencana-rencana formatif untuk dirinya. Semua pekerjaan atau tindakannya akan selalu sinkron atau sesuai dengan dhyana (meditasiNya), dengan kehendak Sang Atman yang bersemayam di dalam dirinya, dan ini bukan suatu hal yang fiktif atau penuh dengan imajinasi, tetapi betul-betul akan terjadi pada seorang yogi semacam ini dalam kehidupan ini sebenarnya. Om Tat Sat.

4. Seseorang yang sudah lepas dari obyek-obyek sensualnya atau dari tindakan-tindakan dan telah mengesampingkan semua sankalpa-sankalpanya, maka orang ini dianggap telah bersemayam dalam yoga (yogarudha).

Sankalpa adalah dasar dari semua aktivitas yang penuh dengan rencana-rencana egoistik, Seseorang yang pekerjaannya bebas dari nafsu dan sankalpa disebut seorang suci.” Maka seyogyanyalah seorang yogi yang baik mengesampingkan semua sankalpanya dan tetap bekerja demi kewajibannya yang benar, tanpa nafsu, tanpa rasa egoisme, dan tanpa rasa keterikatan pada dua rasa atau sifat yang berlawanan. Bekerjalah dan terimalah apa saja yang dihasilkan oleh pekerjaan itu sebagai pemberian dari Yang Maha Kuasa. Rantailah ego pribadi dengan memasrahkan diri kepada kehendak Tuhan.

5. Sebaiknya seseorang mengangkat dirinya sendiri dengan Dirinya (Sang Atman), dan jangan sampai ia menjatuhkan dirinya. Karena sebenarnya, Dirinya adalah temannya sendiri, dan Dirinya juga adalah musuhnya sendiri.

Angkatlah dirimu sendiri oleh Diri Mu (Sang Atman), bagaimana caranya? Dengan mengejar atau menjalani ajaran-ajaran spiritual seperti karma-yoga atau gnana-yoga atau bhakti-yoga. Jangan kau jatuhkan dirimu ke dalam nafsu-nafsu duniawi yang gelap. Sekali anda mau memperbaiki dan mengangkat diri sendiri, maka jalan ke arahNya akan terbuka lebar. Sang Atman yang bersemayam dalam diri kita ini dapat menjadi musuh atau pun teman dari ego kita sendiri. Sang Atman jadi sahabat kalau kita menjalin hubungan denganNya dan mengesampingkan semua nafsu-nafsu duniawi kita. Sang Atman yang universal sifatNya ini lalu menjadi sahabat, penuntun, penunjuk jalan dan guru kita (Adhi Guru). Tetapi kalau kita jauh dariNya, maka Sang Atman pun jadi “musuh” dan jauh dari kita. Tanpa tuntunan dan jauh dari kasih-sayangNya, kasih-sayang Sang Atman ini, maka apalah arti kehidupan ini.

6. Diri (Sang Atman), adalah teman bagi seseorang yang dirinya (yang rendah) telah dikalahkan oleh Dirinya (yang Tinggi). Tetapi bagi diri yang belum terkendali, maka Sang Diri (Sang Atman) akan bertindak tidak ramah, ibarat seorang musuh.

Yang disebut diri yang rendah adalah indra-indra dan pikiran kita. Seseorang yang berhasil menaklukkan semua ini telah mencapai tahap kesadaran-diri. Kalau diri kita sudah terkendali dengan baik dan menyatu dan bekerja sebagai alatnya Sang Atman, maka Sang Atman pun menjadi sahabat baik kita, menjadi sumber ilham, inspirasi, intuisi, dan guru kita secara spiritual (guru spiritual) dalam segala hal. Tetapi kalau diri kita tetap saja bersifat egois, sombong dan bertahan pada keinginan-keinginan duniawi, maka Sang Atman tidak akan menjadi sumber inspirasi atau penerangan hidup kita melainkan menimbulkan ketidak-harmonisan dalam diri kita, karena hati nurani akan selalu bertentangan dengan tindak-tanduk yang tidak baik dan tidak mengikuti dharma atau kewajiban-kewajiban kita di dunia ini.
7. Seseorang yang telah menguasai dirinya (yang rendah) dan telah mencapai ketenangan dalam mengendalikan dirinya, maka Sang Dia Yang Agung yang bersemayam di dalam dirinya akan bersemayam dengan penuh keseimbangan. la (orang ini) akan selalu merasa damai baik dalam panas maupun dingin, dalam kesenangan dan penderitaan, dan baik dihormati atau tidak dihormati.
Orang yang telah dapat mengendalikan dirinya adalah orang yang tenang dan damai jiwanya dalam arti yang sesungguh-sungguhnya. la adalah orang yang sadar bahwa ia hanyalah alat bagiNya dan sebuah alat fungsinya adalah sama saja baik sewaktu dipakai maupun sedang tidak dipergunakan. Bagi suatu atau sebuah alat, panas dan dingin, dihormati atau tidak adalah sama saja, tidak lebih dan tidak kurang karena ia hanya sebuah alat.
8. Seorang yogi, yang jiwanya telah puas dengan kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan (gnana dan vignana) dan tidak terombang-ambing, yang indra-indranya telah dikalahkan (terkendali), yang merasa bahwa segumpalan tanah-liat, sebuah batu dan sebongkah emas adalah sama saja nilainya, maka orang ini disebut yukta (seorang yang harmonis pengendalian yoganya).
Gnana adalah pengetahuan tentang Nirguna, yaitu Yang Tak Terlihat, sedangkan vignana adalah pengetahuan tentang Saguna, yaitu Yang Terlihat. Seseorang yang telah sadar dan penuh dengan kedua ilmu pengetahuan ini (gnana dan vignana), merasa puas dengan kebenaran Sang Brahman sesuai dengan pengalamannya selama ini, sehingga ia tergoyahkan atau terombang-ambing oleh pengalaman-pengalaman duniawi yang nampak dan terasa sehari-hari. Baginya tanah-liat, batu ataupun emas itu sama saja nilainya. la sudah mencapai keharmonisan dalam hidupnya. Orang semacam ini disebut yukta.
9. Seseorang yang memandang sama terhadap teman-temannya, sahabat-sahabatnya dan terhadap musuh-musuhnya, terhadap orang-orang yang tak dikenalnya dan terhadap pihak-pihak yang netral, terhadap orang-orang asing dan sanak-saudaranya, terhadap orang-orang suci dan terhadap orang-orang yang berdosa – orang ini telah mencapai kesempurnaan (kebaikan).
Orang yang telah mencapai kesempurnaan melihat Satu Pencipta (Tuhan) di dalam setiap benda, makhluk dan manusia. Ia bebas secara total dari rasa diskriminasi karena ia sadar bahwa semua ciptaan Yang Maha Esa sebenarnya adalah alat-alatNya belaka.
10. Sebaiknya seorang yogi duduk di suatu tempat yang tenang dan tersendiri, dan secara konstan mengkonsentrasikan pikirannya pada (Jati Dirinya Yang Agung), dan dengan mengendalikan dirinya, lepas dari segala nafsu dan rasa memiliki.
Sang Kreshna menerangkan sebagian teknik meditasi kepada Arjuna. Sebenarnya seluruh proses teknik meditasi tak dapat diterangkan dalam bentuk tulisan. Prosesnya berbeda dari satu orang ke orang lain dan sebaiknya dipelajari dari seorang guru yang bijaksana. Ibarat belajar melukis yang tidak dapat dipelajari begitu saja, maka yoga pun tak dapat dipelajari dari buku-buku meditasi saja. Garis besar atau yang terpenting dalam metode meditasi haruslah disertai dengan kendali atas pikiran kita, sehingga setiap saat pikiran kita dapat diperintahkan untuk diam sesuai kehendak atau tekad kita. Sangat baik kalau seseorang yang ingin belajar meditasi dapat melakukannya di tempat yang tersendiri dan lepas dari gangguan-gangguan suara dan sebagainya. la harus lepas dari pikiran-pikiran egois dan rasa memiliki harta-benda, keluarga dan hal-hal duniawi lainnya, juga ia harus lepas dari keinginan-keinginan indra-indranya. la harus secara konstan setiap harinya menyisihkan sejumlah waktu tertentu dan berusaha dengan tekad yang tulus untuk mengkosentrasikan diri dan pikirannya kepada Sang Atman, dan sebaiknya waktu yang disediakan untuk meditasi ini tidak terganggu oleh kesibukan-kesibukan lainnya, agar meditasi berjalan tanpa gangguan secara mental maupun secara psikis, juga tempat bermeditasi haruslah bersih dan tidak terganggu oleh suara, bau busuk dan gangguan nyamuk dan sebagainya.

. Dengarkanlah olehmu, oh Arjuna, bagaimana mempelajari yoga dengan pikiran yang selalu terpusat kepadaKu, dan Aku sebagai tempat dikau berlindung, dengan demikian tanpa ragu-ragu lagi engkau mengenalKu secara utuh.

1. Dengarkanlah olehmu, oh Arjuna, bagaimana mempelajari yoga dengan pikiran yang selalu terpusat kepadaKu, dan Aku sebagai tempat dikau berlindung, dengan demikian tanpa ragu-ragu lagi engkau mengenalKu secara utuh.
2. Seutuhnya akan Kuajarkan (Kubukakan) kepadamu apakah itu kebijaksanaan (gnana) dan apakah itu pengetahuan (vignana), yang setelah dipelajari, tak ada lagi hal-hal lainnya perlu untuk dipelajari lagi.
Bab ketujuh ini disebut yoga gnana dan vignana. Lalu apakah perbedaan antara gnana dan vignana ini? Mempelajari intisari dari Yang Maha Esa (Nirguna Nivakara Paramatman) adalah gnana; untuk mempelajari atau mengetahui “keajaiban” atau “permainan”-Nya adalah vignana, Di dalam bab ketujuh ini akan kita pelajari tentang Yang Maha Esa (Para Brahman) dan tentang aspek-aspek manifestasiNya dalam bentuk manusia (Bhagavan), contoh: Sang Kreshna dan Sang Rama. Pengetahuan tentang Brahman adalah gnana, dan pengetahuan tentang manifestasiNya, kekuatanNya, dan keajaibanNya disebut vignana. Dalam Bhagavat Gita Yang Maha Esa memanifestasikan DiriNya sebagai Sang Kreshna dan langsung mengajarkan manusia ilmu pengetahuan (yoga) ini yang setelah dipelajari seseorang tak perlu lagi ia mempelajari ajaran-ajaran Bhagavat Gita dan meresapinya dengan benar akan lepas dari lingkaran dan alur-alur karmanya. Sayang sekali kalau kita mengabaikan ajaran ini dan tetap terikat pada hal-hal yang bersifat duniawi.
3. Diantara beribu-ribu manusia, belum tentu seorangpun berjuang untuk kesempurnaan, dan di antara yang berjuang dan sukses belum tentu seorangpun mengenalKu secara benar.
Seseorang yang benar-benar berdedikasi kepadaNya secara lahir dan batin atau secara total itu dapat dihitung jumlahnya dengan jari. Karena biasanya manusia itu lupa mengapa ia dilahirkan di dunia ini, yang menjadi ajangnya untuk mencapai Yang Maha Kuasa. Manusia kemudian tenggelam dalam ilusi Sang Maya, dan begitu ia sadar maka terasa perjuangannya ke arah Yang Maha Kuasa menjadi sulit, tetapi secara perlahan dan pasti kalau ia penuh iman, maka betapapun terjalnya perjalanan ia akan dituntunNya dengan baik dan suatu saat pasti sampai ke Tujuan yang abadi ini.
Bahkan para dewa-dewa pun ingin menjadi manusia, karena hanya dengan mengalahkan raga beserta seluruh indra-indranya sajalah seseorang dapat mencapaiNya. Sedangkan dewa-dewa itu tidak memiliki raga. Manusia yang memiliki raga malahan menyalah-gunakan raga ini dan melupakan nilai-nilai luhur yang sesungguhnya dari kehidupan yang dikaruniakan olehNya kepada kita semua. Seyogyanyalah kita memuja dan berdedikasi kepadaNya dan menjauhi nafsu-nafsu duniawi ini yang makin lama makin menjerumuskan seseorang ke dalam lembah tak ada ujungnya.
4. Bumi, air, api, udara, ether, pikiran, pengertian dan rasa “aku” — adalah delapan bagian dari sifatKu.
Sang Kreshna sekarang sedang menerangkan tentang DiriNya seperti apa adaNya. Sifat-sifat (atau prakriti) Sang Kreshna sebenarnya terdiri dari dua bagian, yaitu sifat luar dan sifat dalam, di ajaran ini dikatakan terdiri dari dua sifat, yaitu sifat bagian bawah (rendah) dan sifat bagian atas (tinggi). Sifat atau prakriti yang rendah terdiri dari benda (apara-prakriti) yang terbagi dalam delapan unsur; yaitu tanah, air, api, ether dan udara, dan tiga lagi, yaitu pikiran (mana), pengertian (buddhi) dan ego (ahankara). Kedelapan unsur ini semuanya dapat binasa, dan semua unsur-unsur ini terdapat juga sebagai unsur-unsur inti dalam diri manusia, yang dengan kata lain dapat binasa juga.
5. Inilah sifatKu yang di bawah (rendah). Dan ketahuilah sifatKu yang lain, yang bersifat lebih tinggi – kehidupan atau jiwa, dengan apa dunia ini ditunjang, oh Arjuna!
SifatNya yang tinggi atau yang superior adalah yang disebut para-prakriti, yaitu Jiwa, yang jadi inti atau kekuatan atau penunjang hidup ini, yang terdapat dalam semua makhluk-makhluk ciptaanNya, yang menyatukan dunia ini; tanpa Sang Jiwa ini dunia ini tak akan ada. Sang Jiwa inilah sebenarnya nafas dari kehidupan atau inti atau asal-mula dari semua makhluk di alam semesta ini (yonini bhutani).
6. Ketahuilah bahwa ini (Sang Jiwa) adalah asal-mula semua makhluk Aku adalah asal-mula seluruh alam semesta dan juga pemusnahnya.
Semua benda dan makhluk dalam alam semesta ini datang dari Yang Maha Esa, tanpa Yang Maha pencipta ini tak akan ada apapun di dunia ini; Sang Maya adalah “Ibu” dan Sang Kreshna adalah sebagai “Ayah” dari semua manifestasiNya ini. (“Akulah Sang Ayah yang meletakkan benih!”). Ibarat cahaya Sang Surya yang datang dari Sang Surya tetap merupakan bagian dari Sang Surya, begitupun semua makhluk dan benda-benda di dunia ini adalah berasal dari Yang Maha Esa dan tetap merupakan bagian dariNya, merupakan sebagian dari cahayaNya. Setiap jiwa adalah sebagian cahaya dari Yang Maha Esa dan Yang Maha Esa adalah sumber atau inti dari setiap jiwa ini. Alam semesta ini bergerak terus dalam gerakan melingkar atau memutar. Ada lingkaran manifestasi dan ada juga lingkaran kemusnahan kehidupan, dan semua itu terserah kepadaNya untuk mengaturnya sesuai dengan kehendakNya, ibarat awan yang lahir atau tercipta di angkasa, bergerak atau tinggal di angkasa, maka begitupun semua makhluk dan benda di alam semesta ini datang, tinggal dan kembali kepadaNya lagi. Dengan kata lain Yang Maha Esa itu Satu untuk semuanya dan hadir di dalam semuanya.
Sesuatu manifestasi bermula kalau Yang Satu ini menjadi dua, yaitu benda dan kehidupan (raga dan jiwa yang menyatu). Raga atau benda adalah bentuk fisik, sedangkan kehidupan adalah jiwa, dan semua makhluk yang ada dalam manifestasi akan bergerak dan hidup karena ada motornya, yaitu Sang Jiwa. Di mana ada permulaan kehidupan di situ kemusnahan akan kehidupan ini pun pasti akan datang, itu sudah hukumnya. Dan tahap-tahapnya adalah melalui tahap kanak-kanak, kemudian meningkat ke masa muda, masa tua dan masa di mana seseorang atau sesuatu harus binasa. Selama menjalani kehidupan maka hidup ini ibarat terisi oleh musim semi, musim kemarau, musim rontok dan musim dingin. Di musim dingin bekulah semua nilai-nilai moral dan keyakinan dan lain sebagainya terhadap yang Maha Esa, dan di musim dingin inilah Yang Maha Esa kembali meluruskan dan mencairkan yang beku ini ke asalnya lagi dan mulailah lagi nilai-nilai luhur yang baru di musim semi yang kemudian datang menyusul.
Maka disebutlah bahwa alam semesta ini memiliki “pagi” dan “malam.” Di kala pagi bangkitlah kehidupan dengan segala aspek-aspeknya seperti peradaban, kebudayaan, seni, ilmu pengetahuan, kerajaan, sejarah, dan lain-lainnya.  Dan setelah pagi maka akan timbul malam yang berarti kehancuran dan kemusnahan dari segala sesuatu ini, di mana semua benda dan makhluk musnah kecuali mereka-mereka yang telah mengabdi kepadaNya tanpa pamrih. Mereka-mereka ini dibebaskan dari hidup dan mati, dan tak akan menyatu dengan manifestasi lagi atau bahkan dengan kebinasaan, mereka menyatu denganNya, Yang Maha Abadi. Dan begitulah cara permainanNya (lila).
7. Tak ada sesuatupun yang lebih tinggi dariKu, oh Arjuna! Semua yang ada di sini tertali padaKu, ibarat permata-permata yang teruntai disehelai benang.
8. Aku adalah rasa segar di dalam air, oh Arjuna, dan cahaya dalam sang Chandra dan sang surya. Aku adalah Satu Kata Pemuja (OM) di dalam semua Veda. Aku adalah suara di dalam ether dan benih kekuatan dalam diri manusia.
9. Aku adalah wewangian yang sejati di dalam bumi dan warna merah di dalam bara api. Akulah kehidupan di dalam segala yang hidup dan disiplin yang amat keras di dalam kehidupan para pertapa.

. Kepadamu, yang tak memiliki berbagai keinginan, akanKu sabdakan rahasia yang paling dalam ini, gnana dengan vignana yang tergabung (pengetahuan tentang Nirguna Brahman — Yang Maha Gaib, digabung dengan pengetahuan tentang Cinta-Kasih nan Suci dari Sakara Brahman – manifestasiNya Yang Abadi). Mengetahui ini, engkau akan lepas dari dosa-dosa (keterikatan sansara).

Di bab ini Sang Kreshna menyabdakan tentang rahasia sejati, rahasia yang paling misterius dan suci dari Yang Maha Gaib. Arjuna dipercayai untuk mendapatkan ajaran ini karena Arjuna tidak mempunyai keinginan atau nafsu-nafsu yang negatif dalam dedikasinya terhadap Sang Kreshna. la tak membantah ajaran-ajaran Sang Kreshna selama ini, tetapi selalu ingin lebih tahu lagi dariNya. Hati Arjuna ibarat hati seorang murid yang tulus dan penuh pengabdian. Dalam bab kedelapan-belas Bhagavat Gita yang menyusul nanti, akan kita pelajari bahwa ajaran Sang Kreshna ini tidak boleh diajarkan kepada orang-orang yang hanya ingin membantah ajaran-ajaranNya. Kebenaran Bhagavat Gita hanya untuk mereka-mereka yang berdedikasi tanpa pamrih kepadaNya semata.
Memang Arjuna banyak sekali bertanya, tetapi pertanyaan-pertanyaannya malahan mencerminkan keinginannya untuk mempelajari dan menghayati ajaran-ajaran Sang Kreshna lebih dalam lagi. Sang Kreshna pun dengan senang hati dan penuh kasih mengajarkan ajaranNya lebih lanjut, karena Arjuna dianggapNya penuh dengan bhakti yang tulus terhadap Yang Maha Esa. Seharusnya seorang murid yang baik selalu bertanya kepada guru spiritualnya dan seorang guru yang baik seharusnya bertindak seperti Sang Kreshna dengan tidak segan-segan menuntun seseorang ke jalan yang benar dan sejati. Ajaran apakah yang maha sejati dan rahasia ini, yang disebut sebagai gabungan dari kehadiran Sang Maha Gaib dan Cinta-Kasih SuciNya, yang juga menurut Sang Kreshna adalah gabungan antara gnana dan vignana. Apakah itu gnana, dan apakah itu vignana? Dan apakah perbedaan antara keduanya?
Gnana adalah ilmu pengetahuan tentang Nirguna-Brahman, yaitu tentang Yang Maha Gaib, tetapi dalam kegaibanNya la adalah realitas yang absolut. Suatu realitas yang tak dapat ditentang kehadiranNya, walau tak diketahui bentukNya yang nyata, karena tak mungkin kita mengungkapkanNya secara harafia apa Ia itu sebenamya, dan tak mungkin pikiran kita mampu menjangkau atau menafsirkanNya, atau bahkan menerangkan secara pasti dan konkrit apakah Ia sesungguhnya. Suatu hal yang pasti adalah Ia itu yang Ada dan Hadir dan ini benar-benar realistis. la adalah realita yang abadi dan absolut tanpa bisa ditawar-tawar lagi KehadiranNya. Mayoritas manusia berpikir bahkan mengangan-angankan Seorang Tuhan yang berbentuk (Sakara Brahman). Vignana adalah ilmu pengetahuan atau pemujaan akan Sakara Brahman. Menurut Dattatrya, seorang resi agung di masa yang silam, pemujaan terhadap Nirguna Brahman hanya dapat dilakukan oleh mereka-mereka yang asarira (tak berbadan). Yang dimaksud di sini bukan makhluk-makhluk halus tetapi adalah kiasan dari seseorang yang sudah tak terikat pada dvandvas, yaitu nafsu atau sifat dualisme yang bertentangan. Seseorang yang telah mengatasi semua keinginan dan nafsu-nafsunya, yang telah berada di atas rasa suka dan duka, walaupun dibakar hidup-hidup tak akan merasakan apa-apa lagi. Mayoritas manusia tidak bisa mencapai kesadaran Ilahi seperti ini, dan memujaNya dalam bentuk Sakara Brahman, yaitu Tuhan Yang Berbentuk, seperti pemujaan pada Sang Kreshna, Vishnu, Shiva, dan sebagainya.
Sang Kreshna sendiri disebut juga sebagai Purusha Uttama dan DiriNya adalah manifestasi dari Yang Maha Esa (Nirguna Brahman). Jadi gnana adalah pemujaan kepada Yang Maha Esa Yang Tidak Berbentuk sedangkan vignana adalah pemujaan kepadaNya dalam bentuk-bentuk manifestasiNya, seperti Sang Kreshna, Sang Rama, dan lain sebagainya. Yang pertama ini lebih sukar untuk rata-rata manusia sepert kita ini, Yang kedua karena berbentuk manusia maka lebih mudah bagi kita untuk memujaNya. Dalam manifestasiNya yang berbentuk maka bisa saja Yang Maha Esa dipuja dalam bentuk dewa-dewi, aspek-aspek alam seperti sang surya, rembulan, sungai, sapi atau bentuk-bentuk kosmos lainnya. Bisa juga la dipuja sebagai seorang guru, pahlawan, pendeta-suci, resi, dan simbol-simbol yang dianggap suci. Atau la dipuja dan dihayati dalam bentuk orang-orang yang menderita dan bentuk fakir-miskin yang hina-papa. Contoh: ibu Theresia yang melihatNya dalam bentuk manusia-manusia yang sangat menderita di Calcutta dan di seluruh dunia. Pemenang hadiah Nobel untuk perdamaian in berbakti kepada Yang Maha Esa dalarn dedikasinya, tanpa pamrih untuk la semata. Kata-kata ibu Theresia yang pantas dicatat adalah: Berpikirlah akan apa yang sedang kau lakukan kepadaNya, Berpikirlah akan apa yang sedang kau lakukan untukNya, Berpikirlah akan apa yang sedang kau lakukan denganNya,
2. Raja-vidya (ilmu pengetahuan yang paling agung) ini, raja-guhyam (rahasia yang paling agung) menyucikan dan amat tinggi nilainya. Dan ilmu ini bercahaya gemerlapan, harmonis dengan dharma (kewajiban); sangat mudah untuk dipergunakan dan tak dapat dibinasakan.
Ilmu ini disebut raja-vidya, karena tak dapat dipelajari di sekolah, tapi hanya dipelajari dan dihayati oleh mereka-mereka yang benar-benar terpilih untuk itu, yang ingin menguasai pikiran dan indra-indranya. Raja-vidya ini, kalau bukan diterangkan olehNya, tak mungkin kita ketahui sendiri dengan benar. Karena apakah Tuhan itu sebenarnya, hanya Ia Yang Maha Tahu. Yang kita ketahui hanyalah seperti yang diuraikan di sini sesuai dengan KasihNya pada Arjuna dan kita semuanya. Pada sloka di atas disebutkan bahwa raja-vidya ini menyucikan rasa dan pikiran kita (pavitram) dan juga amat berharga (uttaman = tinggi nilainya), karena dengan menghayati dan sadar akan arti ilmu ini, seseorang lalu tahu akan nilainya yang amat tinggi dan sebenarnya tak ternilai untuk ukuran duniawi ini yang serba materialistis.
Dikatakan juga di atas bahwa ilmu pengetahuan ini gemerlapan cahayanya (pratyakshavagamam) dengan kata lain, seseorang yang memujaNya dengan tulus akan diberkahi cahaya ilmu pengetahuan ini yang bersinar amat gemerlapan, dan juga ilmu ini harmonis atau sejalan dengan semua dharma-bhakti dan kewajiban kita kepadaNya dan masyarakat di sekitar dan di sekeliling kita, bahkan dikatakan harmonis dengan hukum kosmos yang berlaku. Ilmu pengetahuan ini juga mudah untuk diusahakan, dijalankan dan dilaksanakan. Ilmu ini mudah dipelajari karena bentuk ajarannya sebenarnya tidak memakan biaya mahal, dan mudah difahami. Juga menurut Sang Kreshna, ilmu ini tidak dapat binasa, habis atau surut, tetapi kebijaksanaan ini akan langgeng dan abadi. (Setelah beribu-ribu tahun Bhagavat Gita diturunkan di Kurukshetra maka sampai saat ini ajaran Bhagavat Gita masih relevan dan dianggap sebagai inti dari semua ajaran spiritual di dunia. Inilah salah satu bukti dari kata-kata Sang Kreshna di atas.)
3. Orang-orang yang tak beriman pada ilmu pengetahuan ini, oh Arjuna, tidak akan mencapai Aku, kembali ke jalan dunia yang binasa ini.
Ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan ini membebaskan mereka-mereka yang beriman dari semua sifat-sifat prakriti dan kegelapan yang ditimbulkan oleh Sang Maya. Para yogi yang beriman ini tidak kembali lagi ke dunia yang penuh dengan ketidak-abadian ini, tetapi bersatu bersemayam di dalam Diri Yang Maha Esa untuk selama-lamanya. Yang jadi titik penting di sini adalah iman atau kepercayaan yang teguh dan tak tergoyahkan kepada Yang Maha Esa, dan ini harus tanpa pamrih sedikitpun. Tanpa iman semacam ini tak mungkin kita mencapaiNya.
4. OlehKu dalam bentukKu Yang Tak Nyata seluruh alam semesta ini tertunjang. Setiap makhluk berakar padaKu, tetapi Aku tak berakar pada mereka.
5. Dan (tetapi) sebenarnya semua makhluk tak berakar padaKu. Saksikanlah misteriKu Yang Suci. DiriKu menciptakan semuanya, menunjang semuanya, tetapi tidak berakar pada semuanya.
Sang Kreshna dalam bentuk aslinya, yaitu Sang Brahman adalah asal-mula dari semua makhluk dan seisi alam semesta ini, dengan kata lain semua ini berakar padaNya, tinggal di dalamNya, ditunjang olehNya dan terpelihara olehNya, tetapi la sendiri tak terpengaruh oleh semua ciptaanNya ini, karena Yang Maha Esa berada di atas semua ciptaan-ciptaanNya, di ataspralaya (kiamat), di atas alam semesta. Semua sebaliknya bersandar atau bertumpu padaNya, inilah yang dimaksud sebagai Misteri Yang Agung (Yogam-aishvaram) dari Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Abadi adalah juga Sang Atman (Jati Diri Yang Sejati) yang secara universal menunjang seluruh alam semesta ini. Kita harus menyadari bahwa semua obyek dan unsur di alam semesta seperti dewa, manusia, makhluk, jin, tata-surya, tumbuh-tumbuhan, fauna, mineral, atom, elektron, ether, dan lain sebagainya adalah sebagian dari Yang Maha Suci ini. Semua yang kita dengar, lihat, rasa, adalah dariNya semata, dari Yang Maha Suci ini.  Semua yang kita dengar, lihat atau rasa adalah dariNya semata, dari ide-ideNya dan gagasan-gagasanNya (sankalpa), dari yoga-mayaNya, dari ShaktiNya Yang Maha Suci. Seyogyanyalah alam semesta ini berharga dan tinggi nilainya karena berasal dariNya juga, maka seharusnya kita melestarikan semua ciptaan Yang Maha Esa ini.  Semua berasal dariNya dan akan kembali kepadaNya.
6. Ibarat angin yang dahsyat, bergerak ke setiap arah, tetapi selalu berada di angkasa (akasha), begitupun ketahuilah olehmu, semua makhluk bersandar padaKu.
Angin selalu bergerak dan bertiup di angkasa, di langit dan di setiap spasi di bumi ini, tetapi selalu berada di situ-situ juga dan tidak pernah berupa angkasa atau langit atau spasi itu sendiri. Begitu juga halnya dengan semua ciptaanNya selalu di situ-situ juga, yaitu bersemayam di dalamNya tetapi tidak pernah mengikatNya. la yang menjadi sumber ciptaan dan kehidupan alam semesta ini dan bukan sebaliknya.
7. Pada penutupan setiap kalpa (umur dunia), oh Arjuna, semua makhluk kembali ke Sifat (Prakriti) Ku. Dan pada permulaan kalpa yang berikutnya, Ku kirim mereka kembali keluar.
8. Melalui PrakritiKu, Ku ciptakan berulang-ulang semua makhluk yang (amat besar jumlahnya ini), yang tak berdaya, karena berada di bawah kendali Sang Alam (Prakriti).
Semua makhluk datang dari Sang Maya, dari Sang Prakriti, pada saat diproyeksikan (evolusi) dan kembali ke Sang Prakriti lagi pada saat akhir setiap kalpa, dan keluar atau tercipta lagi selanjutnya pada penciptaan baru berikutnya, dan kembali lagi dan begitulah seterusnya. Semua ini adalah pekerjaan Sang MayaNya Sang Kreshna, Sang Brahman dalam bentuk asliNya. Semua terikat pada hukum alam yang diciptakanNya tetapi la sendiri tak pernah terikat pada semua itu.
9. Semua tindakan ini, oh Arjuna, tidak mengikatKu, karena Aku bersemayam jauh dari mereka (perbuatan ciptaan-ciptaan ini dan karma-karma mereka), tak terikat pada perbuatan-perbuatan ini.
10. Begitulah, diperintahkan olehKu, maka alam menciptakan semuanya, yang bergerak maupun yang tak bergerak, dan begitulah, oh Arjuna, dunia ini pun berputar.
Begitulah Yang Maha Esa menjadi sumber, pimpinan akan alam semesta ini, dan dengan perintahNya alam ini pun berputar sesuai dengan kehendakNya, tanpa Ia sendiri terlibat lagi dengan alam semesta ini dengan seluruh gerakan-gerakannya. Seluruh jajaran dewa-dewa agung seperti Vishnu, Shiva, Brahma dan lain sebagainya akan masuk kepralaya suatu saat nanti, tetapi Sang Kreshna (Sang Brahman) tak akan tersentuh oleh kejadian ini, karena Ia lah Yang Maha Mencipta dan Yang Maha Menghancurkan.
11. (Melihat Ku) dalam bentuk manusia, orang-orang yang bodoh tidak memperdulikanKu, (mereka) tak sadar akan SifatKu yang lebih tinggi, Yang memerintah sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala makhluk-makhlukNya.
Inilah salah satu rahasia abadi dari Yang Maha Esa. Dalam bentuk manifestasiNya sebagai manusia dari zaman ke zaman. la selalu tidak diacuhkan atau tidak diperdulikan oleh mereka-mereka yang tak beriman kepadaNya. Orang-orang bodoh atau yang tak sadar ini tidak mengetahui bahwa Yang Maha Pencipta ini sebenarnya adalah Yang Maha Kuasa dan memerintah atas segala makhluk-makhluk ciptaanNya, dan atas alam semesta beserta segala isinya. la adalah sesuatu Yang gaib, Yang tak nyata dan tak berbentuk, sesuatu kekuatan Yang amat dahsyat dan tak dapat dilukiskan atau diterangkan oleh manusia. Lalu timbul pertanyaan, mengapa manusia ini tersesat dan bodoh sehingga tidak sadar akan Yang Maha Esa dalam berbagai bentuk manifestasiNya? Karena nafsu, ego, dan kegelapan (boleh juga dikatakan “iblis”) yang bersarang di dalam hati mereka, karena ulah Sang Maya dan “permainannya,” sehingga mata-hati mereka tertutup untukNya.
12. Harapan-harapan mereka sia-sia saja, tindakan mereka pun sia-sia saja, ilmu pengetahuan mereka pun sia-sia saja. Jauh dari kesadaran, mereka mengambil sebagian dari sifat-sifat buruk iblis dan syaitan.
13. Tetapi jiwa-jiwa yang agung (paramahatma), oh Arjuna, yang mengambil sebagian dari sifat-sifatKu Yang Suci, memujaKu dengan iman yang teguh. Mereka sadar bahwa Aku adalah Yang Tak Terbinasakan, Asal dari segala makhluk.
Ada dua sifat atau prakriti di dunia ini, yaitu mohini-prakriti (sifat iblis) dan daivi-prakriti (sifat suci).   Mereka-mereka yang memiliki sifat yang pertama akan menjalani hidup mereka penuh dengan nafsu, dosa, polusi, sesuai dengan sifat-sifat syaitan dan iblis. Sedangkan mereka-mereka yang mengambil sifat prakriti yang kedua akan berjalan sesuai dengan sifat-sifat Yang diturunkan oleh Yang Maha Esa. Dan mereka yang terakhir ini akan memujaNya secara tulus dan sadar, dan akhirnya terserap kedalamNya.
14. Mereka selalu mengagungkan Aku, sangat tegar dan tak kenal lelah dalam tekad mereka; mereka mendatangiKu, diri mereka selalu terkendali, mereka memujaKu dengan cinta-kasih yang penuh hormat.
15. Yang lain-lainnya pun, mengorbankan pengorbanan dalam bentuk kebijaksanaan, memujaKu, sebagai Yang Esa, sebagai Yang Jauh, dan Yang Banyak JumlahNya (karena mereka melihat Ku) hadir di mana-mana.
Mereka-mereka yang bijaksana dalam pemujaan mereka kepada Sang Kreshna Yang Maha Esa, mengorbankan pengorbanan dalam bentuk gnana (ilmu pengetahuan), mereka ini melakukan gnana-yagna. Mereka sadar dan memusatkan perhatian mereka pada Yang Maha Esa sebagai Yang Tunggal dan juga sebagai Yang Banyak karena Yang Maha Esa ini hadir dalam segala-galanya tetapi la bersifat Esa.
16. Akulah pemujaan, Akulah pengorbanan, Akulah yang dikorbankan untuk para leluhur, Akulah tumbuh-tumbuhan yang menyembuhkan (penyakit), Akulah mantra, Akulah minyak (untuk pelita di kuil), Akulah Api, dan Akulah sesajen yang diapikan.
Sang Kreshna meneruskan keterangan-keterangan tentang DiriNya Yang Sejati, yang pada hakikatnya adalah Inti dari segala yang ada dan yang dilakukan oleh manusia atau alam dan isinya. Ia hadir misalnya dalam suatu yagna dan setiap aspek-aspeknya. Dan mereka yang memuja dewa-dewa, Veda-Veda dan lain sebagainya dengan ini diberi kesadaran bahwa sebenarnya mereka ini memujaNya juga secara tidak langsung.
17. Akulah Bapak dunia ini, Ibunya, Penunjangnya dan juga Kakek (Leiuhurnya). Aku lah Yang suci dan tunggal Yang harus diketahui (oleh manusia). Akulah OM, dan juga Veda-Veda, Rig, Sama dan Yajur.
Sang Kreshna atau Yang Maha Esa adalah Inti-Murni dari segala ilmu-ilmu pengetahuan suci, dan hal ini seharusnya disadari oleh manusia. la juga kata inti OM yang terdapat di Veda-Veda dan kitab-kitab suci Hindu lainnya.
18. Akulah Jalan, Penunjang, Penguasa (Tuhan), Saksi, Tujuan, Tempat Berlindung, dan Sahabat. Akulah Asal-Mula dan Akhir (Pralaya), Fondasi, Tempat Penyimpan Harta-Benda, dan Inti (Sari) Yang Tak Pernah Binasa.
Sang Kreshna adalah semua aspek dan penunjang kehidupan ini. la juga segala-galanya. la juga harta-benda sesungguhnya dan kehidupan yang tak dapat binasa. la sekaligus sahabat dan saksi kita di dalam diri kita sendiri. Ia lah permulaan kita dan akhir kita dalam arti yang sebenar-benarnya.
19. Aku memberi panas. Aku menahan dan mengirimkan hujan. Akulah Keabadian dan juga Kematian. Aku lah yang telah berlalu (tidak abadi = asat) dan keabadian (sat).
Sang Kreshna lah yang mengendalikan semua elemen-elemen di dunia ini. Ia lah Sat yang dapat disebutkan sebagai suatu zat atau keadaan yang selalu abadi. Tetapi Ia juga yang bersifat tidak abadi dan dapat binasa (asat). Semuanya Ia dan Ia semata.
20. Mereka yang mengenal ketiga Veda-Veda, yang meminum sari soma (sakramen suci) dan telah dibersihkan dosa-dosanya, memujaKu dengan pengorbanan, memohon jalan untuk ke svarga. Setelah sampai ke dunia suci Sang Indra ini (svarga-loka), mereka menikmati kenikmatan-kenikmatan suci (yang biasa dinikmati para dewa).
21. Setelah menikmati svarga-loka yang luas ini, dan setelah habis masa dan hasil pemujaan mereka, mereka kembali lagi ke dunia kebinasaan ini. Begitulah mengikuti kata-kata dalam ketiga Veda dan menikmati kesenangan-kesenangan, mereka mendapatkan sesuatu yang berlalu sifatnya (tidak abadi dan terpengaruh hukum karma).
Mereka-mereka ini tidak bisa lepas dari hukum karma. Sorgaloka (svarga-loka) bukanlah akhir dari perjalanan hidup kita, akhir tujuan kita adalah Yang Maha Esa. Yang Maha Abadi, di mana tidak ada mati dan hidup lagi untuk selanjutnya. Veda-Veda amat penting untuk dihayati, tetapi lebih merupakan jembatan ke Yang Maha Esa, dan bukan tujuan.
22. Tetapi mereka yang memujaKu dan bermeditasi kepadaKu semata, kepada mereka ini yang dirinya terkendali, Ku berikan mereka apa yang mereka tak punya dan menjamin dengan aman apa yang mereka miliki.
Hanya kepada para pemuja-pemujaNya, kepada para bhakta ini Yang Maha Esa (Sang Kreshna) memberikan kekuatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tentang DiriNya dan meniti mereka ke tangga sukses demi mencapai dan bersatu denganNya. Juga dijanjikan kepada para pemujaNya bahwa Sang Kreshna menjamin kehidupan mereka secara penuh, Ia menjaga kehidupan mereka dan memberkahi mereka dengan kebahagiaan yang abadi. Harap diperhatikan para pemuja Sang Kreshna (Yang Maha Esa) yang tulus dan sejati, secara lambat laun akan melepaskan semua kemewahan dan cara hidup mereka secara perlahan tetapi pasti akan mengarah jauh dari semua unsur duniawi, bagi mereka ini apa saja yang diterimanya terasa cukup; hidup dan pekerjaan mereka semata berupa dedikasi tanpa pamrih kepadaNya. Anehnya dalam segala kesederhanaan, penderitaan dan cobaan mereka, mereka ini selalu tampil berkecukupan dalam segala hal. Inilah yang benar-benar menakjubkan sesuai dengan janji Sang Kreshna di atas. Inilah berkahNya yang sesungguhnya di dunia fana ini. Mereka selalu tampil penuh karisma dan wibawa, menyejukkan untuk dipandang dan diikuti kata-katanya.
Para pemuja yang telah mendapatkan berkahNya ini betul-betul menjalani hidup mereka dengan hal-hal yang penuh mukjizat. Misalnya mereka tidak mungkin dapat diteluh atau diguna-gunai, mereka selalu jauh dari cobaan-cobaan yang bersifat negatif, dan bahkan alam-lingkungan disekitar mereka beserta seluruh unsur-unsur yang hadir di situ akan bersahabat dengan mereka ini. Roh-roh halus, jin, pepohonan, fauna dan lain sebagainya akan bersahabat dengan mereka dalam arti yang sesungguhnya, dan ini bisa saja dirasakan ajaib bagi orang awam yang duniawi; bagi para pemuja ini biasa-biasa saja karena mereka mi telah bersahabat dengan Yang Maha Esa secara tulus dan merasa sebagian dariNya, mereka ini juga merasa dimiliki dan jadi alatNya, maka untuk orang-orang seperti ini sudah tidak ada lagi rasa takut akan apapun juga baik secara duniawi maupun secara spiritual. Yang mereka segani hanya Yang Maha Esa, dan barangsiapa bersahabat denganNya tentunya bersahabat dengan seluruh alam semesta ini secara otomatis dan ini betul-betul suatu pengalaman yang penuh dengan “mukjizat”Nya, yang disebutkan Sang Kreshna sebagai “menjamin dengan aman apa yang mereka punyai” dan “Kuberikan kepada mereka apa yang mereka tidak miliki.” Berjuanglah untuk menjadi yogi semacam ini agar jauh kita dan tujuan yang salah. Para pemuja ini juga mendapatkan banyak ilmu spiritual dan pengetahuan yang menakjubkan dari Yang Maha Esa tanpa mereka minta, dan semua itu kemudian mereka pergunakan untuk tujuan-tujuan tanpa pamrih. Sekali mereka terbius dengan ilmu atau pengetahuan ini dan menggunakannya secara salah atau penuh dengan nafsu dan egoisme maka hancurlah meditasi dan yoga mereka. Ini disebut Siddhi, dan harus diwaspadai oleh para pemuja Yang Maha Esa karena berbentuk cobaan juga dalam bentuk spiritual.
23. Bahkan pemuja-pemuja dewa-dewa lainnya yang dengan iman mereka memuja dewa-dewa ini, mereka juga memujaKu, oh Arjuna, walau tidak dengan cara yang benar.
Bhagavat Gita adalah suatu ajaran yang unik, dan penuh dengan kebebasan memuja. Setiap orang tidak dilarang untuk memuja apa saja tetapi juga tidak dianjurkan demikian karena yang ingin diluruskan adalah pemujaan kepada Yang Maha Esa semata, tanpa menjalani jalan yang salah. Tetapi seandainya seseorang tetap mengambil jalan yang salah maka ia diberi kesadaran agar mengubah jalur yang ditempuhnya. Pesan ini berulang-ulang ditekankan di Bhagavat Gita.
24. Karena Aku ini adalah Penikmat dan Tuhan dari semua pengorbanan. Tetapi orang-orang ini tidak mengenalKu, yaitu sifatKu yang sejati, dan jatuhlah mereka ini (ke lingkaran hidup dan mati lagi).
Karena tidak mengenal sifat-sifat sejati Sang Kreshna, Yang Maha Esa, dengan baik maka banyak pemuja yang memuja dewa-dewa dan merasa sudah cukup dengan itu. Padahal dalam hakikat Yang Maha Esalah yang seharusnya dipuja agar lepas kita dari lingkaran karma dan samsara (penderitaan ini).
25. Barangsiapa yang memuja para dewa pergi ke dewa-dewa, yang memuja leluhur pergi ke leluhur, yang memuja jiwa-jiwa (roh-roh) yang rendah sifatnya (bhuta) pergi ke para bhuta ini, tetapi pemujaKu datang kepadaKu.
Dijelaskan dan ditegaskan sekali lagi oleh Sang Kreshna secara bebas dan amat demokratis tujuan pemujaan para pemuja yang bebas memuja. Silahkan dengan demikian menentukan pilihan, karena Yang Maha Esa sudah jelas sabda-sabdaNya.
26. Barangsiapa mempersembahkan kepadaKu dengan dedikasi, sehelai daun, sekuntum bunga, ataupun air, Ku terima persembahan penuh kasih itu sebagai persembahan dari hati yang suci-murni.
Sloka ini adalah salah satu sloka yang amat penting untuk dipelajari dan dihayati oleh orang yang beragama Hindu. Di sini diperlihatkan betapa besarnya Jiwa Yang Maha Esa yang tak pernah menuntut apapun juga dari kita semua untuk apa saja yang telah diberikannya kepada kita semua. BagiNya yang penting dari kita hanyalah dedikasi, iman dan kasih untukNya, dan semua itu dapat disimbolkan dalam bentuk-bentuk sederhana saja seperti daun, bunga dan lain sebagainya.  la tidak menuntut harta-benda atau yang mewah-mewah dan yang bukan-bukan. Hanya yang kecil-kecil saja yang diingatkanNya kepada kita. Maka seyogyanyalah berbakti kepadaNya dengan yang sederhana dan kecil saja seperti memperhatikan fakir-miskin dan mereka yang kesusahan di sekitar kita dengan dana yang berupa apa saja dalam bentuk yang sederhana saja kalau tidak bisa yang bentuknya malahan menyusahkan. Dengan sedikit perhatian terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan, maka setiap saat kita sudah berbakti untukNya tanpa pamrih. Nyalakan sebuah lilin kecil setiap hari dalam dirimu atau dengan kata lain jadikanlah anda sebuah batu-bata kecil untuk membangun kuilNya yang suci, atau berikanlah segenggam beras kepada sesama makhluk setiap harinya; semua pengorbanan-pengorbanan kecil demi Yang Maha Kuasa ini akan meniti kita ke pemasrahan total dan pembersihan atau pemurnian hati kita suatu waktu, dan jatuhlah kemudian berkah dan karunia Sang Maha Pengasih, Sang Maha Penyayang atas diri kita yang ‘bodoh’ dan ‘gelap’ ini, dan teranglah tujuan kita ke arahNya.
27. Apapun yang kau lakukan, apapun yang kau santap, apapun yang kau persembahkan, apapun yang kau danakan, apapun puasa (atau disiplin spiritual) yang dikau lakukan — lakukanlah itu semua, oh Arjuna, sebagai persembahan bagiKu.
Berdedikasilah kepada Yang Maha Kuasa sepenuh hatimu, dan dalam setiap tindakanmu yang merupakan tindakan demi Yang Maha Esa semata-mata tanpa parnrih. Apapun tindakan anda, apakah itu pekerjaan sehari-hari di rumah atau di kantor atau di mana saja, lakukanlah sebagai kewajiban anda kepadaNya semata dan harus tanpa pamrih yang setulus-tulusnya. Bukankah pada hakikatnya kita semua diutus ke dunia ini untuk suatu tugas, maka laksanakanlah tugas dan kewajiban kita sesuai dengan kehendakNya dan memujalah demi Ia semata. Berkata seperti di atas amatlah mudah, tetapi melaksanakan sesuatu tanpa pamrih atau keinginan pribadi adalah amat sukar. Juga seseorang dengan mudah dapat berkata bahwa semua tindakannya sehari-hari telah dikerjakannya demi Yang Maha Esa, tetapi secara sejati bekerja seratus persen demi Yang Maha Esa itu harus sesuai dengan hati-nuraninya, dan inilah faktor yang amat sukar untuk dilaksanakan. Menghayati tindakan-tindakan demi Yang Maha Esa hanya dapat dicapai dengan latihan mental yang intensif selama masa yang cukup lama (mungkin bertahun-tahun), sampai suatu saat kita betul-betul menghayati dan menyadari akan arti ajaran ini secara mumi.
Dalam berbagai ajaran spiritual maupun dalam berbagai ajaran agama sebenarnya ajaran di atas ini sudah disiratkan secara nyata, tetapi sering sekali kita lupa akan inti hal ini sebenamya. Kita lebih condong untuk bekerja, berbuat atau bertindak atau beraksi karena didorong oleh suatu pikiran agar mendapatkan apresiasi atau penghargaan dari orang-orang di sekitar kita, bahkan sering sekali sesuatu perbuatan kita lakukan agar mendapatkan status sosial yang lebih tinggi dari masyarakat di sekitar kita, biasanya perbuatan atau upacara semacam ini tidak ubahnya seperti suatu pertunjukan saja. Banyak juga tindakan kita yang didasarkan pada kebutuhan dan ego kita pribadi, pada kewajiban kita pada keluarga dan diri sendiri, dan semuanya itu kita lakukan tanpa adanya kesadaran bahwa itu sebenamya harus dilakukan demi kewajiban kita kepada Yang Maha Esa. Orang-orang yang disayangi di sekitar kita tidak lain dan tidak bukan juga sebenamya hanyalah alat-alatNya belaka, sama seperti kita juga.
28. Dengan bertindak demikian, dikau akan bebas dari tali-ikatan tindakan, dari buah baik dan buruk (hasil tindakan seseorang). Dengan pikiranmu yang teguh di jalan pemasrahan-total ini, engkau akan bebas dan datang kepadaKu.
29. Aku ini sama untuk setiap makhluk. BagiKu tak ada yang tersayang atau yang Kubenci. Tetapi mereka yang memujaKu dengan setia, mereka ada di dalamKu, dan Aku pun ada di dalam mereka.
Yang Maha Kuasa itu begitu Maha AdilNya sehingga bagiNya tak ada makhluk yang tersayang atau yang paling dibenciNya.  Semuanya sama saja bagiNya, tinggal terserah kita sendiri ini mau mendekatiNya atau menjauhiNya. Ada suatu contoh yang baik, yaitu cahaya. Cahaya ini jika direfleksikan ke sebuah cermin yang kotor dan berdebu maka cahaya yang memantul kembali itu buram atau tidak baik, sedangkan jikalau cerminnya bersih dan licin permukaannya, maka cahaya yang dipantulkannya pastilah sangat baik dan jernih. Yang Maha Kuasa adalah ibarat cahaya ini, dan kita semua adalah cermin-cermin ini. la selalu bersinar atau bercahaya ke arah kita semua sepanjang waktu dan setiap saat dengan adil dan merata, tanpa pandang bulu atau suku atau kasta. Dan sekarang tentunya terserah kita semua, ingin menjadi cermin yang berdebu dan kotor atau cermin yang kotor akibat ulah kita sendiri. Di sloka atas ini la telah menegaskan bahwa Ia sama saja kasih-sayangNya terhadap semuanya tanpa ada diskriminasi sedikit pun.
30. Walaupun seseorang yang tenggelam amat dalam di dalam dosa-dosanya, memujaKu dengan hati yang teguh, ia pun harus dikenali sebagai orang yang benar, karena ia telah beritikad secara benar.
Di dalam dosa-dosa pun bersinar Yang Maha Tak Berdosa; Yang Maha Kuasa secara adil dan merata. Ia bercahaya juga di dalam orang-orang yang kita anggap berdosa dan tak dapat diampuni. Sekali seorang semacam ini beritikad untuk mengubah dirinya ke jalan yang benar dan tunduk kepada Yang Maha Kuasa, maka ia harus dihormati dan dibantu, didoakan ke arah Yang Maha Esa, karena ia telah beritikad secara benar, dan suatu saat nanti sewaktu masanya tiba maka ia akan disucikan dan diterima di Tujuan Nan Abadi, yaitu Yang Maha Esa itu Sendiri.

31. Dan segera ia akan berubah menjadi benar dan mencapai kedamaian nan abadi. Oh Arjuna, harus kau ketahui secara pasti bahwa pemujaKu tak pernah binasa.
Seseorang yang mencintai Tuhan Yang Maha Esa “tak akan pernah tersesat jalannya,” lambat laun ia akan dituntun ke arahNya, dan kalau tersandung ia akan diangkat kembali agar lebih bergairah ia melaju ke arahNya.  Walaupun orang ini mungkin pernah menjadi seseorang yang amat berdosa, tetapi sekali ia bertobat dan lurus hatinya maka ia akan kembali kepadaNya dan dibersihkan dari segala dosa-dosanya. Dalam diri orang ini akan timbul revolusi batin yang mendorongnya ke arah spiritual dan melajulah ia kemudian menegakkan kebenaran dan dharma. Tujuan Yang Abadi selalu menanti orang-orang seperti ini.
32. Mereka yang datang dan meminta perlindunganKu, oh Arjuna, walau mereka itu lahir dari sesuatu yang berdosa, walau mereka ini wanita atau vaishya atau sudra, mereka pun mencapai Tujuan Yang Tertinggi.
Disinilah tercermin Kerendahan Hati Yang Maha Kuasa, tercermin juga KemurahanNya dan KasihNya. Memang Yang Maha Esa ini Maha Pemurah dan Penyayang sehingga jalan kepadaNya terbuka untuk siapa saja yang menginginkannya secara tulus. Adalah salah kalau ada anggapan bahwa hanya kasta Brahmana atau Kshatrya saja yang dapat mencapaiNya. Itu hanya ilusi dan peraturan buatan manusia saja, yang penuh dengan rasa egois, keserakahan, dan angkara, yang justru bertentangan dengan ajaran Bhagavat Gita dan ajaran-ajaran Hindu lainnya. Semua orang maupun makhluk tanpa kecuali dapat pergi kepadaNya, karena Ia milik semuanya tanpa diskriminasi, apalagi seseorang yang menyalakan pelita di dalam hatinya untukNya semata tanpa pamrih.
33. Apa lagi para pendeta suci dan para aristrokrat yang suci! Setelah tiba di dunia fana dan tanpa kebahagiaan ini, (seyogyanyalah) dikau memujaKu.
34. Pusatkan pikiranmu kepadaKu; berdedikasilah kepadaKu; pujalah Aku, bersujudlah padaKu. Demikianlah dengan mengendalikan dirimu, dan menjadikan Aku sebagai Tujuanmu Yang Agung, maka dikau akan datang kepadaKu.
Kepada Arjuna (dan kita semua) Sang Kreshna bersabda, bahwa sebaiknya tidak lupa kita ini hidup di dunia yang fana dan tak stabil keadaannya, di mana sebenarnya kebahagiaan yang hakiki itu tidak ada secara duniawi. Jadi sebaiknya memuja Yang Maha Esa, karena dibalik pemujaan inilah terletak rahasia kebahagiaan yang hakiki ini, yang sebenarnya tertutup di dalam DiriNya, yang disebut Tujuan Yang Agung. Kita semua akan bersatu dan bahagia di dalamNya, kalau mau kita memujaNya, menyerahkan diri dan hati kita bulat-bulat sepenuhnya kepada Yang Maha Esa — yaitu Yang Maha Pencipta, Penyayang Dan Pengasih, akhir dari perjalanan panjang hidup kita, Tujuan kita Yang Agung Dan Suci. Om Tat Sat.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, inilah bab ke sembilan yang disebut:
Rajavidya Rajaguhya Yoga atau

Ilmu pengetahuan dan Rahasia nan Agung

1. Dengarlah lagi, oh Arjuna, sabda-sabdaKu yang agung dan suci. Terdorong oleh keinginanKu untuk berbuat baik bagimu, akan Ku beritahukan kepadamu, karena engkau adalah kesayanganKu.

2. Bukan saja para dewa tetapi para resi yang suci dan agung pun tidak tahu akan asal-usulKu, karena semua dewa-dewa dan orang-orang suci itu datang dariKu.
3. Seseorang yang mengenalKu – sebagai Yang Tak Dilahirkan, sebagai Yang Tak Bermula, Yang Maha Penguasa seluruh alam semesta ini — orang ini di antara, mereka yang dapat binasa, adalah seseorang yang tidak sesat dan bebas dari segala dosa.
Di bab sepuluh ini Sang Kreshna melanjutkan keterangan mengenai DiriNya Yang Sejati, yaitu Yang Maha Esa yang tak dapat diketahui asal-usulNya, bahkan para dewa dan orang-orang suci baik di masa silam maupun sekarang ini tidak pernah akan tahu akan hal ini. Tetapi seseorang yang sadar akan KekuasaanNya, maka diantara mereka yang dapat binasa di dunia ini (para dewa, manusia dan makhluk-makhluk lainnya), orang yang bijaksana ini dianggap Yang Maha Esa sebagai seorang yang sadar dan bebas dari segala dosa. Suatu pengakuan dan penghormatan yang besar sekali nilainya dari Yang Maha Esa. Yang Maha Esa adalah asal dari segala-galanya, termasuk para dewa dan orang-orang suci. Dalam ajaran Kristiani dikatakan tentang St. Paul yang pernah berkata, “Ia adalah tanpa kelahiran dan tanpa asal-mula.” MengenalNya dari sudut berbagai agama dan ajaran sebagai Yang Maha Agung Dan Suci berarti membebaskan diri kita dari segala dosa-dosa duniawi.
4. Melihat (menilai) dengan benar, ilmu pengetahuan, tidak-berilusi, pemaaf, tidak-berbohong, kendali-diri dan ketenangan, penderitaan dan kenikmatan, kelahiran dan kematian, ketakutan dan keberanian.
5. Tak menyakiti, kedamaian dalam segala situasi, rasa puas dengan apa yang ada, tekad ke arah spiritual, keinginan untuk memberi, kemasyhuran dan kehinaan — semua hal-hal yang berbeda dari makhluk-makhluk ini terpancar dariKu semata.
Yang Maha Esa bukan saja merupakan asal-usul alam semesta ini, Yang Tak Terlihat dan Tak Terbayangkan oteh kita, tetapi juga merupakan Kekuatan Maha Dahsyat Yang Tak Terbatas di alam semesta ini. Bukan saja Ia merupakan asal-usul yang baik-baik saja tetapi la juga pencipta yang tidak baik dan negatif sifatnya yang berada di dalam pikiran dan ulah para makhluk-makhluk dan manusia ciptaanNya. Apakah itu pikiran atau situasi yang menyenangkan dan menikmatkan ataukah itu yang menyusahkan dan membawa penderitaan. Apakah itu bersifat positif maupun sebaliknya, semua itu secara jujur diakui oleh Yang Maha Esa, bahwa Ia lah sumber dari segala-galanya tanpa diskriminasi. Bukan lalu berarti bahwa Yang Maha Esa ini buruk atau negatif sifatnya, tidak! Semua itu adalah ciptaan-ciptaanNya yang diperankan atau ditugaskan pada Sang Maya, Ilusi Yang Maha Esa. la sendiri bersemayam di atas semua ilusi ini, jauh di atas Sang Maya dan tak terpengaruh sedikitpun dengan pekerjaan Sang Maya ini. Dengan semua “permainanNya,” maka Yang Maha Esa ini menunjang dan menjalankan dunia ini, memang Maha Misterius Dan Maha Gaib lah Yang Maha Kuasa ini dengan segala Kekuatan dan Kasihnya Yang Tak Terbatas itu. Om Tat Sat.  Om Shanti, Shanti, Shanti.
6. Ketujuh orang suci yang agung, keempat orang pada masa yang silam, juga para Manu, dilahirkan dari sifat dan pikiranKu, dari merekalah mengalir ras manusia ini.
Dari sifat-sifat dan pikiran agung dan suci Sang Kreshna inilah mengalir manusia-manusia agung dan dewa-dewa yang kemudian menjadi cikal-bakal dari manusia dewasa ini. Ketujuh orang yang disebut di atas adalah orang-orang suci yang penuh dengan kesadaran Ilahi, nama dari yang pertama adalah Bhrigu dan yang terakhir disebut Washita, dan dianggap dalam agama Hindu sebagai para guru kebijaksanaan di masa yang silam. Dan keempat orang yang disebut sebagai manusia-manusia di masa silam adalah empat orang Kumara (yaitu perjaka-perjaka yang tak pernah melakukan hubungan seksual), yang lahir dari pikiran Yang Maha Esa, dan disebut juga nama-nama mereka: Sanata, Sanaka, Sanatana dan Sanandana. Para orang suci (resi), para Manu (asal kata dari manusia pertama), dan para Kumara ini adalah cikal-bakal dari manusia di dunia ini. Merekalah alat-alat Yang Maha Kuasa di dunia pada masa yang silam, pada masa permulaan peradaban manusia.
7. Seseorang yang tahu dengan benar akan keagungan dan kekuatanKu ini akan terhubung denganKu oleh yoga yang tak tergoyahkan; dan hal ini sudahlah pasti dan tak usah diragukan lagi.
Vibuthi adalah kata Sansekerta yang digunakan di atas untuk mengartikan kekuatan, kata ini sebenarnya dapat diartikan dua, yaitu kekuatan atau kekuasaan Yang Maha Esa dan juga dapat berarti kelanggengan atau kehadiran yang abadi atau juga berarti “mengalir dari.” Dalam bab ini Sang Kreshna menerangkan kepada Arjuna tentang keagungan dan kekuatan serta kekuasaanNya di alam semesta ini, tentang kehadiranNya Yang Langgeng Dan Abadi dalam setiap unsur di dunia ini, tentang DiriNya Yang Selalu berada di dalam posisi tertinggi yang berhubungan dengan setiap hal dan unsur, ini berarti suatu bentuk keagungan Yang Tiada Taranya. Sang Kreshna pun menjelaskan akan kehadiranNya sebagai suatu unsur Shakti (Kesaktian) dalam segala hal dan faktor di alam semesta ini, yang tanpa itu tak mungkin setiap faktor bisa melanjutkan fungsinya masing-masing.
8. Akulah Sumber dari segala-galanya; dariKu datang seluruh penciptaan ini. Menyadari hal ini, mereka yang bijaksana memujaKu dengan dedikasi yang penuh dengan kebahagiaan.
9. Pikiran mereka terpusat kepadaKu, hidup mereka meresap dalam DiriKu, sambil saling menolong di antara mereka, mereka ini selalu memperbincangkan Aku, (mereka ini) selalu merasa cukup dengan apa adanya dan penuh dengan rasa kesentosaan.

1. Dengan kasih-sayangMu Dikau telah menyibakkan rahasia nan agung mengenai Jati Diri (Sang Atman), dan sabda-sabdaMu telah menghapus kebodohanku.
Sang Arjuna rupanya telah mulai sadar, dan pupus atau hapus sudahlah kebodohannya yang berbentuk moha (keterikatan, pada sanak-keluarga). Sabda-sabda Sang Kreshna bahwa Ia lah Sang Brahman, Sang Atman Yang Hadir dalam setiap unsur dan makhluk dan selalu bersifat abadi, membuat Sang Arjuna dipenuhi oleh rasa aman, damai, tentram dan sentosa. Sadarlah ia dari kegelapan yang selama ini menyelimutinya, dan tak ragu-ragu lagi ia menghadapi perang Baratayudha yang ada dihadapannya. Bukankah sebenarnya setiap saat, setiap hari adalah perang besar antara kita manusia dengan lingkungan disekitar kita, dengan hati-nurani kita, dengan keserakahan kita dan orang lain dalam berbagai bentuk seperti moha, loba, ahankara dan sebagainya.

2. Aku telah mendengar dariMu secara penuh, oh Kreshna, tentang kelahiran dan kematian yang ada, dan juga tentang keagunganMu yang tak terbinasakan.
3. Dikau adalah, oh Tuhan, Yang Maha Kuasa, seperti yang Dikau katakan tentang DiriMu. Tetapi aku berhasrat melihat bentukMu yang agung dan suci, oh Purushottama (manusia yang terutama).
4. Seandainya Dikau menghendaki, oh Tuhan, bahwa olehku dapat terlihat, maka bukakanlah kepadaku, oh Yang Maha Memiliki llmu pengetahuan (yoga), bentuk diriMu yang tak terbinasakan.
Arjuna yang selama ini telah mendengarkan sabda-sabda suci Sang Kreshna mengenai kelahiran dan kematian semua yang ada di dunia ini dan juga mengenai diri Sang Kreshna sendiri yang tak lain dan tak bukan adalah Yang Maha Esa Sendiri dengan segala-segala tindakan-tindakanNya yang kreatif dan penuh kasih terhadap semua makhluk, sekarang ini berhasrat sekali untuk melihat sendiri atau untuk membuktikan apa yang telah didengarkannya selama ini. Melihat dan membuktikan memang lebih meyakinkan daripada mendengarkan, maka Arjuna pun memohon Sang Yogeshwara (Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Pemilik Semua Ilmu Pengetahuan) agar sudi diperlihatkan kepadanya bentukNya yang suci dan agung itu, yang tak terbinasakan. Arjuna ingin sekali melihat Sang Kreshna dalam bentukNya sebagai Parameshvaram dan Purushottama, yaitu sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa dan Agung, dan juga sebagai Manusia Yang Maha Kuasa dan Agung (Vishnu).
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
5. Saksikanlah, oh Arjuna, bentukKu yang beratus-ratus dan beribu-ribu jumlahNya (rupaNya), yang suci, yang tak terhitung warna-warni dan bentuk-bentukNya.
6. Saksikanlah para Aditya, para Vasu, para Rudra, kedua Ashvin, dan para Marut. Saksikanlah, oh Arjuna, keajaiban-keajaiban yang tak pernah terlihat sebelum ini.
7. Saksikanlah hari ini, oh Arjuna, seluruh alam semesta dan isinya yang bergerak dan yang tak bergerak, dan apapun juga yang ingin dikau saksikan – semua terpusat pada tubuhKu.
Sang Kreshna segera menerangkan kepada Arjuna tentang bentuk-bentuk dan rupa-rupa yang akan segera disaksikan oleh Arjuna, yaitu yang tak terhitung jumlahnya dan bentuknya, maupun warna-warninya, yang merupakan gabungan dari para dewa seperti Aditya, yaitu dewa-dewa yang ada hubungannya dengan matahari, Vasu, Rudra (dewa-dewa malapetaka), Ashvin (dewa penolong orang-orang sakit yang dikenal sebagai tabib-tabib suci), Marut dan ciptaan-ciptaanNya yang terkecil dan tak terlihat oleh manusia. Sang Kreshna pun dengan senang hati ingin memperlihatkan kepada Arjuna bentuk-bentukNya yang bergerak dan tak bergerak bahkan seluruh kosmos (alam semesta) yang terkonsentrasi atau terpusat pada DiriNya Tetapi penyaksian Ilahi semacam ini tidak mungkin terlihat dengan mata duniawi, maka Sang Kreshna pun segera memberikan mata suci (divyam chakshuh) kepada Arjuna agar terlihat olehnya semua bentuk-bentuk suci dari Yang Maha Esa olehnya. Mata suci sebenarnya adalah matanya seorang mistik, seorang yang sudah sadar dan dapat “melihat kedalam.” Ini mengingatkan kita kepada salah seorang nabi bangsa Yahudi yang pernah memohon kepada Yang Maha Esa, “Tuhan, bukalah matanya agar ia dapat melihat.” Dan hal ini berlaku untuk kita semuanya, mohon dan berdoalah selalu kepada Yang Maha Esa agar dibukakan mata dan hati kita agar dapat kita melihat dan menyadari atau mengenalNya secara sejati. Sebenarnya semua jalan ke arah Yang Maha Esa sudah tersedia di sekitar kita, yang diperlukan hanyalah “membuka mata” kita sedikit saja.
8. Tetapi, sebenarnya, dikau tak akan dapat meyaksikanKu dengan mata duniawimu ini, makaKu berkahkan kepadamu mata suci. Saksikanlah yogaKu Yang Maha Dahsyat (kekuatan yang suci dan agung).
Sekarang tibalah saatnya Arjuna melihat bentuk Yang Maha Suci dan Agung di dalam diri Sang Kreshna. Di dalam diri Sang Kreshna nampak terpusat seluruh alam semesta dan semua itu terbuka untuk dilihat oleh Arjuna, dengan mata Ilahi yang dikaruniakan oleh Sang Kreshna.
Berkatalah Sanjaya:
9. Setelah bersabda demikian, oh raja, Yang Maha Agung dan Maha Menguasai Yoga, Hari (Sang Kreshna) kemudian membukakan diriNya Yang Maha Agung, Suci dan Perkasa kepada Arjuna.
Sang Kreshna yang disebut Mahayogeshvara (Yang Maha Mengetahui Yoga) kemudian memperlihatkan diriNya Yang Amat Dahsyat dan Penuh dengan keajaiban-keajaiban yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
10. Dengan jumlah mulut dan mata yang tak terhitung banyaknya, dengan jumlah keajaiban-keajaiban yang tak terhitung nampaknya, dengan jumlah hiasan badan nan suci yang tak terhitung jumlahnya dan dengan senjata-senjata Ilahi yang tak terhitung banyaknya yang semuanya terlihat terangkat;

Berkatalah Arjuna:
1. Apakah Brahman itu (Yang Abadi)? Apakah itu Adhyatman’? Dan apakah itu karma (aksi), oh Kreshna? Apakah itu yang disebut Adhibhuta yang dikatakan sebagai inti semua elemen? Dan apakah Adhidaiva yang disebut sebagai inti dari para dewa?

2. Siapakah yang mendasari pengorbanan (adhiyagna) di dalam raga ini dan bagaimanakah caranya, oh Kreshna? Dan dengan cara apa Dikau dapat dikenali oleh seseorang yang penuh kendali di saat kematian?
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
3. Yang Tak Dapat Dihancurkan, Yang Maha Agung disebut Sang Brahman. Svabhava (Sang Jati Diri atau Sang Atman yang bersemayam dalam jiwa kita) disebut Adhyatman. Tenaga (atau kekuatan) kreatif yang menciptakan semua makhluk dan benda disebut Kama.
4. Yang menjadi inti dari semua benda dan makhluk (yaitu Adhibhuta) sifatnya dapat binasa. Yang menjadi inti para dewa adalah Jiwa Kosmos. Dan Arjuna, di dalam raga ini, Aku Sendiri (sebagai Saksi di dalam) adalah Adhiyagna.
Pada bab tujuh yang baru lalu, diterangkan tentang para kaum bijaksana (gnani) yang mengenal Sang Kreshna sebagai Yang Maha Utuh. Mereka ini telah berhasil mengalahkan kematian dan mendapatkan kebijaksanaan (gnana) atau ilmu pengetahuan sejati. Mereka-mereka ini tahu dan kenal apa itu: (1) Sang Brahman, (2) Adhyatman, (3) Adhiyagna, (4) Karma, (5) Adhibhuta, (6) Adhidaiva dan (7) Abhyasa Yoga. Dan sekarang ketujuh istilah ini diterangkan Sang Maha Pengasih, Sang Kreshna. Berikut adalah penerangan dari istilah-istilah ini:
Brahman     Adalah Yang Maha Agung dan Suci, Yang Tak Terbinasakan, atau Tuhan Yang Maha Esa dan Abadi. Yang Maha Esa berada di atas semua veda-veda suci dan sifat-sifat alami (Prakriti). la berada di atas semua benda, makhluk dan obyek-obyek duniawi (alam semesta).
Adhyatman   Di manakah seseorang dapat menemui Brahman? Temuilah Sang Brahman di dalam dirimu sendiri, di dalam relung jiwamu yang disebut Atman atau Adhiyatman, Sang Inti Jiwa yang berada di dalam jiwa kita sendiri, dengan kata lain, dapat disebut Sang Jati Diri. (Perhatikanlah bahwa Sang Atman sebenarnya adalah Jiwa di dalam jiwa kita sendiri Sang Inti Jiwa),
Karma            Bagaimanakah Sang Adhyatman dapat masuk dan bersemayam di dalam diri kita ini? Prosesnya disebut Visarga, yaitu energi murni yang dipancarkan oleh Yang Maha Esa. Inilah yang disebut karma yang murni dan sejati, pancaran yang penuh dengan pengorbanan, kasih-sayang dan pemberian dariNya (tyaga) untuk kita semuanya. Yang Maha Esa memberikan (mengorbankan) DiriNya melalui Sankalpa, yaitu dengan berkehendak – “Aku menjadi banyak!” Dan terjadilah proses, dan dariNya bermulalah semua bentuk benda dan kehidupan-kehidupan ini. Yang Maha Esa lah sumber dari semua ini, dan inilah yang dimaksud dengan karma yang sejati, yaitu asal-mula sesuatu benda atau makhluk, sebuah proses kehidupan dengan segala pola-pola yang beraneka-ragam tanpa ada habis-habisnya dan juga reinkarnasi. Dan karma ini menjadi suatu peraturan atau tata-cara dalam kehidupan di alam semesta ini. Karma adalah suatu peraturan alami yang tegas: “Apa yang kita tabur itu juga yang akan kita tuai,” dan peraturan ini berlaku untuk semua tindak-tanduk dan proses kehidupan kita di mana saja dan kapan saja.
Karma adalah energi dari evolusi, dan karma inilah yang melahirkan makhluk-makhluk (bhuta) dan evolusi kehidupan mereka selanjutnya lagi. Karma menciptakan suatu proses kemajuan yang berkesinambungan melalui penderitaan. Kemajuan ini adalah salah satu anak tangga manifestasi untuk menemukan Jati Diri kita sendiri. Begitulah seseorang dituntun langkah demi langkah ke arah kesempurnaan. Dan kesempurnaan itu dicapai melalui penderitaan dulu, dengan kata lain melalui suatu pengorbanan dalam arti yang amat luas (yagna).
Salah satu rahasia dalam sejarah atau evolusi kehidupan ini adalah pengorbanan, dan Sang Pemberi Inspirasi atau PemulaNya adalah Yang Maha Esa yang disebut dengan nama
Adhiyagna    Korbankanlah jiwamu demi mendapatkan jiwa yang baru, begitulah inti dari ajaran-ajaran para nabi (orang suci) di zaman dahulu. Adhiyagna   berarti Pemula atau Asal-Usul dari semua tindakan pengorbanan di dunia ini. RagaNya adalah Pengorbanan Kosmos dan dari pengorbanan ini bermula dan hiduplah semua makhluk di alam semesta ini, dan la hadir dalam semuanya dalam bentuk yang tak terlihat oleh mala, sebagai saksi dan penuntun kita semuanya, la Abadi. Suci, Agung dan selalu penuh dengan pengorbanan yang didasari oleh cinta-kasih, dan kalau dipikirkan dengan baik maka sebenarnya semua raga ini adalah “kuil-kuil yang suci” yang di dalamnya terdapat pelita yang hidup oleh apiNya, api Yang Maha Kuasa.
Adhibhuta    adalah   Adhipati,   yaitu  Yang  Maha Esa, yaitu inti dan dasar dari segala makhluk, unsur, benda yang dapat binasa, Ishavasyam idam sarvam sebut kitab suci Ishopanishad yang berarti semua ini adalah baju atau pakaian Yang Maha Esa. Alam semesta beserta seluruh isinya sebenarnya adalah suci dan adalah kuil kita untuk mencapai Yang Maha Esa, Sang Maha Pencipta. Dunia ini adalah ajang kita untuk kembali lagi kepadaNya.
Adhidaiva   adalah Adhipati, yaitu kekuatan Ilahi yang bersinar dalam dewa-dewa dan merupakan inti dari dewa-dewa ini. la jugalah Purushanya para dewa. la juga Prathama Purusha yang bercahaya di dalam diri mereka. la Tuhannya para dewa, la disebut juga Hiranyagarbha Puntsha (yaitu, Purusha Emas nya) para dewa. la juga Prajapati yang Suci, la juga Sutra-Atma, yaitu Nafas AgungNya para dewa (Prana-Purushd). Para dewa adalah “organ” tubuhNya, Ialah Kekuatan Kreatif, Ialah Jiwa Yang Maha Suci — Ialah semuanya yang bercahaya di alam semesta ini dari ujung ke ujung tanpa ada habis-habisnya.
Keenam pertanyaan Arjuna di atas telah terjawab oleh Sang Kreshna, dan sekarang Sang Kreshna masuk ke pertanyaan yang ke tujuh, yaitu apakah Yoga itu yang dilakukan oleh seseorang pada saat anlakala (saat kematian menjelang tiba), dan bagaimana mencapai Yang Maha Esa?
5. Seseorang pada saat meninggalkan raganya, maju terus, bermeditasi terpusat kepadaKu semata; pada saat kematian, ia akan mencapai TempatKu Bersemayam (Madbhavam). Jangan kau ragukan itu.
6. Barangsiapa, oh Arjuna, sewaktu meninggalkan raganya, memikirkan sesuatu benda (bhavam) tertentu, maka ia akan pergi ke benda itu, terserap selalu dalam pikiran itu.
Inilah hukum atau peraturan kosmos (atau Yang Maha Esa) yang berlaku di dalam agama Hindu, yang sekali lagi ditegaskan oleh Sang Kreshna. Yaitu, barangsiapa pada saat-saat akhir ajalnya memikirkan Yang Maha Esa semata maka kepadaNya ia akan pergi dan bersatu denganNya. Barangsiapa memikirkan benda-benda atau unsur-unsur lainnya yang bersifat duniawi atau sorgawi maka ke sanalah ia akan pergi. Apapun yang terpikirkan pada saat-saat kematian itulah yang akan dicapainya pada kelahiran yang berikutnya. Misalnya seseorang pada saat-saat kematiannya, pikirannya terikat pada bentuk duniawi seperti ayah, ibu, saudara, teman, istri, harta-benda, kemashuran, laba dan lain sebagainya, maka ia akan kembali lagi ke dunia ini untuk menyelesaikan karma-karmanya yang berhubungan dengan yang dipikirkannya itu. Misalnya ia berpikir akan sorga dan segala kenikmatan-kenikmatan yang ada di sana, pada saat menjelang ajalnya, maka ia akan ke sorga untuk menjalani karmanya di sana. Misalnya pada saat akhir kematiannya, ia berpikir dan terpusat seluruh pikirannya dengan tulus ke pada Yang Maha Esa, maka ke sana juga ia akan pergi selama-lamanya.
Inilah hukumnya: bhava (atau pikirannya) yang mendominasi pada saat akhir akan menjadi tujuan terakhir orang yang meninggal dunia ini. Seandainya setiap hari atau setiap saat dalam hidup, kita selalu memusatkan tindak-tanduk dan pikiran kita ke arahNya dan demi Ia semata, maka pada saat akhir pun semua pikiran secara otomatis akan terpusat kepadaNya, dan denganNya kita pasti akan bersatu.
7. Maka seyogyanyalah, setiap saat, berpikirlah tentang Aku dan berperanglah! Kalau pikiran dan pengertianmu terpusat kepadaKu, dikau pasti akan datang kepadaKu.
Karena sudah hukumnya begitu; bahwa seorang yang pada akhir hayatnya berpikir akan suatu obyek duniawi maka akan pergi ke situ juga setelah habis kehidupannya, maka di sloka di atas ini Sang Kreshna bersabda pada Arjuna sebagai berikut: (1) “Setiap saat (senantiasa) berpikirlah tentang Aku” dan (2) “Berpikirlah tentang Aku dan berperanglah!” Diuraikan sebagai berikut:
1.  Setiap saat berpikirlah tentang Aku — berarti dunia ini atau kehidupan ini bagi manusia sifatnya sebenarnya tidak langgeng, dan kita tak pernah tahu bila kita akan mati dan kalau saat-saat kematian tiba-tiba datang, dan seandainya kita sudah bersiap-siap dengan selalu memikirkan Yang Maha Esa, maka kita pun akan segera pergi ke arahNya dengan lurus. Dan sebaliknya kalau sehari-hari yang menjadi pikiran hanya obyek-obyek duniawi dengan segala kesenangan dan penderitaan saja, maka kita pun akan pergi ke obyek-obyek duniawi ini, saat sang kala tiba-tiba datang meyergap tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
2. Berpikirlah tentang aku dan berperanglah! — pada Sang Arjuna, Sang Kreshna menganjurkan untuk berperang! Mengapa? Karena Arjuna adalah seorang Kshatrya yang berkewajiban untuk berperang demi nusa-bangsanya, dan demi tegaknya kebenaran. Dan cara berperang itu harus berdasarkan dedikasinya kepada Yang Maha Esa (“Berpikirlah tentang Aku”)- Itulah tugas atau dharma atau svadharma kita semua, berjuang sesuai dengan tugas dan status kita di dunia agar tercapai pembersihan batin kita. Seorang guru bekerja semestinya sebagai guru dan seorang pedagang sebagai pedagang dan tidak mencampur-adukkan status dan kewajibannya, sesuai panggilan nuraninya.
Yang paling penting untuk diperhatikan adalah bahwa kita harus dan selalu berpikir akan Ia dan bekerja sesuai dengan kewajiban kita; mengingkari kewajiban atau lari dari kewajiban seberapa kecilpun berarti dosa. Sedangkan tidak berpikir akan Yang Maha Esa akibatnya adalah kerugian yang maha besar bagi kita juga, karena lingkaran karma akan membelit kita terus-menerus.
8. Seseorang yang pikirannya tidak mengembara (kesana-kemari), yang selalu bermeditasi, jalan pikirannya selaras dengan usahanya yang terus-menerus, ia, oh Arjuna, pergi ke Paraman Pususham Divyam, yaitu la Yang Maha Agung dan Maha Suci.
9. Ia memujaNya sebagai Yang Maha Mengetahui, sebagai Yang Selalu Hadir Semenjak Masa Yang Amat Silam, sebagai Yang Maha Penguasa, sebagai Yang Maha Tercepat, sebagai Yang Maha Memelihara kita semua, sebagai Yang BentukNya Tak Dapat Dimengerti oleh manusia dan makhluk-makhluk lainnya, tetapi la Terang Benderang bagaikan Sang Surya dan jauh dari semua kegelapan.
10. Pada saat kematiannya dengan tekad dan pengabdian yang kuat, dengan tenaga yoganya, ia menahan nafas kehidupan pada spasi diantara kedua alis matanya, dan ia mencapai Yang Maha Agung dan Yang Maha Suci.
Cara mencapai Yang Maha Esa (Saguna Avyakta Divyarupa) diterangkan sebagai berikut: Sang Yogi harus selalu mengendalikan jalan pikirannya, dan memusatkannya kepada Yang Maha Esa, dengan senantiasa berbuat ini, maka secara konstan ia akan mengenal yang Maha Esa dan merasakan kehadiranNya senantiasa dalam suka dan duka, dan akibatnya tidak akan pergi ke dewa-dewa atau obyek-obyek lainnya. Disebutkan bahwa seseorang yang senantiasa terpusat kepada Yang Maha Esa, rnaka pada waktu ajalnya dapat dilihat dari wajahnya yang diibaratkan seperti cermin dari Yang Maha Esa. Dikatakan bahwa orang semacam ini telah terserap jiwa-raganya ke dalam Yang Maha Esa. Yang Maha Kuasa (Paramam Puntsham Divyam) disebut juga Svampa, yaitu Yang memiliki berbagai nama (ada 1.000 nama untuk Yang Maha Esa di dalam agama Hindu). Misalnya la disebut Kavi (Yang Maha Bijaksana), Sarvagna (Yang Maha Mengetahui), Yang Maha Hadir, Tuhan dari para resi dan penyanyi lagu-lagu suci. la disebut juga Pranam (Yang Mula), la disebut juga Sarva Shaktivan (Yang Maha Pengatur Segala-galanya). la lah Yang Terlembut diantara yang terlembut, la lah Yang Terkecil diantara yang terkecil.  la lah Maha Penunjang, Pemelihara, Yang Menjadi Tempat kita tinggal, Yang Menjaga kita semua. la lah Bentuk Yang Tak Dapat Digambarkan (Achintatyarupam), Yang tak dapat dibayangkan oleh seorang pun, sebuah Bentuk diluar pikiran dan daya intelektual manusia, tetapi la juga yang bersinar seperti mentari yang paling terang diantara jajaran mentari-mentari lainnya. la bersemayam jauh dari segala kegelapan baik kegelapan dalam bentuk duniawi maupun dalam bentuk spiritual.
Pada saat kematian sang yogi ini, maka ia dengan penuh ketulusan dan iman yang tanpa dibuat-buat memusatkan nafas kehidupannya diantara kedua alis matanya. Yogi semacam ini akan meninggal dunia dengan amat tenang dan dalam ketenangan ini ia menuju ke Yang Maha Suci. la tak akan kembali ke dalam lingkaran hidup dan mati !agi, kecuali memang ia sendiri yang menghendakinya untuk tujuan-tujuan kemanusiaan tertentu yang diingininya.
11. AkanKu beritahukan kepadamu sesuatu dengan jelas – yaitu sesuatu yang oleh para pengenal Veda disebut Aksharam (Tak Terbinasakan), sesuatu yang dituju oleh para pengendali nafsu (atau yang telah bebas dari nafsu), sesuatu yang diperjuangkan dan dituju oleh para bramacharin (yang tidak menikah).
12. Menutup semua pintu-pintu raga (lubang-lubang indra), memusatkan pikiran di dalam hati, nafas dipusatkan di kepala, bertindak teguh dalam konsentrasi yoga.
13. Menyebut satu kata OM–Sang Brahman Yang Abadi – hidup di dalamKu (dalam aspekKu yang sempurna, yaitu aspek Sang Brahman), maka ia yang pergi meninggalkan raganya, pergi ke Tujuan Yang Tertinggi.
Diterangkan di sini cara-cara mencapai Yang Maha Esa (Nirguna Para Brahman) pada saat-saat kematian seseorang. Para ahli Veda menyebut Yang Maha Esa sebagai Yang Tak Terbinasakan, dan ke dalamNya menujulah para resi dan orang-orang suci dan orang-orang yang mengendalikan nafsunya. Semuanya menuju arah yang sama untuk mencapaiNya. Para yogi ini pada saat-saat kematian mereka menutup pintu-pintu indra mereka (yaitu lima gnana-indra dan lima karma-indra), dan jalan pikiran dipusatkan ke dalamNya, dan inilah yang disebut pratyahara. Mereka mengunci pikiran dan nafsu mereka di dalam hati mereka yang disebut hridaya kamala (di antara nabhi dan kantha). Para yogi ini juga memusatkan nafas kehidupan di kepala dan ini disebut dharana. Dengan konsentrasi yoga yang penuh mereka ini menyebut dan memuja secara mental satu patah kata OM yang menjadi simbol dari Yang Maha Esa (Para Brahman). Mereka ini memuja Sang Kreshna sebagai manifestasi dari Sang Brahman, dan melepaskan raga mereka dengan tenang. Para yogi yang meninggal dunia ini menuju ke Brahma-Nirvana, dan bersatu denganNya.
14. Arjuna, seseorang yang senantiasa berpikir tentang Aku dengan pikiran yang tak tertuju kepada yang lain – ia, sang yogi ini yang disebut nitya-yuktah (selalu harmonis dan terserap di dalam Ku) – akan mudah mencapaiKu.
15. Orang-orang yang sempurna ini — jiwa-jiwa yang agung, para mahatma ini — sekali mencapaiKu, tak akan lahir kembali, ke tempat duka, yang tak abadi. Mereka ini telah mencapai Karunia Yang Tertinggi (Kesempurnaan Yang Tertinggi).
16. Arjuna, semua loka ini, sampai ke Brahmaloka — muncul dan hilang; loka-loka ini datang dan pergi. Tetapi seseorang yang datang kepadaKu, ia tak akan mengenal kelahiran lagi.
Apakah yoga-yoga di atas oleh para pembaca dianggap sukar? Apakah yoga atau cara mencapai Yang Maha Esa (Nirguna Para Brahman atau Saguna Parameshvaram, banyak nama untukNya, tetapi la Maha Tunggal) ini sukar untuk dicernakan? Maka ambillah jalan yang paling mudah seperti yang diajarkanNya, yaitu, “Berpikir tentang Aku tanpa memikirkan dewa-dewa atau tuhan lainnya. Lihatlah Aku penuh dengan iman dan kasih. Terseraplah selalu di dalam DiriKu.”
Dan barangsiapa sekali mencapaiNya maka tak akan ia lahir kembali ke dunia ini, yang penuh penderitaan dan tak abadi ini. la yang pergi kepadaNya akan mencapai kesempurnaan yang abadi dan penuh dengan karuniaNya. Barangsiapa memuja para dewa mereka akan pergi ke loka-loka para dewa ini, tetapi loka yang tertinggi seperti Brahmaloka saja tak lepas dari karma, dapat timbul dan dapat tenggelam (hilang) karena ada masa-masanya. Tetapi Yang Maha Esa tak terpengaruh oleh waktu dan karma, maka barangsiapa mencapaiNya maka akan bersatulah ia denganNya dan tak lahir dan hidup kembali ke dunia yang penuh dengan derita ini.
17. Mereka-mereka yang tahu (dari kesadaran) bahwa satu hari Brahma sama dengan seribu yuga, dan satu malam Brahma sama dengan seribu yuga lainnya — hanya mereka saja yang tahu akan hari dan malam (maksudnya, hanya mereka yang tahu akan kebenaran waktu).
18. Pada harinya Brahma, semua yang nyata ini mengalir keluar dari tubuh halus Sang Brahma yang tidak nyata. Dan menjelang malamnya Sang Brahma semua ini kembali menyerap ke tubuh halus Sang Brahma yang tidak nyata (tubuh Sang Brahma yang sama juga).
19. Arjuna, makhluk-makhluk yang melimpah-ruah ini pergi secara terus-menerus (lahir dan lahir lagi), dan tanpa daya terserap lagi menjelang tibanya malam (Sang Brahma). Dan lagi pada pagi harinya makhluk-makhluk yang melimpah-ruah ini mengalir keluar lagi.
Semua loka-loka termasuk loka-loka para dewa, dan bahkan loka yang tertinggi Sang Brahma terbatas pada hukum ‘ada’ dan ‘tidak ada,’ yaitu hukum karma. Semua loka ini terikat pada tahap-tahap tertentu yang berkaitan dengan hukum kosmos (alam semesta). diantaranya adalah tahap atau waktu tertinggi, yaitu waktunya Sang Brahma yang dikatakan dalam agama Hindu sebagai berikut: satu hari atau satu malam waktu di Brahmaloka sama dengan seribu yuga, dan satu yuga sendiri adalah suatu kurun waktu yang amat luas jika dibandingkan dengan waktu di bumi ini; suatu kurun waktu yang seakan-akan tidak ada batasnya, mungkin bermilyar-milyar tahun atau berjuta-juta tahun. Toh kurun waktu ini (Brahmaloka) masih saja berada dalam lingkupan karma, jadi masih dapat datang dan pergi atau dengan kata lain masih dapat mati dan hidup lagi. Barang siapa menyadari fakta ini, betul-betul akan menghayati kehadiran Yang Maha Esa secara sejati. Yang dimaksud dengan datang dan pergi dari tubuh Sang Brahma ini adalah: dunia ini beserta isi dan makhluknya yang terbentuk pada pagi harinya Sang Brahma, yang adalah dewa pencipta dunia ini beserta segala isinya, dan kemudian kembalinya para makhluk ke dalam diri dewa ini disebut pralaya, yaitu hari kiamat. Jadi dengan kata lain dari penciptaan dunia sampai ke akhirnya dunia ini memakan waktu satu hari dan satu malamnya Sang Brahma. Untuk ukuran bumi, hanya Yang Maha Esa yang tahu sebenarnya betapa luasnya kurun waktu tersebut. Dan begitulah seterusnya, setelah pralaya maka diciptakan lagi dunia yang baru beserta segala isinya pada hari berikut Sang Brahma, dan ini berulang-ulang sesuai dengan kehendak Yang Maha Esa. Dikatakan juga bahwa di dunia ini semua makhluk hidup dan mati lagi secara berulang-ulang (reinkarnasi), dan dengan begitu sebenarnya tak ada kreasi kehidupan yang baru, yang ada hanyalah daur-ulang saja dari elemen yang sama, yang itu-itu juga, sesuai dengan karma makhluk-makhluk ini, sampai suatu saat mereka lepas dari lingkaran karma dan mencapai Yang Maha Esa, di mana tak akan ada kehidupan dan kematian lagi. Dan selama belum mencapai Yang Maha Esa, maka semua makhluk ini akan selalu berada dalam lingkaran Sang Prakriti dan akan selalu mengalami suka dan duka yang diakibatkan oleh guna (sifat-sifat alami), dan masa karma  ini bisa berlangsung amat lama.
20. Sebenarnya lebih tinggi dari yang tidak nyata (Sang Brahma) ini ada lagi Yang TIDAK NYATA, yaitu Yang Maha Suci dan Abadi, Yang tak dapat hancur sewaktu yang lain-lainnya dihancurkan.
21. Yang TIDAK NYATA ini disebut Yang Tak Terbinasakan, la lah yang disebut sebagai Tujuan Yang Tertinggi. Mereka yang mencapaiNya tak akan pernah kembali. Itulah tempatKu bersemayam nan agung.
22. Ia, Purusha Yang Tertinggi (Jiwa), oh Arjuna, hanya dapat dicapai dengan dedikasi yang tak tergoyahkan. Di dalamNya semua makhluk-makhluk ini berdiam dan olehNya semua ini (alam semesta beserta isinya) terpelihara.
Sang Brahma Disebut sebagai yang tidak nyata, tetapi ia pun masih berada dibawah pengaruh prakriti. Di atas Sang Brahma ini hadir Yang TIDAK NYATA, yaitu yang sifatNya lebih tinggi dari Sang Brahma dan tidak terpengaruh oleh prakriti. la lah Yang Maha Esa, Sang Pencipta dari prakriti itu sendiri, Yang mencipta seluruh alam semesta ini beserta segala isinya, Yang Maha Abadi, yang Maha Kuasa. Ia lah tujuan terakhir kita semuanya, yang mempunyai bermacam-macam nama tetapi Tunggal dalam penghayatan. Yang Maha Esa ini mudah dicapai hanya dengan cinta-kasih dan dedikasi yang tulus yang terpancar dari sanubari kita senantiasa tanpa henti hentinya.
23. Sekarang akan Kusabdakan kepadamu, oh Arjuna, waktu-waktu di mana para yogi yang meninggal dunia dan tak kembali lagi, dan waktu-waktu para yogi yang meninggal dunia hanya untuk kembali lagi.
24. Api, cahaya, siang-hari, dua minggu yang terang, enam bulan di kala mentari bergerak ke Utara — meninggalkan (raga) pada saat-saat ini, mereka yang kenal pada Yang Maha Abadi (Brahman) pergi ke Yang Maha Abadi.
25. Asap, malam-hari, begitu juga dua minggu yang gelap, enam bulan sewaktu mentari bergerak ke arah Selatan – meninggalkan (raga) pada saat-saat ini para yogi ini akan mencapai cahaya sang rembulan dan kembali lagi.
26. Terang dan kegelapan – kedua ini adalah jalan-jalan dunia ini yang abadi. Melalui jalur yang satu seseorang pergi untuk tidak kembali, dan melalui jalur yang lain seseorang pergi untuk kembali.
27. Seorang yogi kenal akan kedua jalan ini, dan ia tak akan kebingungan. Seyogyanyalah, oh Arjuna, teguhlah selalu dalam yoga.
28. Seorang yogi yang mengetahui semua hal ini, maka jasanya dianggap melampaui semua jasa yang didapatkannya dari mempelajari Veda-Veda, dari pengorbanan (yagna), dari bertapa, dari dana (pemberian atau amal), dan ia akan pergi ke Yang Maha Agung Dan Abadi (pergi ke alam yang penuh dengan karunia dan kedamaian).
Ada dua jalan yang diterangkan di sini: (1) jalan yang pertama ini adalah jalan yang terang dan sekaligus merupakan jalan kebebasan dari dunia ini, dan (2) jalan keterikatan dan ini berarti kembali lagi ke kehidupan duniawi ini. Jalan yang pertama disebut patama-dharma (yaitu tempat kediaman yang utama, tempat bersemayam Sang Brahman, atau Sang Kreshna. Sekali mencapai ini seseorang tak kembali lagi ke dunia. Banyak sekali sebenarnya nama untuk loka yang satu ini, tetapi yang terpenting di loka Sang Brahman ini, seorang yogi yang mencapainya akan bersatu denganNya dan akan abadi bersamaNya. Jalan yang lainnya adalah jalan kegelapan, di mana sesorang yang masih terikat pada karmanya akan menjalani jalan ini dan setelah menyeberangi Chandra loka (loka para leluhur) maka ia akan sampai ke chandra-loka dan setelah mendapatkan inti kesucian Sang Chandra (disebut sari soma), orang ini akan memasuki sorga. Di sorga-loka ini ja menikmati buah dari perbuatannya yang baik dan lalu kembali lagi ia ke dunia ini setelah masanya selesai.
Seorang yogi yang sadar akan arti kedua jalan ini, tak akan kebingungan memilih jalan kehidupannya. la tak akan terikat pada moha (kasih-duniawi). Maka seyogyanyalah kita semua tidak terikat pada moha dan tidak terikat pada hasil atau buah dari semua perbuatan baik kita juga. Lakukanlah semuanya demi Yang Maha Esa semata dan tanpa pamrih, sebagai kewajiban kita kepadaNya. Semua tindakan baik atau positif seperti pengorbanan, sesajen, doa, yagna, dana, dan tapa, dan lain sebagainya akan menghasilkan buah, tetapi persembahkan kembali buah ini kepadaNya tanpa pamrih dan selalulah bertindak tanpa keinginan agar jalan yang kita tuju kelak tidak menyimpang dari tujuan kita, yaitu Brahman-loka (ingat, bukan Brahma-loka). Semua Veda memang mengajarkan hal-hal yang baik, tetapi kebijaksanaan akan Yang Maha Esa adalah lebih tinggi nilainya dari semua yang tertulis dan yang diajarkan Veda-Veda. Kebijaksanaan ini lebih tinggi sifatnya dari semua dana, yagna, tapa dan lain sebagainya. Karena kebijaksanaan yang benar akan membawa kita kepada Sang Brahman, Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan kebijaksanaan yang salah (perbuatan baik demi tujuan-tujuan tertentu, demi pamrih) akan mengantar kita kembalik ke dunia ini. Bertindaklah senantiasa secara benar dan tanpa pamrih, tanpa henti-hentinya.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka karya ini adalah bab ke delapan yang disebut:
Aksharabrahman Yoga atau
Yoga Sang Maha Nyata Yang Tak Terbinasakan

Berkatalah Arjuna:
1. Para pemuja yang selalu harmonis, memujaMu, dan para pemuja lainnya yang memuja Yang Tak Terbinasakan, Yang Tak Berbentuk – di antara mereka ini, yang manakah yang lebih terpelajar dalam ilmu pengetahuannya (dalam yoganya.)
Pertanyaan ini mungkin telah menggelitik kita selama ini, karena pasti merupakan salah satu pertanyaan di dalam hati sidang para pembaca yang terhormat. Yang manakah yang lebih baik atau sempurna, memuja Sang Kreshna dalam bentuk manusiaNya, atau memuja Yang Maha Esa (Para Brahman), Yang Maha Agung dan Abadi, Yang Tak Berbentuk, Yang Maha Hadir dan Yang Tak Terbinasakan. Jalan manakah yang terbaik: berbhakti kepada Sang Kreshna atau berkonsentrasi kepada Sang Brahman Yang Tak Terlihat oleh mata duniawi kita? Dalam pemujaan terhadap Sang Kreshna terdapat dua faktor penting, yaitu bhakti dan/atau dedikasi, dan kedua seva atau pekerjaan/pemujaan yang dipersembahkan kepadaNya. Dengan kata lain: bekerja untukNya. Tetapi dalam pemujaan kepada Yang Maha Esa Para Brahman, bhakti atau seva tidaklah dianggap penting, yang penting adalah meditasi secara terus-menerus (berkesinambungan) atau pemfokusan pikiran (mental) yang terus-menerus kepada Yang Maha Esa (kontemplasi). Tentu saja bagi Arjuna di masa itu, dan bagi kita di masa kini, pertanyaan akan timbul, pemujaan yang manakah yang terbaik, sebenarnya bukankah Sang Kreshna dan Para Brahman ini sama saja, dua dalam satu, atau satu yang menjadi dua.
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:

2. Mereka yang memusatkan pikirannya kepadaKu, memujaKu, yang selalu harmonis dan terlapis dengan iman yang tertinggi – merekaKu anggap sebagai yogi-yogi yang terbaik.
3. Mereka yang memuja Yang Maha Tak Terbinasakan, Yang Tak Terterangkan, Yang Tak Berbentuk, Yang Selalu Hadir, Yang Tak Terpikirkan, Yang Tak Berganti-ganti, Yang Tak Bervariasi, Yang Konstan –
4. (Mereka yang memuja dengan cara demikian), menahan indra-indranya, memandang setiap benda secara sama-rata, bahagia dengan kesentosaan setiap makhluk — mereka pun datang padaKu.
5. Mereka yang pikirannya terpusat kepada Yang Maha Esa (Yang Tak Berbentuk), berusaha secara susah-payah (untuk mencapaiNya); karena jalan ke arah Yang Maha Esa ini sukar bagi mereka yang memiliki raga.
Sang Kreshna mengatakan bahwa kedua bentuk methode dedikasi atau pemujaan di atas adalah benar, tetapi dengan memuja Sang Kreshna dalam bentuk manusia itu lebih efisien atau mudah, karena manusia cenderung memilih bentuk yang mudah dimengerti, sedangkan Yang Maha Esa dalam bentukNya yang tak terlihat dan tak berwujud, tentu saja sukar untuk dihayati dan dijangkau oleh rata-rata manusia, apa lagi yang masih gemar akan kenikmatan duniawi, tetapi ini tidak berarti lalu tidak ada manusia yang mampu langsung mencapaiNya (Para Brahman). Sebenarnya dalam sejarah agama Hindu terdapat banyak bukti bahwa banyak sekali individu-individu suci yang mampu menjangkauNya (mencapai Yang Maha Esa) dan bersatu denganNya. Bagaimana pun juga setelah tahap pemujaan kepada Sang Kreshna maka pemuja ini pada kesempatan berikutnya akan diteruskan kepada Sang Brahman juga. Di sini Sang Kreshna bertindak amat demokratis dan fleksibel, la memperbolehkan para pemuja untuk memuja dengan jalan apa saja sesuai dengan keinginan kita.
6. Mereka yang mengkonsentrasikan setiap tindakan mereka kepadaKu, memandangKu sebagai Tujuan Yang Agung dan Suci, dan yang dengan dedikasi yang tunggal, memujaKu dan bermeditasi kepadaKu,
7. Mereka ini, oh Arjuna, dengan segeraKu selamatkan dari samudra kematian dan kehidupan, mereka yang pikirannya selalu terpusat kepadaKu.
Di sini terlihat Sang Kreshna menganjurkan Arjuna untuk memilih jalan bhakti kepada Sang Kreshna, karena sebagai manusia yang memiliki raga, jalan ini lebih cepat dan mudah. Dan dengan jalan ini pun asalkan dedikasinya tak terpecah-pecah, maka pasti akan diselamatkan dari dunia yang penuh dengan derita ini.
8. Pusatkan padaKu semata pikiranmu dan letakkan pengertianmu di dalamKu. Dan tanpa ragu lagi sesudah ini dikau akan tinggal denganKu semata.
9. Tetapi jika dikau tak mampu secara teguh memusatkan pikiranmu padaKu, sebaiknya dikau berusaha untuk mencapaiKu, oh Arjuna, dengan yoga yang penuh konsentrasi dan usaha yang terus-menerus.
10. Dan juga sekiranya dikau tak mampu untuk mengusahakan konsentrasi, beritikadlah untuk bertindak demi Aku. Bekerjalah demi Aku, dan dikau akan mencapai kesempurnaan.
11. Dan sekiranya dikau tak bersemangat untuk bertindak demikian, maka lepaskan hasrat untuk mendapatkan hasil dari tindakan-tindakanmu, carilah perlindungan dan berdedikasilah kepadaKu, dengan cara mengendalikan dirimu.
Sang Maha Pemurah Hati, Sang Kreshna mulai menerangkan cara-cara atau tahap-tahap dedikasi menuju Sang Kreshna, dan semua keterangan ini diberikan dengan cara yang amat demokratis dan tidak mengikat atau memaksa Arjuna atau pun kita semua. Cara-caraNya amat mudah dan dapat disarikan sebagai berikut ini:
a.  Pusatkan pikiran kepadaNya semata dan usahakan agar pengertian kita ada dalam DiriNya (Sang Kreshna atau Yang Maha Esa). Konsentrasi pikiran dan daya intelek kita pada Sang Kreshna, Yang Maha Esa, secara perlahan, terarah dan pasti, adalah cara yang terbaik. Berkonsentrasi kepadaNya walaupun ditengah-tengah kesibukan pekerjaan kita menandakan makin matangnya kita dan dedikasi kita kepadaNya. Pikiran (mind) dan buddhi (intelek atau pengertian yang benar) kalau digabung dan dipusatkan kepadaNya pasti akan menghasilkan keajaiban-keajaiban atau pengalaman-pengalaman yang menakjubkan dan tak dapat dipercaya oleh orang lain. Dengan jalan lain semua ini mengajurkan kita untuk bermeditasi atau bersemedi barang sejenak setiap harinya dengan meluangkan sekedar waktu yang khusus untuk dan kepada Sang Kreshna, Yang Maha Esa dengan penuh bhakti dan dedikasi, dan kasih yang tulus.
b. “Dengan ilmu pengetahuan (yoga) yang penuh usaha, cobalah untuk mencapaiKu,” kalau pertama di atas tadi seseorang dianjurkan bermeditasi atau memusatkan pikiran dan inteleknya kepada Sang Kreshna, maka pada anjuranNya yang kedua disabdakan kepada mereka yang tidak mampu melakukannya untuk mencoba dengan usaha-usaha untuk mencapaiNya, dan ini disebut abhyasa-yoga (yoga usaha atau disiplin kebebasaan), yang merupakan tahap yang lebih mudah bagi seseorang. Abhyasa atau kebiasaan memujaNya pasti lambat laun akan meningkat menjadi suatu yang teguh, dan kemudian proses ini lambat laun akan berubah menjadi meditasi pada suatu saat. Untuk menjadi meditasi maka Yang Maha Kuasa pasti akan menunjukkan jalannya waktu saat untuk itu tiba.
c.  “Berkemauanlah bekerja demi Aku,” kalau samadhi atau meditasi belum dapat dilaksanakan maka sebaiknya abhyasa, tetapi kalau yang kedua ini pun masih sukar untuk dilaksanakan, maka cobalah jalan ketiga yang bersifat tahap yang lebih awal lagi dari dua jalan di atas tadi, yaitu kita sebaiknya mencoba bekerja demi Sang Kreshna, Yang Maha Esa, dalam setiap tindakan kita. Secara mental kita berusaha untuk menyerahkan semua hasil pekerjaan kita kepadaNya. Apapun yang kita lakukan, apakah itu makan dan minum, tidur, bekerja demi keluarga, kewajiban apapun yang kita lakukan, lakukan demi pemujaan terhadap Yang Maha Esa semata, jadikanlah Ia tujuan atau cita-cita akhir kita semuanya.
d. “Serahkan atau pasrahkan semua hasil pekerjaanmu kepadaNya,” dan kalau bekerja unrukNya masih terasa sukar, maka Sang Kreshna dengan amat demokratis dan banyak kompromi, dan dengan kasihNya menganjurkan agar hasil atau efek atau buah dari setiap tindakan, pekerjaan, aksi atau perbuatan kita dipersembahkan kepadaNya. Tidak berlebihan bukan anjuran Yang Maha Pengasih ini? Kita tetap saja bekerja demi keluarga dan kewajiban kita, tetapi semua hasil atau efek dari pekerjaan ini secara mental kita persembahkan kepadaNya, dan terserah kepadaNya apapun hasil pekerjaan itu, karena bukankah semua ini dariNya, untukNya dan olehNya juga! Pasrahkanlah semua nya kepada Yang Maha Esa, dan terjadilah apa yang harus terjadi sesuai dengan kehendakNya semata. Berimanlah kepadaNya selalu, dan semuanya akan berakhir dengan baik sesuai dengan rencana-rencanaNya yang telah diaturNya secara cermat dan terperinci masing-masing untuk setiap individu dan makhluk dan lain sebagainya. Sekali semuanya sudah dipasrahkan dan dipersembahkan kepadaNya, maka semua itu bukan masalah atau kenikmatan kita lagi, tetapi sudah menjadi persoalan Yang Maha Esa kembali, jadi terjadilah apa yang harus terjadi. Yang penting adalah iman kita kepadaNya dalam segala-galanya. Serahkanlah setiap sukses dan kegagalan kita kepadaNya, dan jangan sekali-kali meminta atau mengharapkan apapun dariNya kecuali kehendakNya, dan bekerjalah selalu sesuai dengan kewajiban kita. Terimalah semua kehendakNya dengan senang, pasrah, tulus dan jujur dan tanpa pamrih. Berterima-kasihlah untuk semua yang telah diberikanNya kepada kita, apapun itu sifatnya. Sloka-sloka berikutnya banyak menyiratkan pemberian dan kasih-sayang Yang Maha Esa kepada kita semua.
12. llmu pengetahuan itu lebih baik sifatnya daripada usaha konsentrasi yang terus-menerus, meditasi itu lebih baik daripada ilmu pengetahuan, dan yang lebih baik dari meditasi adalah persembahan semua hasil perbuatan karena setelah itu menyusullah kedamaian,
Secara bertahap sebenarnya Sang Kreshna menganjurkan kita meniti jalan ke arah kedamaian dalam hidup ini, yaitu melalui abhyasa (usaha dan konsentrasi) lalu menanjak ke ilmu pengetahuan, alau naik lagi ke meditasi, dan lalu yang lebih tinggi lagi, yaitu pemasrahan secara total semua hasil dari perbuatan kita, dan setelah pemasrahan total ini maka akan ditemui kedamaian. Sebenarnya semua tahap atau jalan yang diajarkan Sang Kreshna itu penting bagi kehidupan spiritual kita, tetapi yang paling penting adalah pemasrahan secara total semua hasil dari perbuatan kita secara sadar dan tulus, dan tanpa pamrih yang diikuti oleh mental atau pikiran dan buddhi kita secara paralel. Inilah sebenarnya rahasia agung dan suci yang tersirat dalam ajaran-ajaran Sang Kreshna dalam Bhagavat Gita, dan kalau kita secara tulus, suci dan sadar melaksanakan semua ini, maka yang dikembalikan kepada kita ini adalah rasa kedamaian yang tak ada taranya, dan apa lagi yang lebih penting untuk sesuatu makhluk hidup di dunia ini kalau bukan rasa damai yang tanpa disertai rasa takut atau khawatir dalam menjalani hidup ini!
13. Seseorang yang tak mempunyai itikad buruk terhadap siapapun (dan apapun), bersikap bersahabat dan selalu simpatik, bebas dari rasa egoisme dan rasa memiliki, dalam suka dan duka bersikap tenang, selalu memaafkan;
14. Sang yogi ini yang selalu menerima apa yang didapatkannya, selalu harmonis dan menjadi tuan (yang berkuasa) atas diri pribadinya sendiri, tegas, dengan pikiran dan intelek yang didedikasikan kepadaKu — ia, pemujaKu ini, adalah yang Kukasihi.
Sang Kreshna menyambung ajaran-ajaran dan keterangan-keterangan spiritual yang penting untuk dipelajari Arjuna dan kita semua. Kita kemudian sekarang ini dapat menilai diri-pribadi kita masing-masing, menilai karakter dan jiwa kita masing-masing apakah jalan-hidup kita sudah sesuai dengan yang dianjurkan Sang Kreshna Yang Maha Pengasih ini atau masih jauh dari itu semua? Dan kalau sudah memenuhi semua kriteria-kriteria di atas maka, apakah ungkapan itu jujur dan tulus dan disertai rasa kesadaran yang sejati, atau hanya dibuat-buat atau dirasakan saja? Berkarakter atau bersifat seperti yang dianjurkan Sang Kreshna ini tidaklah mudah dilakukan oleh manusia yang duniawi sifatnya, walaupun nampaknya anjuran-anjuran Sang Kreshna ini mudah dan sederhana. Diperlukan latihan, penghayatan dan kesadaran yang harus dilalui dengan proses yang memakan waktu dan disiplin spiritual yang ketat dan tegar.
15. Seseorang yang tidak mengusik dunia ini dan tidak terusik oleh dunia ini, yang bebas dari rongrongan rasa nikmat, marah, dan takut — ia adalah yang Kukasihi.
Yang dimaksud Sang Kreshna di atas ini adalah seseorang yang tak mengusik, mengganggu dan menyusahkan orang lain, makhluk-makhluk lain dan alam serta benda-benda di mana pun juga tanpa sesuatu alasan yang dapat dipertanggung-jawabkan; dan tindakan semacam ini tidak dapat ditolerir olehNya walaupun sekecil apapun tindakan ini. Juga orang ini (pemujaNya) sebaliknya tidak merasa susah atau merasa diganggu atau terusik oleh orang maupun makhluk lain, karena sadar bahwa semua ini adalah ciptaan-ciptaanNya dan terjadi karena kehendakNya dan pada dasarnya adalah la juga. Orang yang sadar ini disebut harmonis sifatnya. la telah lepas dari segala bentuk rasa takut, senang, marah dan penampilannya selalu harmonis dan tenang dalam menghadapi segala sesuatu baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Orang semacam ini adalah “kekasihNya” (Yang dikasihiNya).
16. Seseorang yang tak berambisi, yang bersih, cekatan dan cerdik dalam tindakan, tak bernafsu, bebas dari rasa takut, yang mempersembahkan hasil dari setiap keputusannya kepadaKu – ia, pemujaKu adalah yang Kukasihi.
17. Seseorang yang tidak bergembira, tidak membenci, tidak bersedih, tidak bernafsu (berangan-angan untuk memiliki atau menikmati sesuatu), yang mempersembahkan buah dari kebaikan dan keburukan – pemujaKu yang setia adalah yang Kukasihi.
Seseorang yang tak berambisi untuk diri-pribadinya sendiri dan tak mengharapkan apapun juga dari segala tindakan-tindakannya, baik secara fisik, mental maupun spiritual dan material; yang tegas, peka, ahli dan bekerja dengan cekatan demi kebenaran dan hal-hal yang positif; yang secara cepat mengambil keputusan dalam suatu keadaan darurat, dan yang selalu memasrahkan hasil dari setiap keputusan dan perbuatannya baik yang buruk maupun yang baik kepadaNya semata, tidak akan mempunyai rasa takut untuk menghadap masa depan dan semua yang dihadapiNya. Yang tak mementingkan atau menginginkan sesuatu dan tak bersedih hati untuk apapun yang dihadapinya adalah yang “dikasihiNya,” yang dikasihi oleh Sang Kreshna. Andaikan sang pemuja yang penuh dedikasi dan kesetiaan ini sudah mempersembahkan dirinya secara total sebagai alat kepada Yang Maha Esa, maka sang alat ini lalu sadar bahwa ia seharusnya berkewajiban untuk dipergunakan oleh Yang Maha Esa sesuai dengan kehendakNya, apapun kehendakNya itu, dan semua hasil pekerjaan yang dilakukannya bukan miliknya tetapi milik Yang Maha Menentukan, jadi lalu apa lagi yang harus disedihkan dan apa lagi yang harus digembirakan? Apa lagi yang harus membuatnya marah, benci atau dendam dan bebagainya? Tidak ada lagi! Semua adalah pekerjaanNya, dan semua adalah alat-alatNya semata yang memainkan peranannya masing-masing di dunia ini; dalam kehidupan kita ini! Semakin ia sadar akan hal ini, semakin dikasihi ia olehNya, Yang Maha Pengasih dan berbahagialah ia yang merasa dikasihi dan dilimpahi oleh kasih Yang Maha Kuasa, karena mencapai status ini tidaklah mudah dan boleh dikatakan amat langka dalam dunia yang penuh dengan ilusi duniawi ini. Yang Maha Esa Sendiri sebenarnya Amat Pengasih, terserah pada kita ingin mendapatkan limpahan kasihNya yang bersinar terus secara sama rata untuk setiap makhluk-makhlukNya, atau terserah kita untuk menolak kasih ini dan lebih erat lagi merangkul nafsu-nafsu duniawi kita dan terikat erat kepada nafsu-nafsu ini.
18. (Seseorang) yang bersikap sama terhadap seorang teman atau seorang musuh, sama terhadap dingin dan panas, terhadap kenikmatan dan penderitaan, bebas dari keterikatan,
19. Menerima secara sama rata pujian dan fitnah, bersikap diam, merasa cukup dengan apa yang diterimanya, tak memiliki rumah, berpikiran stabil, ia pemujaKu yang setia, adalah orang yangKu kasihi.
Andaikan seseorang bersikap sama terhadap semua kejadian yang menimpanya, seperti senang dan susah, pujian atau hinaan, panas atau dingin, dan merasa semua itu sama saja kadarnya, dan selalu merasa cukup dengan apa yang melandanya dan apa yang diterimanya dan menganggapnya sebagai pemberianNya jua, maka orang suci semacam ini adalah orang yang dikasihiNya. Andaikan ia tenang dan damai dalam menghadapi segala sesuatu dan menyebarkan kedamaian ini pada orang-orang di sekitarnya dan pada dirinya secara senantiasa, maka jadilah ia seorang mauni (yang tenang dan damai secara lahir dan batin). Andaikan ia merasa tak memiliki rumah atau tempat-tinggal (aniketah), yaitu dengan kata lain berarti ia merasa dunia ini bukan milik atau rumahnya yang sejati, tetapi ia hanya seorang musafir yang sedang melakukan perjalanannya (yatra) demi suatu kewajiban yang disandangnya demi Yang Maha Esa, dan merasa bahwa rumah atau tempat-tinggalnya yang abadi ada di dalam Sang Kreshna, Yang Maha Esa, maka jadilah ia seorang yang paling dikasihi oleh Sang Kreshna, dan manusia suci semacam ini selalu tersenyum penuh arti dalam segala tindakannya; ia selalu bersikap tenang-tenang saja penuh arti.
20. Mereka, yang benar-benar memuja dharma (hukum) yang abadi ini, seperti yang diajarkan ini, dan penuh dengan iman, mempercayaiKu sebagai Yang Maha Agung dan Suci — mereka, para pemujaKu, adalah yangKu kasihi.
Dan seorang pemuja yang tulus yang memuja dan menjalani dharma atau hukum yang diajarkan Sang Kreshna ini, yang adalah suatu bentuk dharma yang abadi dan tak akan pernah sirna sepanjang masa, dan yang mengantarkan kita semua kepada tujuan Yang Agung dan Suci, yaitu Sang Kreshna atau Yang Maha Esa itu Sendiri; pemuja semacam ini adalah yang dikasihiNya. Jelas sudah pesan-pesan Sang Kreshna untuk kita semuanya. Om Tat Sat.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya-Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka bob ke dua-belas ini disebut:
Bhakti Yoga  Atau Ilmu pengetahuan Tentang Dedikasi

Berkatalah Arjuna:
Oh Kreshna, daku berhasrat sekali untuk mempelajari hal-hal tentang Prakriti (alam) dan Purusha (Sang Jiwa), tentang ladang dan tentang Yang Mengetahui ladang ini (Sang Pengenal ladang), tentang ilmu pengetahuan (kebijaksanaan) dan tentang hal-hal yang perlu untuk diketahui.
Sloka di atas ini tak bernomor, dan sering tak diterjemahkan karena dianggap sebuah sisipan.
Berkatalah Yang Maha Pengasih:

1. Raga ini, oh Arjuna, disebut sebagai ladang. Seseorang yang sadar (tahu, mengenal) akan hal ini disebut sebagai sang pengenal ladang ini, oleh mereka yang mengetahuinya (para resi).
2. Kenalilah Aku sebagai Yang Mengetahui ladang dari semua ladang-ladang, oh Arjuna! Ilmu pengetahuan tentang ladang dan yang mengetahuinya -adalah ilmu pengetahuan yang Ku anggap sebagai ilmu pengetahuan yang sejati.
Dalam bab ini Sang Kreshna menerangkan tentang filsafat (falsafah) kehidupan ini; ibaratnya menilai suatu kehidupan di atas batu-karang yang kering dan gersang, maka setiap manusia sebenarnya memerlukan suatu filsafat-kehidupan (suatu pegangan) agar kehidupan dapat dijalaninya dengan sempurna. Dan untuk itu, pertama-tama amat penting untuk menyadari atau memahami dua sifat dominan — manusia dan alam semesta kedua sifat ini disebut — Prakriti dan Purusha. Prakriti adalah benda atau raga, dan diibaratkan sebagai ladang (kshetrari), dan Purusha adalah Sang Jiwa yang disebut dan dikenal sebagai Yang mengetahui tentang ladang ini (Kshetragnd).
Bahkan dalam Injil pun Yesus Kristus pun sering menyebut tentang ladang dan penabur benih dalam parabel-parabelnya. Jadi bukan saja hal ini disiratkan dalam agama Hindu saja tetapi dapat juga dilihat dan dihayati dalam agama-agama lainnya. Di sini dapat dikatakan bahwa yang disebut ladang adalah raga kita sendiri dan Sang Penabur Benih adalah Sang Kreshna, Yang Maha Mengetahui ladang ini, la bersemayam di dalam diri kita. Dan yang disebutkan sebagai benih di sini adalah kebijaksanaan (gnanam), yang selalu ditaburkan olehNya untuk kita semua agar sadar dan kembali ke jalanNya. Sang Kreshna di sini berbicara tentang ladang, tentang yang mengenal ladang dan tentang ilmu pengetahuan dalam bentuk kebijaksanaan. Prakriti adalah ladang: di dalamnya setiap benda dan makhluk tumbuh dan berkembang, lalu layu dan akhirnya binasa, dan hidup dan tumbuh baru lagi. Prakriti adalah suatu bentuk aktivitas. Di dalam Prakriti dituai buah atau hasil dari setiap tindakan dan perbuatan kita ~ ibarat sebuah ladang saja. Fungsi Prakriti adalah aktivitas tanpa dilandasi oleh kesadaran sejati.
Gnanam (kebijaksanaan) adalah benih yang ditabur dan dituai dari ladang ini; kebijaksanaan ini adalah ilmu pengetahuan tentang ladang dan tentang Yang Mengetahui atau Yang Mengenal ladang ini. Di alam semesta ini apapun yang kita lihat adalah gabungan atau kombinasi dari Purusha dan Prakriti, antara Sang Jiwa dan benda, antara roh dan raga. Sang Jiwa, Sang Purusha adalah Kshetragna (Yang Mengetahui Ladang) dan Yang Mengetahui adalah Sang Kreshna, yang dengan kata lain adalah Yang Maha Esa itu Sendiri.
3. Dengarkanlah secara terperinci, dariKu, apakah ladang itu, dan apakah sifatnya, apakah modifikasi-modifikasinya, bilakah la (ada), apakah la (Yang Mengetahui tentang ladang) itu, dan apa sajakah kekuatan-kekuatanNya?
4. Para resi telah meyabdakannya dengan berbagai cara, dengan berbagai mantra, dengan sabda-sabda dalam Brahma-Sutra — disabdakan dengan penuh alasan dan kata-kata yang konklusif, penuh dengan kebijaksanaan Yang Maha Abadi.
Ajaran mengenai ladang dan yang mengetahui ladang ini, bukan ajaran baru, tetapi sudah muncul dalam pustaka-pustaka dan ajaran-ajaran Hindu kuno, dan sudah dikenal oleh orang-orang yang mempelajarinya di zaman dahulu.
5. Lima elemen kasar, dan rasa “ke-aku-an,” juga pengertian akan yang tak berbentuk kesepuluh indra dan pikiran, dan kelima indra yang utama,
6. Keinginan (nafsu) dan rasa-benci, kenikmatan dan penderitaan, bentuk kolektif, intelegensia, keteguhan – semua ini, secara terperinci diterangkan, sebagai yang mencakup ladang ini dan modifikasi-modifikasinya.
Kshetra (atau ladang) ini terdiri dan 24 prinsip, yaitu:
1. Avyakta – yang tak berbentuk. Ini adalah Sang Maya (Ilusi-Ilahi), di mana semua akan terserap sewaktu terjadi pralaya atau kiamat.
2. Ahankara — rasa ego, rasa ego yang didasarkan kepada pengalaman-pengalaman pribadi, pada personalitas, pada diri-pribadi, merupakan kesadaran dari dan untuk diri pribadi saja.
3. Buddhi — alasan-alasan, pemahaman, pengertian yang membedakan antara yang benar dan salah, intuisi, kekuatan untuk langsung mengetahui sesuatu.
4. Mana — sering disebut juga sebagai ekam atau satu;
(5-14) Terdiri dari sepuluh bentuk indra, yaitu terbagi dua. Yang lima pertama adalah gnana-indra yang terdiri dari mata (penglihatan), kuping (pendengaran), hidung (penciuman), lidah (rasa), sentuhan atau organ aksi. Kemudian lima indra yang berikutnya adalah karma-indra atau juga disebut indra-indra fungsi yang terdiri dari tangan, kaki, mulut (wicara), anus dan penis (kemaluan).
(15-19) Kemudian yang disebut lima indra yang penting (indriyah-gocharah) adalah sparsha (sentuhan), rasa (merasakan), rupa (pengetahuan), gandha (penciuman) dan shabda (suara).
(20-24) Lima elemen kasar (mahabhuta) adalah bhum (tanah), apa (air) anala (api), vayu (udara) dan khan (ether).
Kshetra atau ladang ini mempunyai lima vikara, yaitu bentuk atau transformasi, atau bisa disebut juga penggantian atau modifikasi, dan sebagainya. Yang masing-masing adalah:
a. iccha dan dvesha — yaitu keinginan dan aversi (rasa dualisme yang saling bertentangan seperti suka-tak suka, panas-dingin, benci-sayang, dan lain sebagainya);
b. sukham dan dukham — yaitu kenikmatan dan penderitaan;
c. sanghata — yaitu bentuk kolektif tubuh atau raga;
d. chetana — yaitu kesadaran, intelegensia, pikiran dan pengetahuan;
e. dhriti — yaitu keteguhan, ketegaran dan tekad yang kuat.
Harus diketahui bahwa fungsi psikological seperti nafsu (keinginan) dan aversi, kenikmatan, dan penderitaan, intelegensia, keteguhan adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan kshetra (ladang) dan bukan pada Sang Atman. Kshetra atau ladang ini terbentuk dari raga dan pikiran dan bukan dari Sang Atman. Sebaliknya kshetra ini merupakan tempat bersemayam Sang Atman ini.  Vikara atau modifikasi timbul dalam kshetra karena sang jiwa kita berhubungan dengan Sang Maya; Sang Maya kemudian mempermainkan jiwa kita dan timbullah gelombang-gelombang dan pergantian-pergantian dalam pikiran dan jiwa kita, yang selalu terombang-ambing oleh permainan atau ilusi Sang Maya ini. Sekali terlibat dan tenggelam dalam manis dan pahitnya Sang Maya maka sukarlah bagi seorang manusia untuk lepas dari cengkeramannya dan jadilah kita budak duniawi ini. Jiwa kita dengan statusnya yang suci (Sang Atman) tidak ditakdirkan sebagai tuan dari Sang Maya ini, lain dari para Avatar a, yaitu Yang Maha Esa yang menjelma menjadi manusia seperti Sang Kreshna dan Sang Rama, mereka ini masing-masing pada zamannya sewaktu bereinkarnasi sebagai manusia tidak dapat dikuasai oleh Sang Maya, sebaliknya merekalah yang menguasai atau menjadi tuan dari Sang Maya ini.
7. Rendah-diri, tidak berpura-pura, tidak menyakiti makhluk lainnya kesabaran, bertindak berdasarkan kebenaran, merawat dan bekerja demi guru-spiritual, pembersihan diri (raga dan pikiran), ketegaran dan kendali-diri,
8. Bersikap tidak acuh pada benda-benda atau hal-hal yang berhubungan dengan indra-indra, tak mempunyai rasa egois, mengenal akan sifat-sifat buruk dari kelahiran, kematian, masa-tua, penyakit dan penderitaan.
9. Tanpa keterikatan, tidak mengidentifikasikan dirinya dengan putra-putrinya, dengan istri dan rumahnya, dan selalu bersikap sama rata secara konstan terhadap hal-hal dan kejadian-kejadian yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan.
10. Dedikasi kepadaKu tanpa henti-hentinya, melalui yoga (ilmu pengetahuan), menyepikan diri ke tempat-tempat yang tenang, tak berkeinginan untuk berkumpul secara duniawi.
11. Selalu berusaha untuk mempelajari ilmu pengetahuan tentang Sang Atman, intuisi langsung dengan maksud untuk mengenal Kebenaran – inilah yang disebut kebijaksanaan. Semua hal yang berlawanan dengan ini adalah kebodohan (tak-berpengetahuan).
Pelajaran atau jalan kebijaksanaan dipaparkan dengan baik dan terperinci oleh Sang Kreshna di atas. Semuanya berjumlah 20 karakter atau sifat, dan kedua-puluh sifat ini adalah akar atau fondasi dari kebijaksanaan yang akan mengantarkan seseorang kepada Yang Maha Esa, ke ilmu pengetahuan sejati tentangNya. Kebijaksanaan ini kalau dipelajari dengan seksama adalah indikasi dari sifat-sifat moral yang amat super atau prima, yang menjadi dasar dari tindakan-tindakan kita yang baik dan benar, yang lepas dari rasa duniawi, dan rasa memiliki, dari nafsu-nafsu dan malahan menjadi dasar yang kokoh dan benar dari setiap tindakan kita dan mendorong kita untuk lebih banyak melihat ke dalam diri kita sendiri. Kedua-puluh sifat ini menunjukkan arah seseorang kepadaNya tanpa pamrih dan penuh dedikasi dan kebenaran bagiNya semata.
12. Akan Ku sabdakan tentang sesuatu yang harus diketahui, yang setelah diketahui, maka tercapailah keabadian — Sang Brahman, Yang Tak bermula, Suci dan Agung, Yang dapat disebut Sat (Berbentuk) dan juga dapat disebut Asat (Tidak Berbentuk).
Yang mengetahui ladang ini disebut Kshetmgna, lalah Yang Maha Suci dan Agung Para Brahman. la tak dapat dikualifikasikan karena Yang Maha Esa ini di luar kualifikasi yang dibuat manusia, seyogyanyalah la lalu disebut sat dan asat (berbentuk dan tidak berbentuk). la diluar kedua faktor ini dan Maha Agung dan Suci. Ia hadir dan ada tetapi pada saat yang bersamaan Ia pun tak hadir dan tak ada atau tak terlihat. Yang Maha Esa tak dapat dikualifikasikan atau digambarkan karena dengan begitu malahan membatasiNya, dan tak mungkin Ia dapat dibatasi karena Maha Tak Terbatas Yang Maha Esa ini.
13. Di mana pun Sang Brahman ini mempunyai tangan-tangan dan kaki-kaki, di mana pun Ia bermata, berkepala dan bermulut. Ia mendengar di setiap tempat, dan Ia tinggal di dunia ini, menyelimuti (meliput) semuanya.

14. Ia bersinar di semua fungsi indra-indra, tetapi lepas dari indra-indra ini. tak terikat, tetapi Ia lah penunjang semuanya. Ia bebas dari segala kualitas (Nirgunam), tetapi Ia juga yang menikmati semua kualitas.
Sang Brahman ada tapi tak ada. Ia hadir dalam Prakriti tetapi tak terlihat oleh kita. Ia sukar menemukan istilah yang tepat tentang Yang Maha Esa ini dan Ia hanya dapat dijelaskan secara minim dalam paradoks-paradoks saja. Ia hadir dalam setiap hal, sifat, bentuk atau aksi, tetapi tak pernah terlibat secara langsung.
15. Di luar dan di dalam semua makhluk Ia hadir dan juga bergerak. Terlalu sukar untuk dipersepsikan Ia ini. Ia dekat tetapi juga Ia amat jauh.
Benar kata filsuf Meister Eckhart, “Semakin dalam Tuhan di dalam diri sesuatu, semakin di luar Ia berada dari sesuatu tersebut.” Ia bergerak tetapi tanpa gerak, Ia dekat tapi jauh. Ia tak dapat diterangkan tetapi Ia dapat dirasakan kehadiranNya ditengah-tengah kita
16. Ia hadir tak terbagi-bagi di dalam makhluk-makhluk, tetapi Ia bersemayam secara sama rata (di dalam diri makhluk-makhluk seakan-akan terpisah-pisah). Ia penunjang semua makhluk dan benda. Ia pemusnah kehidupan, tetapi Ia juga pemberi kehidupan.
Di atas sudah cukup tergambar atau terbayang atau terasa dan terlihat oleh kita akan semua kebesaranNya., sebagai pemusnah sekaligus pemberi kehidupan, sebagai yang tak ada di dalam setiap yang ada, sebagai yang beraksi dalam setiap tak-aksi, atau pun sebaliknya.
17. Ia adalah Cahaya dari semua cahaya. Ia yang dikatakan sebagai di luar kegelapan. Ia adalah kebijaksanaan, tujuan dan kebijaksanaan yang dicapai dengan kebijaksanaan. Ia bersemayam di dalam hati semuanya.
Salah satu sifatNya adalah Cahaya atau Nur, Sang Surya Yang Eka, tetapi bersinar dalam hati setiap insan dan makhluk. Ia juga adalah ilmu pengetahuan yang sejati, sekaligus obyek dan tujuan ilmu pengetahuan sejati tersebut. Para pencariNya melakukan perjalanan spiritual guna mencariNya, justru dari luar ke dalam diri mereka sendiri karena Ia bersemayam dalam diri setiap insan dan makhluk ciptaanNya. Ia hadir di mana-mana, tangan-tangan dan kakinya tersebar di setiap sudut dan penjuru dunia. Ia adalah satu-satuNya yang berada di kegelapan, karena Ia lah Cahaya dari semua cahaya.
18. Begitulah telah Ku katakan kepadamu, secara singkat dan terperinci, tentang ladang ini, tentang ilmu pengetahuan dan obyek dari ilmu pengetahuan ini. PemujaKu, setelah mengetahui ini, memasuki DiriKu.
Tiga hal yang penting untuk diketahui, yaitu ladang (kshetra); ilmu pengetahuan (gnana), yang dimaksud ini bukan ilmu pengetahuan yang ilmiah, tetapi justru yang gaib dan dianggap sejati; obyek dari ilmu pengetahuan ini (gneya). Mengenal, mengetahui atau menghayati ketiga prinsip ini dalam kehidupan kita sehari-hari berarti mencapai Yang Maha Esa, Yang Agung dan Suci lepas dari segala penderitaan. Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan ini akan mencapai cinta-kasih (bhakti). Yang Maha Esa dapat dicapai oleh mereka yang sederhana, rendah-hati dan penuh kasih, yang telah memurnikan jiwa dan hatinya. Yang ingin mengenalNya dengan baik harus belajar terlebih dahulu untuk mencintai semuanya, sadar bahwa semua orang dan makhluk dan benda adalah alat-alatNya belaka yang harus memainkan peranannya masing-masing di kehidupan ini. Setelah sadar akan hakikat cinta-kasih yang sejati maka orang ini akan meningkat untuk ‘bercinta-kasih denganNya.” Hidup ini lalu berubah penuh dengan cinta-kasihNya. Hidup tidak seharusnya dihitung dari tahun-ke-tahun atau hari-ke-hari, tetapi dari dalamnya cinta-kasih kita terhadapNya dan terhadap semua ciptaan-ciptaanNya. Bagaimana seseorang yang suci-murni dapat merusak atau mencederai ciptaan-ciptaanNya yang lain, sekiranya la betul-betul telah murni cinta-kasihnya pada Yang Maha Esa?
Seorang mistik bernama Bayazid sekali masa pernah ditanya umurnya, dan ia menjawab baru berusia empat tahun. Padahal usianya telah mencapai 74 tahun. Tentu saja para penanya menjadi heran karenanya. Tetapi Bayazid dengan rendah hati menerangkan bahwa selama 70 tahun ia jauh dari Tuhan, dan dekat dengan dunia. Baru empat tahun terakhir ini ia merasakan dekat kepadaNya dan merasakan kasih-sayangNya yang tak terhingga, mendengarkanNya Yang tak pernah didengarNya sebelum ini, merasakanNya Yang tak pernah tersentuh olehNya selama ini. “Jadi baru empat tahun ini aku betul-betul hidup!” seru Bayazid.
19. Ketahuilah bahwa Prakriti (unsur benda atau sifat) dan Purusha (sang Jiwa), kedua-duanya tidak bermula. Dan ketahuilah bahwa semua modifikasi dan guna (kualitas) lahir dariNya.
Prakriti dan Purusha tak bermula dan sudah hadir sebelum penciptaan dunia. Tetapi semua pergantian, modifikasi dan sifat-sifat alam ini berasal dari Prakriti, yang lahir dariNya.
20. Benda atau alam dikatakan sebagai yang menjadi penyebab yang memancarkan sebab dan akibat; sang Jiwa dikatakan sebagai penyebab dari pengalaman suka dan duka.
21. Sang Jiwa yang bersemayam di dalam benda mencicipi kualitas-kualitas (guna) yang lahir dari benda. Keterikatannya terhadap guna inilah yang menjadi penyebab kelahirannya secara baik dan buruk.
Kita lihat sekarang dalam sloka 19-23 tersirat adanya pemikiran baru yang terbagi pada tiga prinsip, yaitu Prakriti-Benda-Alam, Purusha-Jiwa-Roh dan Purusha-Parah, Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Maha Suci. Purusha dan Prakriti, kedua-duanya bersifat anadi (yaitu tanpa mula) dan terpancar atau berasal dari Yang Maha Abadi, Yang Maha Esa, Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Maha Suci. Sang Purusha, atau Jiwa yang telah tergabung dan bersatu dengan Sang Prakriti, menikmati semua pengalaman-pengalaman duniawi seperti suka-duka dan lain sebagainya. Karena Jiwa bebas berkehendak maka ia sudah menyalah-gunakan kehadirannya dalam raga dan ia hanya tenggelam dalam kenikmatan duniawi ini dan terjebak oleh ikatan waktu dan ruang.
Jiwa sebenarnya adalah bentuk spiritual tetapi ia diberikan kebebasan untuk menuju kepada Yang Maha Esa. la dapat memberikan kasih dan dedikasinya kepada Yang Maha Esa atau kepada Sang Maya (Sang Ilusi-Ilahi). Sekali ia menjadi budak Sang Maya ia akan bertolak-belakang dari Yang Maha Esa. Dan sekali ia terjebak dalam ilusi ini, maka ia akan timbul-tenggelam di dalamnya, terjebak dalam ikatan waktu dan spasi duniawi ini.
22. Dalam raga (yang dimaksud di sini adalah raga manusia) bersemayam Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Suci. la disebut sebagai Pengamat, Yang Mengabulkan, Yang Menunjang, Yang Menikmati Pengalaman, Tuhan Yang Agung, dan Sang Jati Diri Yang Agung dan Suci.
Dalam raga setiap makhluk terdapat Sang Jati Diri (Sang Atman) Yang dikenal atau disebut juga sebagai Purusha Parah, Sang Purusha Yang Maha Agung dan Suci. Ia lah sebenarnya Tuhan yang Maha Esa dan Agung dengan nama dan sebutan yang beraneka-ragam. Yang Maha Esa bersemayam dalam diri kita masing-masing sebagai Pengamat, dari setiap tindakan dan pikiran kita; dari sang Jiwa atau Roh kita. la membiarkan tindakan kita untuk kemudian dikoreksi yang salah (teguran hati nurani selalu hadir sebenarnya dalam setiap tindakan kita yang salah, tetapi sering sekali kita mengabaikannya karena faktor-faktor ego duniawi kita). Ia, Yang Maha Kuasa, sebenarnya hadir dalam setiap makhluk. Seandainya Sang Jiwa atau Roh kita jatuh ke jalan Sang Maya, maka Sang Paratman atau Sahabat Pengamat kita ini pun mengikutinya, menegurnya, menjaganya, memberikan peringatan-peringatan kepada sang Jiwa kita ini, dan tak sekalipun Sang Paratman ini mengabaikannya, Ia bahkan menuntun sang Jiwa ini kembali ke jalannya yang benar. Dengan caraNya Sendiri Sang Paratman ini mengajari, mempengaruhi dan mengajak sang Jiwa yang tersesat ini kembali ke arahNya. Maha Besar dan Pengasih, Ia sebenarnya, karena selalu menyelamatkan kita semua dari jalan kesesatan dalam hidup ini, agar tercapai misi kita yang seharusnya kita lakukan, yaitu bersatu kembali denganNya. Sang Paratman adalah “bintang-harapan” kita yang akan selalu menuntun kita dalam kegelapan duniawi ini, sehingga akhirnya tak ada satu jiwa pun yang akan tersesat, semuanya akan dituntun ke arahNya. Sebenarnya Ia adalah tujuan kita semuanya, kalau saja kita mau menyadari hal ini secara sejati.
23. Seseorang yang mengetahui (menyadari) tentang Purusha dan Prakriti dengan segala kualitas-kualitasnya, apapun keadaannya — ia tak akan lahir kembali.
Seseorang yang sadar tentang pengetahuan Purusha dan Prakriti ini dengan ketiga guna (sifat atau kualitas) nya, akan menuju ke arah pembebasan, yaitu lepas dari dunia ini dan bersatu denganNya. Seseorang yang benar-benar sadar siapa Sang Purusha Yang Maha Agung dan Suci ini betul-betul adalah seorang yang telah bebas.
24. Sementara orang menyaksikan Sang Atman melalui Sang Atman dengan jalan meditasi (dhyana), sementara orang lagi menyaksikan melalui jalan Sankhya-yoga (jalan ilmu pengetahuan), dan sementara orang lagi melalui Yoga perbuatan (tindakan, aksi atau pekerjaan)
25. Yang lainnya lagi, tidak mengenal jalan-jalan yoga ini, memuja, karena pernah mendengarkannya dari yang lain-lainnya; dan mereka pun lepas dari kematian, pedoman mereka adalah skripsi-skripsi (shruti).
Ada empat metode yang menuntun kita ke arah Yang Maha Esa, atau yang disebut juga Purusha Yang Maha Agung dan Suci dan juga boleh disebut Kebebasan atau Penerangan. Masing-masing metode terurai di bawah ini:
a. Meditasi (dhyana) — Banyak yang melakukan metode ini, dan menemukan Sang Jati Diri   di dalam dirinya sendiri. Dengan bermeditasi kita mencoba untuk berhubungan dengan Sang Atman secara konstan dan penuh konsentrasi, dengan menjauhkan segala gangguan. Yang penting dalam meditasi adalah ketenangan, dan makin kita tenang dan tak terusik oleh pikiran dan keadaan-keadaan di sekitar kita, maka makin mendekatlah kita kepadaNya. Berbicara tanpa henti malahan membuang-buang energi. Sebaliknya ketenangan dalam meditasi menjauhkan kita dari hal-hal yang buruk dan kesalahan-kesalahan duniawi. Sebaiknya dan seharusnya setiap hari kita menyediakan sedikit waktu kita untuk berdiam diri dan menyatu denganNya. Dapat kita mulai dengan lima menit saja dahulu, kemudian meningkat sampai setengah atau satu jam secara bertahap. Janganlah jadi budak dari pekerjaan-pekerjaan kita, dari kenikmatan dan penderitaan kita, dan dari kesibukan kita yang tak kunjung ada habisnya. Sisihkanlah sejenak waktu setiap pagi dan malam untukNya, dan dapatkanlah kenikmatan yang tak dapat diperoleh di semua kesibukan, kenikmatan dan penderitaan duniawi kita. Sekali tercapai komunikasi denganNya, kita akan mengalami keajaiban-keajaiban yang akan mengubah cara hidup kita, dan makin tabah dan tegarlah kita dalam menghadapi kehidupan yang unik ini. Ketenangan yang utama adalah dengan memulainya dalam kehidupan dan diri kita sendiri, dan jalan terbaik adalah dengan berlatih meditasi dan selalu berusaha untuk bersatu denganNya, Yang sebenarnya bersemayam tidak jauh, tetapi dalam diri kita masing-masing, agar tercapai jalan kehidupan yang suci dan sempurna.
Ada yang perlu dilakukan dalam bermeditasi, yaitu mengucapkan japa secara berulang-ulang. Japa atau mantra ini dapat bermacam-macam sesuai yang diberikan oleh sang guru meditasi, tetapi semakin pendek japa ini, semakin efektif hasilnya. Misalnya satu kata OM atau Tuhan atau Allah atau Hari atau Rama atau Kreshna atau Yesus, dan lain sebagainya yang sebaiknya dipilih sendiri yang sesuai dengan diri kita pribadi, yang sesuai dengan hati sebaiknya dipilih sendiri yang sesuai dengan diri kita pribadi, yang sesuai dengan hati nurani dan panggilan jiwa kita sendiri. Pilihlah atau temukanlah sendiri satu kata atau beberapa kalimat puja-puji yang menggambarkan kebesaran Yang Maha Esa, dan sewaktu bermeditasi ucapkanlah berulang-ulang penuh konsentrasi, dedikasi dan kasih. Lama-kelamaan kata yang spesifik tersebut atau juga japa dan mantra yang telah teringat itu akan terus mengiang atau terucap dalam kita melakukan pekerjaan kita sehari-hari, bahkan di tengah-tengah kesibukan atau sedang berolah-raga misalnya. Kalau ada problem yang datang mengganggu ucapkan kata sakti tersebut, memohon Yang Maha Esa untuk melindungi kita semua, dan usahakanlah untuk menyatu denganNya selalu di mana saja dan kapan saja dan lama-kelamaan perhatikanlah efeknya. Seluruh hidup kita akan berubah menjadi lebih stabil dan tenang, dan kita jauh dari segala gejolak nafsu kita dan juga jauh faktor-faktor buruk dan negatif, secara bertahap tetapi pasti hidup akan bertambah tenang, stabil dan kesadaran akan menyusup masuk ke dalam diri kita berkat kasihNya yang tak terbatas.
Bagi sementara orang atau para pemula, bermeditasi dengan membayangkan atau memusatkan pikiran pada suatu bentuk juga sangat bermanfaat; contoh, membayangkan wajah atau figur Sang Kreshna, Rama, Shiva, Buddha untuk mereka yang beragama Hindu dan Buddha. Dan untuk mereka yang beriman Kristiani dengan membayangkan figur Tuhan Yesus, dan lain sebagainya sesuai dengan masing-masing kepercayaannya.
b. Metode Sankhya – metode dengan dasar intelektual atau ilmu pengetahuan yang mencoba atau mempelajari tentang Sang Jati Diri, sebagai sebagian dari Yang Maha Esa.
c. Karma-yoga — yaitu metode kerja atau tekad tanpa pamrih dan penuh dengan pengorbanan dan disiplin bagiNya semata. Sang karma-yogi dalam hal ini melakukan semua perbuatan, tugas dan pekerjaan duniawinya dalam bentuk dedikasinya kepada Yang Maha Esa dan tak mengharapkan apapun juga dari hasil pekerjaannya ini, yang semuanya diserahkan secara utuh dan bulat-bulat kembali kepadaNya. Hidup sang karma yogi jadi suci dan bersih karena setiap tindakan dan efeknya dipasrahkan kepada Yang Maha Esa dan ia selalu berpikir dan berkata terjadilah kehendakNya” dan ia pun menerima semua kehendakNya tanpa protes dan penuh ketenangan, walaupun yang ia terima itu dalam bentuk suka dan duka, nikmat atau penderitaan, baik atau buruk, positif atau negatif, semuanya diterima dengan kasih dan dedikasi sebagai kehendak Yang Maha Kuasa juga. Hidupnya adalah pencetusan dari kehendak Yang Maha Kuasa, dan diterimanya tanpa pamrih.
d. Metode upasna — dalam metode ini seseorang memuja Yang Maha Esa sesuai dengan yang dipelajarinya atau yang didengarkannya dari sang guru atau orang-orang lain. Cara ini dilakukan oleh para pemula. Dan lama-kelamaan mereka pun terangkat ke permukaan pemujaan mereka dan mendapatkan penerangan Ilahi. Ternyata Yang Maha Pengasih secara amat bebas membuka berbagai jalan untuk mencapaiNya, jalan atau metode apa saja yang diambil seseorang, yang penting adalah dedikasi, kesetiaan, dan kasih yang tulus kepadaNya, dan Ia akan selalu beserta kita menuntun kita ke jalanNya yang terang dan  suci.
26. Benda atau makhluk apapun yang dilahirkan, oh Arjuna, baik ia bergerak maupun tidak bergerak, ketahuilah itu datang dari gabungan antara ladang dan Yang Mengetahui ladang ini.
Setiap benda atau makhluk, atau apapun saja yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa di alam semesta ini tercipta karena gabungan atau kombinasi dari Kshetra (ladang) dan Kshetragna (Sang Pengenal Ladang), gabungan dari Purusha dan Prakriti, dari Sang Jiwa dan benda atau alam dan sifat-sifatnya.
27. Seseorang yang melihat Tuhan Yang Maha Agung dan Suci bersemayam secara sama di setiap benda dan makhluk, Yang Maha Tak Terbinasakan dalam setiap benda atau makhluk yang dapat binasa — ia benar-benar melihat.
Yang Maha Esa bersemayam dalam setiap bentuk ciptaannya secara adil sama rata, jadi lupakanlah pendangan atau rasa yang penuh diskriminasi atau yang merendahkan martabat orang lain atau sifat melecehkan makhluk lain. Diskriminasi akan kasta atau orang-orang yang dianggap berdosa dan buruk harus dijauhi, ingat Yang Maha Kuasa hadir dalam semuanya tanpa diskriminasi! Ia hadir di setiap sisi dan sudut alam semesta ini dalam berbagai ciptaan-ciptaanNya. Jangan sekali-kali memandang tinggi kasta kita, kedudukan atau pun martabat dan kekayaan kita, apalagi kemampuan kita berbuat sesuatu, karena semua itu sebenarnya tidak berarti sama-sekali di mataNya. Yang berarti hanyalah la dan kehadiranNya di mana saja, baik yang di kecil maupun yang di besar.  Siapakah kita ini sebenarnya yang hanya bisa membeda-bedakan saja, yang hanya bisa melihat baik dan buruk seseorang tanpa mau tahu akan hakikat dari kebenaran kehidupan ini. Mengetahui kehadiran Yang Maha Esa di setiap ciptaanNya berarti menghilangkan rasa takut, benci, diskriminasi, iri-hati pada sesama kita, dan sebaliknya kemudian menimbulkan kasih-sayang kepada sesama kita baik itu berupa manusia, makhluk-makhluk di alam semesta ini, pepohonan, batu-batuan dan semua unsur-unsur alam di sekeliling kita.
Ia Yang Maha Kuasa adalah Yang Tak Terbinasakan tetapi Ia hadir dalam setiap ciptaan-ciptaanNya yang tak pernah abadi, yang selalu binasa dan lahir lagi. Ini mengingatkan kita kepada dialog antara St. Catherine dari Sienna dalam komuninya dengan Yesus Kristus. la bertanya kepada Tuhan Yesus, “Siapakah daku, Tuhan? Dan beritahu daku siapakah Engkau?” Dan Yesus menjawabnya, “PutriKu, engkau adalah yang tiada dan Aku adalah yang Ada.” Yang Ada ini selalu hidup dalam yang tiada, yaitu kita semuanya ini, dan sadarlah akan sesuatu hal, mengapa Yang Ada ini mau dan bersedia tinggal dalam diri-diri kita ini, yang sering oleh kita sendiri dianggap sebagai tubuh-tubuh atau raga-raga yang penuh dengan dosa-dosa dan nafsu-nafsu iblis? Betulkah semua perkiraan kita ini? Ataukah pernah terpikir oleh kita semua, bahwa Yang Maha Esa menciptakan raga ini sebagai suatu tempat bersemayam yang sifatnya agung dan suci, kalau tidak mengapa pula Ia (Sang Atman) mau bersemayam di dalam diri setiap makhluk-makhlukNya?
Lihatlah sisi lain dari alam semesta dan ciptaan-ciptaanNya ini, bukankah semua ini adalah refleksi atau cermin dariNya semata, dari keindahanNya, dari kesucian dan keagunganNya. Dan kalau anda setuju akan konsep ini, maka bernyanyilah, memujalah, berbahagialah dalam DiriNya. la hadir dalam diri kita dan kita ada dalam DiriNya, seharusnyalah kita berorientasi kepadaNya dan jangan mempergunakan kebebasanNya secara salah dan kemudian terseret dan terjebak oleh Sang Maya. Satukan diri kita dengan alur Ilahi Yang Murni dan Suci, bergembiralah kepadaNya. Ingat kita ini adalah kuil-kuil suci tempat la bersemayam, dan seharusnya kita bertindak suci dan murni. Renungkanlah pemikiran ini. Om Tat Sat.
28. Melihat, secara benar, Tuhan Yang Sama hadir di mana pun juga, seseorang tak akan merusak Diri ini dengan dirinya, dan dengan berbuat demikian ia mencapai Tujuan Yang Suci dan Agung.
Seperti kita ketahui sekarang, maka di dalam setiap makhluk yang bernyawa hadir bentuk “diri” yang rendah dan kecil sifatnya, dan juga bentuk “Diri” Yang Agung dan Tinggi sifatNya, yaitu yang disebut Sang Atman, Yang Maha Esa itu Sendiri dalam bentuk yang bersifat sebagian dariNya juga. Menyadari hal ini, seseorang tak akan membiarkan jiwa-raganya membunuh atau mengotori dan menodai DiriNya Yang Agung dan Suci yang bersemayam di dalam jiwa-raga itu sendiri, dan kesadaran semacam ini akan menuntun kita ke arah Yang Maha Esa atau dengan kata lain ke Tujuan Yang Suci dan Agung.
29. Seseorang yang melihat bahwa semua perbuatan dilakukan oleh Prakriti (alam) dan bahwa Sang Atman itu tak bertindak – ia melihat secara benar.
Alam atau Prakritilah yang bertugas untuk bekerja, beraksi atau bertindak dan berbuat, tetapi Sang Atman tak pernah melakukan apapun juga. la hadir sebagai saksi, penuntun, pengamat, tetapi ditegaskan Sang Kreshna, Sang Atman tidak berbuat suatu tindakan apapun juga. Semua perbuatan kita terjadi akibat dari ikatan kita pada guna-guna yang berkaitan dengan Prakriti. Sang Jiwa mengikuti kita terus selama kita mengembara di dunia fana ini sebagai saksi, penuntun dan pengamat kita dan dengan kasihNya melepaskan kita dari ikatan Prakriti ini yang diakibatkan oleh ulah kita sendiri yang terlalu bebas untuk ‘bermain’ dengan Sang Maya.
30. Bila seseorang menyadari bahwa berbagai bentuk kehidupan ini berakar pada Yang Esa dan terpancar (tersebar) keluar dari Yang Maha Esa, maka ia mencapai Brahman.
Menyadari seluruh alam semesta ini berasal dariNya secara sejati, apapun bentuk atau manifestasinya, maka seseorang yang benar-benar sadar secara sejati dan menghayati kesadarannya itu dalam kehidupannya sehari-hari langsung juga akan segera menyadari akan hakikat Yang Maha Esa. Melihat atau menyadari Yang Maha Esa adalah mencapaiNya.
31. Sang Atman Yang Tak Terbinasakan, Yang Agung dan Suci ini, oh Arjuna, tak bermula dan tanpa guna (sifat-sifat Prakriti). Dan walaupun la bersemayam di dalam raga, tetapi la tak bertindak atau pun terpengaruh oleh tindakan (raga ini).
Sang Paratman, Yang bersemayam secara Agung dan Suci dalam diri kita ini, dikatakan oleh Sang Kreshna sebagai tak bermula, dan tanpa sifat-sifat Prakriti. Walaupun Ia selalu hadir, Ia tidak bertindak sedikit pun, dan walaupun Ia hadir di dalam raga kita Ia juga tak tercemar oleh tindakan-tindakan kita yang buruk dan negatif, begitupun Ia tak tersentuh oleh perbuatan-perbuatan kita yang baik dan positif. Ia tak terpengaruh sedikit pun oleh kita, sebaliknya makin kotor perbuatan kita maka makin jauhlah kita ini dariNya, dan makin positif tindakan kita, maka makin teranglah Ia hadir ke hadapan kita. Maka ibaratkanlah diri kita sebagai cermin yang bersih, agar refleksi atau bayanganNya tersingkap atau jatuh secara jelas di raga kita ini. Renungkan ini dengan seksama. Ia jauh kalau kita jauh, Ia dekat kalau kita dekat. Padahal sebenarnya Ia selalu dekat di dalam diri kita.
32. Bagaikan ether, walau hadir di mana pun juga, tak pernah ternoda, karena bentuknya yang lembut (tak terlihat), begitu pun Sang Atman, walau hadir di raga mana pun, (la) lepas dari segala noda-noda.
Bagaikan ether yang terdapat di seluruh alam semesta ini dan menjadi penunjang hidup kita yang amat vital, tetapi tak pernah terlihat oleh mata kita karena sifat-sifat alaminya yang demikian lembut, maka begitu juga Sang Atman Yang Mana Hadir di mana saja dan kapan saja dalam setiap ciptaan-ciptaanNya tak pernah nampak oleh mata duniawi kita karena kebodohan dan kekurangan-pengetahuan kita, maka singkapkanlah semua kebodohan kita ini agar dapat kita mengenalnya lebih terang lagi, dan masuk menyatu kedalamNya. Om Tat Sat.
33. Bagaikan satu mentari yang menyinari seluruh dunia ini, maka begitu juga Penguasa dari ladang ini menyinari seluruh ladang ini, oh Arjuna!
Perumpamaan satu mentari dengan Sang Atman Yang Juga Eka (satu) sifatnya adalah suatu perumpamaan yang menarik, karena Sang Surya walaupun hanya satu yang terlihat dari bumi ini (dunia ini), ternyata mampu menyinari seluruh bumi kita bahkan juga rembulan dan spasi-spasi diantara bumi dan bulan dan juga sekitarnya. Sang Surya dari kejauhan nampak kecil dan amat terang-benderang, tetapi sebenarnya ia amat jauh letaknya dari bumi kita ini. Begitupun Sang Atman, la dekat tapi jauh, la jauh tetapi dekat, bahkan sangat dekat dan menerangi kita semua. Dan seperti juga Sang Surya yang menerangi kita tetapi tak tercemar oleh perbuatan kita, maka Sang Atman pun tak pernah tercemar atau ternoda oleh perbuatan-perbuatan kita yang buruk atau terpengaruh oleh perbuatan-perbuatan yang baik.
Suatu saat, Sokrates, seorang filsuf terkenal dari Yunani di masa lalu, pernah ditanya oleh salah seorang muridnya tentang ‘kebaikan,’ yang selalu diajarkan Sokrates kepada murid-muridnya, dan Sokrates menunjuk kepada matahari sebagai suatu contoh dari ‘kebaikan’ yang selalu hadir dari masa ke masa, dari waktu ke waktu, tetapi tak pernah tercemar oleh bumi dan manusia. Mungkin pemikiran atau ajaran Sokrates ini pun baik untuk kita renungkan untuk lebih menghayati akan kebesaran dan kehadiran Sang Atman dalam diri kita. Sang Surya selalu bersinar tanpa bosan-bosannya demi alam yang harus ditunjangnya. Bukankah Yang Maha Esa itu Sendiri bersifat atau berkarakter demikian juga, selalu mengasihi tanpa bosan-bosannya dan tanpa henti-hentinya kepada kita semuanya, walaupun sering sekali kita tersesat dalam perjalanan hidup kita ini. Tetapi Ia Maha Penunjang dan Penuntun kita semuanya. Om Tat Sat.
34. Mereka yang melihat perbedaan antara ladang dan Sang Pengenal Ladang ini, dengan mata kebijaksanaan, dan yang sadar bagaimana makhluk-makhluk maupun benda-benda dapat lepas dari Prakriti – bebas dari bentuk alam – mereka benar-benar pergi ke Yang Maha Agung dan Suci.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya-Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka bab ketiga-belas ini disebut:
Kshetra Kshetragna Vibhaga Yoga
Atau
Ilmu Pengetahuan tentang Perbedaan antara Ladang dan Sang Pengenal Ladang

Bersabdalah yang maha pengasih
1.Sekali lagi akan Ku sabdakan kepadamu kebijaksanaan Yang Suci dan Agung –kebijaksanaan yang terbaik dari semua kebijaksanaan-  mengetahui hal mana, para resi kemudian menuju kearah kesempurnaan yang paling tinggi.

2.Berlindung pada kebijaksanaan ini, mereka lalu bersifat sama dengan Ku. Mereka tidak lahir pada waktu penciptaan dan tidak binasa    pada waktu penghancuran (kiamat).
Sang Kreshna di Bab ini menguraikan mengenai pengetahuan tentang ketiga guna (sifat-sifat alami), kemudian hubungan guna ini    dengan prakriti dan penguasaan atas guna ini oleh para resi dan orang-orang suci di zaman dahulu kala. Dengan menguasai ketiga guna    ini maka akan tercapailah kebijaksanaan yang agung dan suci dari hidup ini. Dan dengan mencapai kebijaksanaan ini para resi dan    orang-orang suci itu telah mencapai kesempurnaan yang agung dan suci yang disebut nirvana atau pari-nirvana.
Berlindung dibawah kebijaksanaan ini para orang-orang suci ini lalu diberkahi oleh yang maha esa sifat-sifat identik dari diri Sang    Kreshna dan merekapun lalu tumbuh dan hidup dalam bentuk Sang Kreshna yang suci dan agung. Inilah hasil mengikuti dengan setia    dan penuh dedikasi ajaran-ajaran Sang Kreshna. Dengan kata lain mereka ini, para orang-orang suci, berasimilasi dengan sari atau inti    Sang Kreshna itu sendiri; atau dengan bahasa singkat dan sederhana, menyatu dengan Sang Kreshna.
Dan sekali bersatu denganNya, mereka ini lepas dari kehidupan duniawi ini, lepas juga mereka ini dari siklus lahir dan mati yang    berulang-ulang, bahkan penciptaan dan penghancuran kehidupan-kehidupan berikutnyapun mereka tidak diikut sertakan lagi karena    dianggap Yang maha Esa mereka ini telah mencapai status pari-nirvana, yaitu menyatu denganNya kembali secara abadi. Om Tat Sat.

3.KandunganKu adalah Sang Brahma yang agung; dan disitu aku letalkan benih ini, dari kandungan ini lahirlah setiap benda dan mahluk,    Oh Arjuna.

4.Dalam setiap kandungan apapun juga, lahir berbagai bentuk kehidupan, Oh Arjuna, dan Sang Brahma Agung adalah kandungan mereka ini, dan Aku adalah Sang Ayah yang menabur benih-benih ini.
Yang dimaksud dengan Sang Brahma Agung di sini adalah mahad-brahma, yaitu Sang Maya yang juga diibaratkan atau disamakan dengan kandungan di mana Sang Kreshna sebagi seorang Ayah menaburkan benih-benihNya, yang kemudian tumbuh menjadi berbagai bentuk ciptaan-ciptaanNya.
Mahad-Brahma atau Sang Brahma yang agung ini juga sama dengan Prakriti atau alam ini, dan Sang Kreshna adalah Ayah atau Bapak dari setiap benih yang ditaburkanNya. Jadi hanya Ia yang dapat menentukan lahirnya seseorang atau makhluk atau benda di alam semesta ini dan ingat di dalam setiap ciptaanNya terdapat Sang Jiwa atau juga benih kehidupan yang bersal dariNYa. Dan menurut Bhagawat Gita, maka benih yang ditaburkan ini berasal dari Sang Kreshna, Yang Maha Esa, jadi dengan kata lain dalam setiap ciptaanNya hadir sebagian dari Yang Maha Esa, atau Yang Maha Esa itu sendiri ada di dalam setiap Ciptaan-ciptaanNya Sendiri. Sayang sekali, kita manusia sering sekali lupa bahwa kita berasal dari benih Yang Agung dan Suci, dan kita lebih suka tenggelam dalam alur kehidupan duniawi ini, dalam kandungan Sang Maya itu sendiri. Padahal Sang Maya atau Prakriti ini hanyalah alat yang mengandung kita dan menumbuhkan kita agar kita tumbuh dan lahir untuk kembali kepadaNya lagi. Bukanlah itu maksud dan tujuan Yang Maha Esa, tetapi kita diberikan kebebasan untuk memilih maka kebanyakan kita memilih untuk terus tinggal di dalam kandungan Sang Maya yang penuh ilusi kenikmatan, padahal itu semua berada di dalam kegelapan. Pikirkanlah dengan seksama, bukankah kita semua harus kemnbali dan berbakti pada Ayah kita Yang Agung dan Suci dan menyatu kembali denganNya? Pikirkanlah secara seksama dan menurut hati-nurani anada mana yang benar dan mana yang salah? Dengan kasih Sang Ayah yang suci dan Agung ini pasti kita akan dituntun kembali kepadaNya. Om Tat Sat.

5. Ketiga kualitas (guna), yaitu sattva, raja dan tama lahir dari Prakriti. Mereka ini mengikat erat di dalam raga, Oh Arjuna, Yang Tak Terbinasakan yang bersemayam di dalam raga.
Ketiga guna atau kualitas alami ini yang lahir dari Prakriti dan merupakan sifat-sifat dominan dari Sang Prakriti itu sendiri, selalu hadir dalam diri kita. Setiap tindakan kita sebenarnya didasarkan pada ketiga sifat Prakriti ini, dan ketiga sifat ini sedemikian dominannya di dalam raga kita sehingga diibaratkan mengikat Sang Atman (Yang Tak Terbinasakan) yang bersemayam di dalam diri kita. Ikatan erat ini begitu gelap sifatnya, sehingga kita yang sudah mabuk duniawi ini tidak dapat melihat Sang Atman yang sebenarnya hadir bercahaya terang di dalam diri kita sendiri.

6. Diantara sifat-sifat ini, sattva, karena kesuciannya, membawa penerangan dan kesehatan. Sifat ini mengikat dengan ikatan kebahagiaan dan ikatan ilmu pengetahuan, oh Arjuna.
Apakah sattva itu? Sattva adalah sifat-sifat kesucian atau kemurnian atau penerangan. Tetapi walaupun disebut kemurnian toh sifat ini dapat mengikat jiwa kita ke raga dan menimbulkan keterikatan. Sifat sattva membuat kita selalu berorientasi pada tindakan-tindakan yang baik dan pencarian ilmu pengetahuan yang benar. Tetapi sering sekali sattva pun mengarahkan kita kepada keterikatan-keterikatan dalam bentuk ilmu pengetahuan ini sehingga terikatlah seseorang pada pikiran-pikiran, analisis dan metode-metode dan lain sebagainya, dan semua ini menjadi tujuan ilmu pengetahuan mereka yang mempelajarinya, bukan jalan untuk mengenalNya, Yang Maha Pencipta. Semua ini membuat seseorang yang bersifat Sattva terikat pada pekerjaan dan kebaikan-kebaikannya, tetapi tidak membuat orang-orang ini berorientasi kepada Yang Maha Esa secara murni, padahal sifat dasar mereka ini sattvik.
Di dunia barat misalnya banyak terdapat ilmuwan yang bersifat sattvik, tetapi tujuan mereka hanya terpusat pada ilmu pengetahuan itu dan pemecahannyasecara ilmiah saja, mereka sama sekali tidak berpikir tentang Yang Maha Esa, Sang Pencipta ilmu-ilmu ini. Sebaliknya di timur, Yang Maha Esa masih manjadi tujuan atau akhir dari semua ilmu pengetahuan ini, sehingga tidak mengherankan kalau pada abad modern dewasa ini masih banyak orang yang dianggap pandai atau terpandang melepaskan jabatan mereka dan terjun ke dunia spiritual dan melepaskan semua ikatan-ikatan dan unsur-unsur duniawi mereka untuk mencari penerangan ilahi. Mereka ini benar-benar jalan dengan sifat-sifat sattva dan mengarahkan sifat-sifat suci ini untuk tujuan yang mulia dan tak mau terikat oleh sifat-sifat ini. Dengan kata lain, sifat-sifat sattva ini hanyalah alat-alat belaka bagi orang-orang suci ini.

7. Ketahuilah olehmu, oh Arjuna, bahwa sifat raja, yang berciri emosional ini adalah sumber dari keterikatan dan rasa tak puas. Dan sifat raja ini mengikat jiwa yang ada di dalam raga dengan keterikatan-keterikatan aksi atau perbuatan.
Sifat-sifat raja adalah energi, mobilitas, emosi dan raja juga berati keinginan atau kehausan untuk hidup. Dengan kata lain, sifat raja dapat diartikan energi yang penuh dengan keinginan dan nafsu-nafsu yang tak terpuaskan. Sifat ini adalah anak dari nafsu-nafsu yang kuat dan juga dari keterikatan itu sendiri. Raja mengikat kita, mengikat jiwa kita erat-erat ke Sang Prakriti melalui aktivitas dan aksi.
Di kala seseorang penuh dengan keserakahan atau penuh dengan kegelisahan eksternal yang dikarenakan aktivitas-aktivitasnya, maka dapat dipastikan sifat-sifat raja sedang berkuasa atas diri orang itu. Seseorang yang amat aktif, ambisius dan penuh semangat kerja atau daya juang yang tinggi untuk kebutuhan-kebutuhan duniawinya juga menunjukan sifat-sifat raja yang sedang dominan dalam dirinya.
Seseorang yang bersifat raja atau rajasik ini bekerja keras bagi dirinya sendiri, bukan untuk Sang Kreshna atau Yang Maha Esa. Ia ingin selalu berkuasa atau berpengaruh atas orang-orang disekitarnya. Seorang dengan sifat raja ini penuh dengan aksi, inisiatif, ambisi pribadi yang tinggi dan penuh dengan keresahan. Sebaiknya jika ia ingin keluar dari lingkaran raja ini, maka cara terbaik adalah bertindak, bekerja, beraksi atau berbuat demi Sang Kreshna atau Yang Maha Esa semata tanpa pamrih. Tetap bekerja apa saja sesuai dengan profesi dan kewajibannya, tetapi demi Yang Maha Esa, pekerjaannya kemudian dengan cara ini akan berubah menjadi yagna.

8. Tetapi sifat tama (kegelapan total yang penuh kekacauan) ketahuilah olehmu, lahir dari kebodohan dan adalah sifat yang memperbodoh jiwa. Sifat ini mengikat dengan ketidakperdulian, kemalasan dan tidur, oh Arjuna.
Sifat-sifat tama bukanlah bersifat energi atau penerangan, atau aktivitas atau kesucian. Sebaliknya adalah sifat-sifat kemalasan, ilusi kosong dan kebodohan yang berkepanjangan sifatnya. Sifat ini mengikat jiwa seseorang dengan kebodohan, kemalasan, dengan ketidak-acuhan terhadap setiap hal yang positif. Dengan kata lain di mana terlihat kegelapan total dalam diri seseorang maka sudah pasti sifat tama sedang berkuasa.
Seseorang yang bersifat tama hidup tak ubahnya seperti binatang saja. Ia makan, tidur, minum dan memenuhi hasrat-hasrat raganya saja dari saat ke saat. Tidak ada idealisme atau cita-cita dalam dirinya. Ia malas, bodoh, tak perduli dan selalu tak acuh pada hal-hal yang bersifat baik. Tetapi sifat tama ini juga bisa didobrak dan seseorang yang terjerat dalam lingkaran kebodohan ini dapat keluar juga. Caranya adalah dengan berdharma bakti kepadaNya semata, meminta perlindunganNya semata dan bekerja tanpa pamrih untuk Yang maha Esa. Sang Bayu (angin) tidak saja merambah dan bertiup diantara dedaunan pohon-pohon yang besar dan tinggi saja, tetapi Sang bayu juga bertiup diantara rerumputan liar dan kecil yang berada di bawah pohon-pohon besar ini. Yang penting adalah kemauan kita sendiri untuk merasakan tiupan ini, merasakan kehadiranNya diantara kita semuanya dan mau mengikuti ajaran-ajaranNya.

9. Sattva mengikat (seseorang) kepada kebahagiaan, raja mengikat kepada aksi, oh Arjuna. Dan sifat tama membungkus kebijaksanaan, mengikat seseorang kepada ketidak-perdulian.
10. Sewaktu sattva berada diatas raja dan tama, maka berkuasalah sattva, oh  Arjuna! Di kala raja berada diatas sattva dan tama, maka berkuasalah raja. Dan di kala tama berada diatas sattva dan raja, maka berkuasalah tama.

Bersabdalah Yang  Maha Pengasih:
1. Dengan akar-akarnya yang tumbuh ke atas dan cabang-cabangnya yang menurun, Ashvattha (pohon beringin yang abadi) ini dikatakan sebagai yang tak dapat dihancurkan. Dedaunannya adalah mantra-mantra Veda. Seseorang yang kenal akan pohon ini, kenal akan Veda-Veda.

Di sini Sang Kreshna menerangkan atau menggambarkan Prakriti (kosmos, alam semesta, atau dunia) sebagai pohon beringin yang abadi, yaitu Ashvattha. Kata Asvattha berarti ‘tidak stabil’ atau ‘selalu bergoyah.’ Pohon ini dipercaya oleh orang-orang Hindu sebagai sebuah pohon beringin yang mempunyai akar-akar yang tumbuh ke atas, dan cabang-cabangnya tumbuh ke bawah. Sebenarnya bukahkah dunia ini sama saja ibarat pohon beringin ini, yang abadi tetapi selalu tak pernah stabil, karena ia lahir dari Sang Maya. Akar-akar pohon ini tumbuh ke atas, ini diartikan terpusat kepada Yang Maha Esa.   Jadi dunia atau alam kosmos atau Prakriti atau Sang Maya adalah ibarat pohon beringin yang tak stabil ini, yang sebenarnya terpusat atau berakar pada Yang Maha Esa, Yang Maha Abadi dan Stabil. Yang Maha Abadi inilah sebenarnya Unsur Yang Abadi dan Stabil dan bukan alam semesta dengan segala efek-efeknya. Tetapi hanya manusia yang penuh dengan vairagya (lepas dari keterikatan duniawi) saja yang dapat melihat ‘pohon-dunia’ ini di dalam Yang Maha Esa dan sadar bahwa dunia ini sebenarnya berakar atau terpusat pada Yang Maha Pencipta dan Abadi.
Akar-akar pohon ini adalah Sang Maya, pohon beringin adalah Prakriti atau alam kosmos ini, dan tempat akar pohon ini berasal adalah Yang Maha Esa. Daun-daun dari pohon ini adalah mantra-mantra Veda-Veda. Dedaunan yang rindang ini diartikan sebagai ilmu pengetahuan sejati atau kasih Yang Maha Esa yang memberikan naungan atau keteduhan kepada mereka-mereka yang ingin berlindung dibawah pohon beringin yang rindang ini. Dengan kata lain dalam perjalanan hidup di dunia ini, kita semua dapat mencari keteduhan dan perlindungan dengan mempelajari mantra-mantra atau ajaran-ajaran Veda, ajaran atau pikiran-pikiran agung para resi dan orang-orang suci pada masa-masa yang telah lama silam, ajaran-ajaran ini tercakup dalam Veda-Veda dan kitab-kitab suci lainnya.
2. Ke bawah dan ke atas tersebar cabang-cabang pohon ini. Pohon ini mendapatkan sarinya dari guna-guna. Obyek-obyek indra adalah putik-putiknya. Menurun ke bawah, tumbuh lagi akar-akarnya yang lain, akar-akar ini menjadi pengikat setiap tindakan di dunia manusia ini.
Pohon ini mempunyai banyak cabang yang tumbuh ke atas dan juga tumbuh ke bawah. Cabang-cabang ini diartikan sebagai jiwa-jiwa Cabang-cabang yang mencuat ke atas adalah para dewa, yang ke bawah adalah manusia, fauna, flora, reptil, serangga, dsb. Semua cabang-cabang ini mendapatkan hidupnya dari sari atau makanan, dan makanan ini adalah air, udara, dan lain sebagainya. Yang disebut sari atau makanan ini adalah ketiga guna (sifat-sifat alam dari Prakriti). Sayang sekali kita manusia sering sekali atau setiap kali lebih tertarik akan sari atau makanan pohon kehidupan ini dan tidak sadar akan fungsi akar-akar yang ke atas yang terpusat pada Sang Pencipta. Kita lebih tertarik atau terikat pada guna, padahal itu hanyalah makanan atau penunjang dari cabang-cabang dari pohon kehidupan ini. Subyek utamanya malahan terlepas dari perhatian kita, karena enak dan nikmatnya makanan ini. Sang Pohon ini juga memiliki putik-putik bunga dan ini diartikan sebagai obyek-obyek luar atau eksternal (vishaya). Pohon beringin kehidupan ini juga mempunyai bentuk akar-akar yang lain yang menjuntai ke bawah. Akar-akar ini menurun dan mengikat pohon ini ke tanah. Akar-akar yang ke bawah ini diartikan sebagai vasana, trishna, raga-dvesha, semuanya ini adalah keinginan-keinginan dan nafsu-nafsu duniawi dan badani, yang mengikat pohon atau kehidupan ini pada karma (aksi) dan hukum-karmanya, mengikat kita semua pada kelahiran dan kematian yang tak ada henti-hentinya. Akar-akar yang tersembunyi di dalam tanah ini (vasana) mengikat manusia dunia ini ke dalam lingkaran-lingkarannya yang tak ada putus-putusnya.
3. Di sini tak dapat dibedakan bentuk asli Pohon ini, juga tidak akhir, asal, dan dasarnya. Tertancap kuat pohon Ashvattha ini. Tebaslah pohon ini sampai tumbang dengan senjata tak-keterikatan.
4. Dengan begitu dikau akan meniti jalan ke mana tak ada jalan kembali, dan dengan begitu dikau akan mencapai Yang Maha Utama Yang dariNya terpancar keluar Proses Kosmos ini (energi yang telah ada semenjak masa yang amat silam).
Sayang manusia tidak melihat atau menyadari Pohon ini secara keseluruhannya, dan tak mengerti akan kepentingan pohon ini. Manusia lebih terserap kepada daun-daunnya, pada buah-buah dan putik-putiknya, dengan kata lain manusia terjebak pada rasa manis dan kenikmatan yang dikeluarkan pohon ini dan langsung terjebak di dalamnya, dalam ilusi duniawi. Pohon ini sendiri tampaknya tidak bermula dan tak ada akhirnya; siapa pula yang akan pernah tahu akan asal-mulanya dan akhirnya? Bukankah Pohon ini berasal dari Sang Maya? Tetapi Sang Maya ada asal dan akhirnya, yaitu Yang Maha Pencipta. Sedangkan Sang Maya atau pohon Kehidupan ini sebenarnya hanyalah pantulan atau ilusi. Dan selama kita sibuk berkelana di hamparan luasnya pohon kehidupan ini, selama itu juga kita akan sesat di dalamnya tanpa jalan keluar karena begitu luas dan banyaknya jalan-jalan yang salah di dalamnya seakan-akan tanpa akhir. Maka di situ-situ juga kita akan berkelana tanpa pernah tahu akan hal-hal yang berada di luar itu, yaitu Sang Empunya pohon ini. Jalan satu-satunya untuk keluar dari pohon ini adalah menebasnya sama-sekali dan jalan atau metode ke arah penebasan ini adalah dengan menebas rasa keterikatan duniawi kita secara total dan pasrahkan hasilnya kepada Sang Kreshna, kepada Yang Maha Esa, dan la akan menyelamatkan kita semua dan menyatukan yang menebas pohon kehidupan ini, denganNya. Jalan ketidakterikatan duniawi ini berulang-ulang ditekankan dalam Bhagavat Gita karena inilah faktor yang amat vital untuk menyadari atau menyingkapkan kebodohan kita, agar terbuka ilmu pengetahuan yang sejati, ilmu tentang arti dan hakikat dari kehidupan ini yang sebenarnya, agar tercapailah kesatuan antara kita denganNya, yang menjadi tujuan utama mengapa kita dilahirkan sebagai manusia yang berakal-budi, tidak seperti ciptaan-ciptaan yang lainnya yang berbentuk fauna, flora dan benda-benda tak bergerak. “Seseorang yang dirinya tak terikat pada obyek-obyek luar, mendapatkan kebahagiaan yang ada di dalam dirinya sendiri,” kata Bhagavat Gita, dan lagi, “Seseorang yang telah melepaskan semua keinginan, dan hidup bebas dari keterikatan, mendapatkan ketenangan.”
Kebebasan dari keterikatan adalah penting dan perlu dihayati bagi seseorang yang ingin kenal dengan Yang Maha Esa, karena ini sudah merupakan syarat yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, dan kebebasan dari keterikatan ini harus dilaksanakan secara sadar dan tulus dan tidak dapat dibuat-buat. Sang Jiwa di dalam raga kita harus disadarkan dari ilusinya dan sang jiwa ini (bukan Sang Atman yang bersemayam di dalam jiwa ini!) harus melepaskan keterikatannya akan uang, harta-benda, berbagai miliknya seperti rumah, keluarga, negara, posisi, kedudukan, kemasyhuran dan sebagainya. Bukan berarti semua ini harus diabaikan atau ditinggalkan tanpa tanggung-jawab, tetapi rasa memiliki semua itu harus ditanggalkan, dan orang ini harus hidup secara amat sederhana saja, dengan merasa semua itu hanyalah titipan atau ilusi yang dapat datang dan pergi setiap saat. Bukankah agama-agama besar lainnya juga menyiratkan hal yang sama, bahwa harta-benda duniawi ini sebenarnya hanyalah pengikat jiwa kita ke dunia ini, dan selama jiwa kita terikat pada dunia ini, bagaimana mungkin sang jiwa membersihkan dirinya agar menjadi suci dan bersih dan mengenal Tujuannya Yang Sejati?
Jadi usahakanlah semaksimal mungkin untuk tidak terikat kepada dunia atau pohon kehidupan ini, bekerjalah demi dharma-bhakti kita kepadaNya semata. Hidup dan bekerjalah demi Ia semata dengan motto atau semboyan, “Aku ini sebenarnya tak memiliki apa-apa, dan aku ini sebenarnya bukan apa-apa.” Dengan menjadikan diri kita nol-besar dan tak memiliki apapun juga di dunia ini, maka akan turunlah Berkah Yang Maha Besar, yang kemudian akan menuntun pemuja ini ke arahNya yang abadi dan pasti. Ia hanya dikenal oleh mereka yang tak memiliki apapun di dunia fana ini selain dari DiriNya Yang Sejati. Cobaan yang maha berat sebenarnya bukan harta-benda, milik atau rasa hormat atau pun keluarga, tetapi adalah diri kita sendiri. Pengorbanan atau tak-keterikatan yang sejati sebenarnya adalah pemasrahan total dari diri kita sendiri. Kita mungkin bisa tak terikat pada harta-benda duniawi, tetapi selama kita belum melepaskan rasa ego kita, maka jalan kepadaNya masih terasa amat jauh atau bahkan nampak sia-sia saja. Kata seorang sufi yang suci, “Percuma saja mengganti baju dan cara makanmu, percuma saja engkau menyantap sehelai rumput selama hidupmu atau hanya memakai sehelai baju selama hidupmu, atau mengasingkan dirimu jauh dari masyarakat kalau engkau masih terbius oleh ego juga. Rasa ego sebenarnya juga salah satu keinginan atau nafsu diri yang amat licik dan lincah mempermainkan dan menipu seseorang.” Seseorang yang benar-benar tak terikat pada dunia ini adalah yang secara lahir dan batin telah berpasrah total kepadaNya. Orang semacam ini tak meminta atau bernafsu apapun juga, ia hanya menerima apa yang diberikan oleh Yang Maha Esa, ia hanya menerima semua kehendak Yang Maha Esa secara utuh dan tulus dan merasa puas dengan apa saja yang diterimanya. la selalu berdoa kepada Yang Maha Kuasa, “Tuhan, Engkau Maha Tahu, akan apa terbaik dan pantas untukku.” Om Tat Sat.
Seseorang pernah bertanya kepada seorang sufi mistik yang bernama Junayd Baghadi, agar memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, supaya sang sufi dapat melihat Tuhan Yang Maha Esa. Orang itu yakin bahwa Yang Maha Esa akan memenuhi permintaan sang sufi yang suci ini. Tetapi apa jawab sufi ini? la berkata dengan tenang, “Aku telah beritikad tidak meminta atau menginginkan sesuatu. Bukankah Nabi Musa pernah meminta melihat Tuhan dan doanya tak terkabul, sedangkan Nabi Muhammad mendapatkanNya tanpa pernah memintanya? Suatu waktu nanti kalau sudah tiba saatnya, maka Yang Maha Kuasa akan menghapus semua rintangan dan memperbolehkan aku melihatNya sendiri tanpa aku harus memintanya.” Dengan cara berpasrah total kepadaNya, tanpa keterikatan duniawi, tebaslah pohon kehidupan yang penuh dengan ilusi ini, agar tampak Sinar Terang Ilahi menuntun kita kepadaNya juga. Caranya dengan sekali lagi bertekad untuk tidak terikat kepada semua unsur atau obyek-obyek duniawi ini dan hanya berpasrah total kepadaNya dan menerima semua kehendakNya sebagai pemberian dariNya.
5. Mereka pergi ke Rumah Yang Tak Dapat Dihancurkan, mereka ini tak memiliki rasa keangkuhan dan rasa moha (cinta-kasih yang mengikat), yang telah menang dan bangkit atas keterikatan yang baik dan buruk, yang selalu terpusat pada Sang Adhyatman, yang telah meninggalkan nafsu-nafsunya, yang telah bebas dari rasa dvandva (rasa dualisme yang saling bertentangan), dari kenikmatan dan penderitaan.
6. Tiada surya atau pun chandra atau agni yang bersinar di sana; tiada juga yang setelah sampai di sana kembali lagi. Itulah kediamanKu yang suci dan agung.
Maka mereka ini pun pergi ke tempat yang tak ada jalan kembali ke dunia ini. Mereka-mereka ini yang hati dan hidupnya sederhana dan tak terpengaruh oleh noda-noda duniawi. Mereka yang telah mengalahkan semua ikatan-ikatan duniawi, nafsu dan emosi, yang hidupnya terfokus atau terpusat pada Sang Adhyatman, Yang Bersemayam di dalam diri mereka masing-masing, Sang Atman. Mereka ini hidup di dalam Rumah Abadi Sang Kreshna, dan di Rumah ini tak diperlukan cahaya mentari, rembulan atau pun cahaya api untuk meneranginya karena cahaya Sang Kreshna Sendiri sudah tak tertandingi terangnya di sana.
7. Sebagian dari DiriKu Yang Abadi ditransformasikan dalam dunia kehidupan, ke dalam jiwa yang hidup, dan menarik melingkupi dirinya dengan indra-indra yang mana sang pikiran adalah indra yang keenam — yang terbungkus dalam bentuk benda.
Dalam Pohon Kosmosnya Sang Prakriti terlahir jiwa-jiwa, individu-individu, dan lain sebagainya. Dan siapakah mereka semua ini dan juga kita? Setiap jiwa dan setiap makhluk adalah salah satu fragmen kecil dari Sang Kreshna Yang Maha Esa itu Sendiri, dan setiap fragmen atau bagian kecil ini timbul atau lahir ke dunia ini sebagai makhluk atau individu (jiwa-bhuta), sebagai jiwa yang berkelana dalam raga-raga yang berlainan bentuk dan ragamnya. Ditegaskan di sini bahwa semua jiwa-jiwa ini baik yang nampak maupun yang tak terlihat oleh mata kita, berasal dari Sang Kreshna juga, Yang Maha Abadi dan Esa. Inilah fakta-fakta yang dilupakan oleh manusia, dan manusia kebanyakan cenderung untuk tenggelam dalam dunia ini dengan segala kenikmatan dan penderitaannya, tetapi tidak mau mengenali diri dan jiwanya yang agung, yang merupakan sebuah fragmen dari Yang Maha Esa. Manusia cenderung mementingkan buah, cabang dari pohon kehidupan ini daripada asal pohon ini.
Fragmen-fragmen atau jiwa-jiwa ini kemudian diatur sedemikian rupa oleh Prakriti (Alam) agar terbungkus oleh indra-indra kita yang jumlahnya semua adalah lima indra organ dan satu indra pikiran. Sang Jiwa ini kemudian diatur sedemikian rupa sehingga bebas memilih terjerumus ke dalam nafsu-nafsu duniawi atau menyibak pembungkus Prakriti ini sehingga dapat melihat Sinar Terang yang sebenarnya ada di dalam dirinya sendiri, yaitu Sang Adhyatman, Sang Jati Diri, atau Yang Maha Esa iru Sendiri dalam bentukNya yang kecil. Sang Kreshna adalah Adi Purusha (Manusia Yang Terutama) di dalam (1) setiap jiwa yang berbentuk aneka-ragam dan (2) dan sebagai Alam Semesta secara keseluruhan. Ia lah Sang Jati Diri, Sang Jiwa dalam yang besar dan kecil, dalam alam semesta dan dalam makhluk-makhluk, roh-roh atau jiwa-jiwa, secara menyeluruh dalam setiap yang hidup ini. Ia adalah Adhyatman (Sang Atman Yang Tertinggi, Terutama dan menyeluruh dan sumber dari semua jiwa-jiwa ini)!
8. Sewaktu Yang Maha Esa (Sang Jiwa) memasuki sebuah raga dan sewaktu la meninggalkannya, la membawa serta semua indra dan pikiran ini dan pergi bersama mereka, ibarat sang angin yang menerbangkan wewangian dari tempat asalnya. (Contoh: wewangian bunga yang terbangkan jauh dari sang bunga itu sendiri.)
Sang Jiwa yang mengembara di alam kosmos ini dari satu tubuh ke tubuh yang lainnya, selalu membawa serta semua indra-indra ini dalam tubuh halusnya. Semua ini kemudian jadi asal-mula karma barunya lagi dalam kelahiran yang berikutnya.
9. Secara suci bersemayam di telinga, di mata, di kulit dan di hidung – dan juga di dalam pikiran — la menikmati obyek-obyek sensual.

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
1. Tidak memiliki rasa takut, kemurnian hati, ketegaran dalam ilmu dan yoga, memberikan dana, kendali diri, pengorbanan, mempelajari buku-buku suci, tindakan disiplin spiritual (meditasi, puasa, pantangan dan lain sebagainya), menjunjung tinggi kebenaran;

2. Tidak mencelakakan yang lainnya, kejujuran, jauh dari rasa amarah, penyerahan total hasil dari tindakan-tindakannya, kedamaian, tidak mencari-cari kesalahan, rasa sayang terhadap semua makhluk hidup, kesederhanaan, jauh dari rasa ketidak setiaan;
3. Keperkasaan (keberanian), pemaaf, dapat menahan penderitaan, kesucian, jauh dari rasa iri, bebas dari rasa sombong yang berlebih-lebihan — ini semua, oh Arjuna, adalah ciri-ciri seseorang yang lahir dalam keturunan yang suci.
Di dunia ini ada dua jenis manusia, yaitu yang suci dan yang bersifat iblis. Manusia-manusia yang lahir dengan karakter-karakter yang suci secara mendasar sudah spiritual sifatnya. Mereka-mereka ini adalah jiwa-jiwa yang hidup dalam raga tetapi tak terpengaruh oleh Sang Maya. Mereka ingat dan sadar akan kesucian yang menunjang mereka untuk sampai ke Rumah Tujuan akhir nanti. Segala perbuatan dan tindak-tanduk mereka memancarkan kesucian dan kemurnian bagi sesamanya dan diri mereka sendiri. Dalam tindak-tanduk mereka di dunia ini mereka tidak menunjukkan nafsu atau keinginan-keinginan duniawi baik dalam cara berpikir, aspirasi maupun perbuatan mereka. Mereka ini selalu terserap dalam yoga dan jauh dari segala bhoga (kenikmatan-kenikmatan duniawi). Semenjak lahir, dalam diri mereka telah nampak tendensi-tendensi suci. Bakat-bakat kesucian ini mereka bawa dari karma yang terdahulu, dan dipraktekkan dengan lebih aktif lagi di kelahiran mereka yang berikutnya secara lebih intensif.
Mereka-mereka yang dianggap memiliki ciri-ciri keturunan suci ini (daivi sampad), dan telah siap melangkah ke arah pembebasan duniawi ini menampakkan dua-puluh enam ciri-ciri atau tanda-tanda khas, seperti berikut ini:
1)   Tak memiliki rasa takut. Kita sering sekali dilanda rasa takut dan khawatir dalam hidup ini seperti takut dan khawatir kehilangan barta-benda, milik atau seseorang yang tersayang dan lain sebagainya. Seseorang yang telah menyerahkan atau memasrahkan semua tindakan dan hasil tindakan mereka kepada Yang Maha Esa, dan yakin akan kehendakNya semata tak akan pernah takut, khawatir dan gentar mengarungi hidup ini. Baginya hidup ini adalah suatu tindakan atau pekerjaan yang suci demi Yang Maha Esa, jadi tak ada lagi rasa takut dalam diri mereka, karena selain merasa tak memiliki sesuatu apapun juga di dunia ini, mereka ini juga dapat merasakan kasih-sayang Ilahi Yang Tak Terbatas yang tak dapat dirasakan oleh mereka-mereka yang belum sadar sepenuhnya.
2)    Kesucian atau kemurnian hati. Kebersihan hati berarti lepas dari segala unsur-unsur atau sifat-sifat palsu, betapa kecilpun sifat palsu itu. Biasanya seorang yang tabah dalam hidupnya dan sudah lepas dari segala rasa takut, akan berubah menjadi seorang ‘anak-kecil’ yang bersih dan murni hati dan tingkah-lakunya. Goethe pernah berkata, “Bersihkan dirimu dengan merendahkan dirimu.” Untuk menjadi murni dan bersih ini, seseorang harus selalu berpikir bahwa raga ini adalah ‘kuil dari Sang Atman Yang Suci dan Agung. Hati yang suci-bersih tak pernah menuntut atau mengingini apapun juga selain mengasihi Yang Maha Esa dan menerima semua kehendakNya semata tanpa pamrih. Jadilah dikau hati yang suci dan murni dalam segala tindak-tandukmu, dalam segala pikiran dan puja-pujimu.
3)    Ketegaran atau keteguhan dalam ilmu pengetahuan sejati mengenai Yang Maha Esa, dan ketekunan dalam yoga adalah praktek-praktek disiplin ketat dalam menekuni ilmu-sejati ini. Ketegaran ini dasarnya adalah moral dan iman yang kuat. Caranya ada beberapa macam dan semuanya menuntut keyakinan, ketekunan dan keteguhan yang tak ada putus-putusnya dalam melakukan: (a) meditasi setiap harinya, (b) usaha-usaha spiritual seperti puasa dan sembahyang dan lain sebagainya yang dipilih masing-masing individu, (c) cinta-kasih yang tulus pada setiap makhluk, benda dan sesamanya, (d) melayani atau bekerja tanpa pamrih demi membantu fakir-miskin, orang-orang tua, orang-orang sakit dan mereka-mereka yang pantas ditolong, dan semuanya ini harus dilakukan tanpa pamrih. Dalam melakukan semua usaha-usaha ini akan banyak ditemui hambatan-hambatan yang sukar dan sering sekali terjadi para pemula tumbang karena tidak melihat hasil yang nyata dan segera. Tetapi seseorang yang tegar akan berjalan dan melangkah terus dengan perlahan tapi pasti, dan suatu saat karena keyakinannya yang tegar ia akan sampai ke tujuannya yang mulia. la sadar sukar dahulu, mudah kemudian, itulah jalannya.
4)  Dana atau amal dianjurkan bukan saja dalam agama Hindu tetapi juga dalam agama-agama besar lainnya, dan ini merupakan salah satu jalan untuk membersihkan diri kita. Yesus sendiri berkata, “Secara cuma-cuma engkau telah menerimanya, secara cuma-cuma pula berikanlah!” Lalu apakah dalam hidup ini, kita benar-benar rela memberikan harta-benda yang kita kira sudah jadi milik kita kepada yang paling membutuhkannya? Relakah kita berkorban sedikit saja demi sesama makhluk atau manusia lainnya yang menderita? Sebenarnya dana atau amal-perbuatan yang baik tidak dihitung dari segi kuantitasnya melainkan dari segi kualitasnya. Dan yang paling penting dari semua itu adalah itikadnya, itikad yang ada di balik semua perbuatan baik itu. Dana atau amal itu datang dari hati-nurani kita yang tulus dan bukan dari harta-benda atau pun kedudukan kita, bukan juga dari paksaan atau keadaan tertentu. Sebuah senyum kecil yang simpatik untuk seseorang yang membutuhkannya adalah dana, memberikan air kepada seorang musafir yang kehausan adalah dana, menyingkirkan kulit pisang di jalan agar orang lain tidak terpeleset adalah dana, menyisihkan waktu sedikit untuk menolong seseorang yang memerlukannya adalah dana. Tiga faktor utama dalam ajaran agama Islam adalah amal, puasa dan sembahyang. Alkisah suatu waktu seorang yang bernama Bernard ingin bergabung dengan St. Francis dalam melakukan misi-misi sucinya, maka berkatalah St. Francis kepadanya, “Pertama-tama pergi dan juallah apa yang kau punya dan berikanlah kepada yang miskin dan papa.”
5)   Kendali diri, yaitu kendali pada indra-indra kita dan menguasai selera dan nafsu-nafsu kita yang selalu kelaparan akan obyek-obyek indra ini. Kuda-kuda liar dapat dijinakkan, begitupun indra-indra ini adalah ibarat kuda-kuda ini, merekapun harus dijinakkan. Bagaimana caranya? Jadilah engkau seorang kusir atau penunggang kuda ini dan bukan sebaliknya! Raga kita sebenarnya diciptakan agar menjadi karma-kshetra, tetapi kebanyakan diantara kita malahan menjadikannya bhoga-kshetra (ladang untuk mencicipi kenikmatan). Kuasailah semua trishna atau keinginan-keinginan dan selera-selera, kendalikanlah nafsu-nafsu dan hasrat-hasratmu, dan jadilah seorang majikan atas dirimu sendiri dan bukan sebaliknya! Intisari kebijaksanaan yang diajarkan oleh filsuf Sokrates adalah kata-kata yang berbunyi, “Kenalilah dirimu sendiri!” Intisari dari kebijaksanaan Hindu adalah, “Kuasailah dirimu sendiri!” Sedangkan Pythagoras yang terkenal itu pernah berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat disebut merdeka (bebas) yang tak dapat memerintah atas dirinya sendiri!”
6)  Pengorbanan, persembahan (yagna), jenis yagna atau pengorbanan ini ada banyak caranya. Persembahan spiritual ini didasarkan pada pemikiran bahwa dewa-dewa, manusia, dan makhluk-makhluk halus, semua ini membentuk suatu simfoni kehidupan. Yagna menunjukkan suatu itikad berkorban atau menolong sesama makhluk di dunia ini baik yang terlihat maupun yang tak terlihat, yang membutuhkan pertolongan kita di alamnya masing-masing. Yagna juga mengajarkan kita untuk menjadi sederhana dan tulus dalam hidup kita sewaktu kita melakukan yagna ini untuk para dewa, dan mengajarkan kita akan kewajiban dan perhatian kita pada para leluhur kita agar mereka tak terlupakan. Karena karma yang lalu para leluhur yang berada di alam sana hidupnya belum tentu bahagia, jadi mereka selalu saja membutuhkan pertolongan kita agar kuranglah dosa-dosa mereka. Pada hakikatnya yagna ini secara bertahap mengajarkan kita untuk berkewajiban dan berkorban secara murni kepada Yang Maha Esa. Untuk itu kita harus belajar dahulu dengan ber-yagna untuk para dewa dan leluhur. Intisari sesungguhnya dari yagna ini adalah berkoban secara tulus dengan mengorbankan seluruh hidup kita ini kepadaNya tanpa pamrih, yaitu bekerja demi Ia semata tanpa pamrih dan tanpa bosan-bosannya!
7)    Mempelajari skripsi-skripsi atau ajaran-ajaran suci (ini disebut Svadhaya).
Terangkan dalam ajaran-ajaran ini adalah pemujaan oral (puja-puji dan nyanyian) kepada Yang Maha Esa pada setiap kesempatan yang ada.
8)   Tapa atau tindakan-tindakan disiplin spiritual yang aneka ragam bentuknya seperti puasa, meditasi, dan berbagai tindakan disiplin spiritual lainnya. Intisari dari tapa ini adalah selalu berusaha untuk tidak berbohong kepada diri sendiri maupun orang lain, jadi setiap pembicaraan harus benar dan jujur, mencintai kebenaran dan kehidupan yang jauh dari kemewahan.
9)    Menjunjung tinggi kebenaran, tegas dan tulus dalam tindakan (arjavam). Mereka yang memiliki sifat-sifat yang suci dan agung selalu berkata dan bertindak tegas dalam setiap aspek kehidupan mereka, tetapi jiwa mereka sebenamya amatlah lembut, tulus dan jujur akan kebenaran. Inilah sebenarnya yang mendasari tindakan dan ucapan mereka yang tegas. Mereka juga amat tinggi dalam menjunjung nilai-nilai kebenaran walaupun untuk hal-hal yang amat kecil sekalipun.

Berkatalah Arjuna:
1. Mereka yang tidak kenal akan kaidah-kaidah suci ini, tetapi mempersembahkan pengorbanan dengan kepercayaan (iman) –bagaimanakah keadaan mereka ini, oh Kreshna? Apakah (mereka) ini tergolong sattva, raja atau tama?

Timbul pertanyaan yang wajar di dalam hati sang Arjuna, apakah perlu kita semua belajar tentang hukum atau kaidah-kaidah yang dikandung oleh skripsi kuno dan buku-buku suci lainnya? Apakah Bhagavat Gita sendiri tidak cukup atau memadai? Dan bagaimana dengan nasib mereka yang beriman tetapi tidak pernah membaca atau mengetahui tentang naskah atau skripsi-skripsi kuno ini? Sebenarnya hukum ini — karena sifatnya yang abadi, spiritual dan alami — secara otomatis akan bekerja sendiri. Tidak penting apakah setiap orang yang beriman itu pernah mendengar atau tidak akan hukum/kaidah ini. Sesuai dengan karuniaNya maka seseorang yang beriman akan belajar sendiri atau dengan kata lain mendapatkan sendiri semua kaidah-kaidah suci ini secara bertahap, dan ia akan memahami itu semua dengan baik. Yang penting, kita ini (setiap individu) harus jujur pada diri sendiri, dan walaupun tak pernah mendengar tentang sastra-sastra ini, seorang yang telah terpanggil ke jalanNya akan secara otomatis mempelajari dan mempraktekkan secara langsung semua kaidah dan hukum-hukum suci ini, sesuai dengan hati nuraninya, karena memang hukum ini sifatnya amat universal dan alami. Arjuna yang khawatir akan nasib seseorang yang beriman tetapi tidak kenal kaidah-kaidah suci ini, sebenarnya tidak perlu khawatir, karena yang penting adalah penghayatan dan pengamalan kaidah-kaidah itu sendiri secara tulus, dan bukan dengan membaca atau mengetahuinya. Kaidah-kaidah itu sendiri secara tulus, dan bukan semua itu datang dari Satu Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Pengasih dan Penyayang. Walau nampaknya kaidah-kaidah ini berlainan dalam berbagai ajaran agama, ajaran moral, kebatinan dan hukum tetapi intisarinya selalu Manunggal, yaitu Satu, dan semua itu selalu berporos dan kembali kepadaNya juga. Om Tat Sat.
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
2. Kepercayaan manusia (makhluk yang dapat binasa), yang lahir dari sifat-sifat mereka terbagi dalam tiga bagian — sattvik, rajasik dan tamasik. Dengarkanlah oleh mu semua ini.
3. Iman seseorang, oh Arjuna, adalah berdasarkan sifat seseorang itu. Manusia dibentuk oleh imannya: begitu imannya, begitu juga manusianya.
Shradda, atau iman atau kepercayaan, adalah ekspressi dari setiap sifat sejati atau asli dari individu itu sendiri yang sudah diatur oleh karma-karmanya. Begitu sifatnya, begitu juga prilaku orang itu. Kepercayaannya akan Yang Maha Esa, otomatis terpancarkan sesuai dengan sifat-sifat asli setiap individu yang tentunya berbeda-beda dari setiap manusia ke manusia yang lainnya, dan faktor ini juga akan membeda-bedakan prilaku manusia tersebut. Dan ada tiga golongan kepercayaan pada setiap makhluk yang hidup, terutama yang disebut manusia (makhluk yang juga dapat binasa), yaitu sattvik (dari sattva), rajasik (dari raja) dan tamasik (dari tama), yang hadir secara berbeda-beda dan dominan dalam bentuk dan kekuasaannya masing-masing.
4. Manusia-manusia yang bersih memuja para dewa, manusia-manusia yang bernafsu memuja para yaksha dan para rakshasa, dan yang lainnya, yaitu manusia-manusia yang berada dalam kegelapan — memuja hantu-hantu dan roh-roh yang bergentayangan.
Shradda (iman) yang bersifat sattvik ini menunjukkan kemurnian atau kesucian orang-orang dengan sifat ini, yaitu memuja Tuhan Yang Maha Esa atau para dewa-dewa yang dianggapnya Tuhan atau pengganti Tuhan. Dan sewaktu ajal mereka tiba, mereka ini pergi ke tujuan pemujaan mereka sesuai dengan imannya masing-masing. Mereka ini dapat saja mencapai penerangan atau nirvana pada akhir hayat mereka. Sifat-sifat rajasik adalah sifat-sifat yang penuh dengan energi. Iman rajasik adalah iman yang penuh energi, nafsu dan keinginan-keinginan bagi mereka yang menginginkan kekuasaan, harta-benda, sukses dan lain sebagainya. Mereka-mereka yang punya kepercayaan rajasik ini memuja para yaksha (dewa-dewa pemberi harta dan kesejahteraan duniawi) dan para rakshasa (setan dan iblis). Sedangkan sifat-sifat tamasik adalah sifat-sifat kegelapan total yang dimiliki oleh mereka-mereka yang kurang sekali pengetahuannya akan kebesaran Yang Maha Esa, mereka amat serakah dan tidak suci, amat sensual, malas dan penuh akan sifat-sifat gelap lainnya. Demi hasrat dan jalan pintas ke sukses dan pencapaian kesejahteraan duniawi ini mereka memuja roh-roh yang sesat, hantu, jin dan kuasa-kuasa gelap yang cepat mendatangkan kenikmatan bagi mereka.
5. Manusia-manusia yang menjalankan disiplin-disiplin spiritual secara negatif, yang tidak dianjurkan oleh skripsi-skripsi suci, yang telah terbiasa dengan kemunafikan dan rasa egoisme dan telah terseret oleh kekuatan nafsu dan keinginan (duniawi).
6. Manusia-manusia semacam ini tak memiliki akal-budi. Mereka merusak elemen-elemen raga mereka dan Aku yang bersemayam di dalam raga ini. Ketahuilah bahwa orang-orang ini berpikiran iblis.
Cara pemujaan juga merefleksikan iman atau shraddha ini. Dan seandainya seseorang memuja sesuatu unsur alami atau yang lainnya dengan menyiksa tubuh mereka atau merusak tubuh ini dengan sesuatu ritus-ritus tertentu, maka tapa, pemujaan atau usaha spiritual ini tidaklah suci sifatnya, tidak sinkron dengan kaidah-kaidah suci yang tertera di kitab-kitab suci Hindu kita ini; mereka yang merusak raga mereka demi kepuasan duniawi ini sebenarnya merusak “kuil yang suci,” kuil Sang Kreshna yang dilahirkan sebenarnya dengan tujuan yang suci, yaitu menyembah dan mengenal Yang Maha Esa dan bukan menjadi budak dari nafsu mereka. Raga ini pantang untuk dirusak karena sebenarnya bukan milik kita dan seharusnya dipergunakan untuk maksud-maksud yang positif, dan seandainya orang-orang ini masih saja merasa lebih benar dari yang dianjurkan oleh skripsi-skripsi ini, maka manusia semacam ini adalah manusia yang egoistik dan hanya mementingkan diri mereka sendiri dan menghalalkan segala cara demi tercapainya maksud-maksud duniawi mereka.
7. Pangan yang diperlukan oleh semua makhluk terdiri dari tiga jenis. Begitupun bentuk pengorbanan, tapa dan dana. Dengarlah perincian-perinciannya.
8. Makanan yang memperpanjang hidup dan menunjang kesucian, tenaga, kesehatan, kebahagiaan, dan kegembiraan, yang manis, lembut, penuh dengan gizi dan sesuai, disukai oleh orang-orang yang bersifat sattvik.
9. Makanan yang pahit, asam, bergaram, terlalu pedas, berbau, kering dan membakar, yang menimbulkan penderitaan, kesusahan dan penyakit disukai oleh mereka-mereka yang bersifat rajasik.

Berkatalah Arjuna:
1. Aku berhasrat, oh Kreshna, mengetahui kebenaran tentang sanyasa dan tentang tyaga.
Arjuna sebenarnya bertanya dan ingin mengetahui apakah perbedaan antara sanyasa dan tyaga. Sanyasa adalah meninggalkan setiap tindakan, perbuatan dan aksi (kamya-karma), yaitu tindakan dan perbuatan yang diikuti oleh keinginan-keinginan tertentu. Tetapi dalam hidup ini ada saja perbuatan atau tindakan-tindakan tertentu yang tidak bermotif egois seperti makan, tidur, mandi, jalan dan lain sebagainya yang tak dapat ditinggalkan atau diserahkan kepada Yang Maha Esa dalam arti harfiah, baik oleh seorang yang teramat suci sekalipun. Sedangkan kalau seseorang sama sekali tak bekerja atau berbuat sesuatu, maka orang semacam ini pun tentunya tak dapat disebut seorang sanyasin.

Sedangkan tyaga berarti penyerahan total hasil dari setiap tindakan, perbuatan dan aksi kita ini. Setiap buah atau hasil dari berbagai perbuatan kita dipasrahkan atau dikembalikan kepadaNya lagi. Semua pekerjaan orang semacam ini (sanyasin) adalah kewajibannya kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih atau mengharapkan sesuatu. Pekerjaan dan perbuatannya penuh dengan dedikasi semata; dedikasi inilah sebenarnya motor penggerak dari individu-individu semacam ini, dedikasi yang tanpa pamrih dan demi Ia semata.
Seorang tyagi (penganut tyaga) tidak akan menjauhi ketiga pekerjaan utamanya, yaitu: yagna, dana, dan tapa.   Tindakan-tindakan ini baginya adalah kewajiban, disiplin bagi diri pribadinya dan untuk tujuan sosial bagi sesamanya, berdasarkan kewajiban dan dedikasinya kepada Yang Maha Esa. Perbuatan dan pekerjaan ini bukan merupakan ikatan-ikatan duniawi tetapi sebenarnya adalah jalan ke arah pembebasan atau penerangan baginya. Sanyasa atau tyaga tidak berarti menjauhi pekerjaan atau hal-hal yang bersifat duniawi dan segala efek atau aktivitasnya, tetapi berarti tetap bekerja tetapi tanpa suatu motivasi, imbalan atau pamrih yang penuh dengan ego, keserakahan dan harapan. Semuanya seharusnya dilakukan dan dipersembahkan kembali kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih.
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
2. Para resi sadar bahwa sanyasa itu adalah penyerahan dari bentuk-bentuk pekerjaan yang diikuti oleh nafsu dan keinginan-keinginan tertentu; sedangkan tyaga oleh mereka-mereka yang bijaksana diartikan sebagai penyerahan total seluruh hasil atau buah sesuatu perbuatan yang dilakukan seseorang.
3. “Aksi harus dilepaskan karena ibarat iblis,” kata sementara pemikir. “Aksi-aksi seperti dana dan disiplin spiritual tidak boleh dilepaskan,” kata yang lainnya.
Banyak pemikir atau orang-orang pintar, para penganut ajaran Kapila (yang disebut ajaran Sankhya), mengutuk semua bentuk aksi, tindakan dan perbuatan karena bagaimanapun juga kata mereka tak ada pekerjaan, aksi atau sesuatu perbuatan yang tanpa maksud dan motif, sekecil apapun tindakan tersebut. Jadi menurut mereka setiap pekerjaan ada motivasinya, dan itu berarti menyandang dosha, dan dosha (dosa) inilah penyebab keterikatan kita pada dunia ini. Jadi semua bentuk aksi atau tindakan harus dilepaskan. Tetapi para pemikir golongan lainnya, yang disebut Mimansaka, berpendapat tindakan atau perbuatan pengorbanan (yagna), tapa dan dana harus dilaksanakan karena tindakan-tindakan ini menyucikan diri dan membantu seseorang mendaki tahap-tahap evolusi spiritualnya.
Apa yang dianjurkan oleh Bhagavat Gita sebenarnya adalah melepaskan semua keterikatan-keterikatan akan hasil atau buah dari semua yang kita lakukan dan perbuat. Dengan kata lain terjadilah kehendakNya adalah arti dari ajaran Bhagavat Gita. Semua pekerjaan atau kewajiban sehari-hari kita harus dilakukan demi kebenaran dan kebaikan (dharma) dan dedikasi kita kepadaNya. Seseorang benar-benar bertindak seandainya ia bertindak atau bekerja tanpa pamrih, tanpa mengharapkan sesuatu dari hasil perbuatannya.
4. Dengarkanlah sekarang, oh Arjuna, kesimpulanKu mengenai penyerahan total akan buah atau hasil kerja seseorang. Penyerahan total dari hasil kerja ini terbagi tiga sifatnya.
5. Perbuatan (tindakan) pengorbanan, dana (amal) dan disiplin-spiritual tidak boleh diabaikan, tetapi wajib dikerjakan, karena pengorbanan, dana dan disiplin spiritual adalah unsur-unsur yang menyucikan bagi mereka yang bijaksana.
Yagna atau pemujaan atau pengorbanan/persembahan adalah kewajiban bagi setiap manusia terhadap Yang Maha Kuasa. Dana atau amal adalah kewajiban terhadap guru-guru spiritual dan terhadap masyarakat atau yang membutuhkannya. Tapa atau disiplin spiritual adalah kewajiban kita terhadap diri sendiri sebenarnya. Mengabaikan ketiga tindakan positif ini sama saja mengotori diri sendiri dengan unsur-unsur duniawi yang negatif. Lakukanlah semua tindakan ini secara sattvik dan bersihkanlah raga, hati dan jiwa kita dari noda-noda duniawi ini.
6. Tetapi tindakan-tindakan ini pun harus dilakukan dengan mengesampingkan sesuatu pamrih.   Inilah, oh Arjuna, keputusan dan pandanganKu yang final.
Jadi walaupun ketiga faktor penting di atas harus dilakukan, tetapi tetap saja menurut keputusan akhir (keputusan final) Sang Kreshna, perbuatan-perbuatan itu harus dikerjakan tanpa mengharapkan sesuatu imbalan dalam bentuk apapun juga, baik secara spiritual maupun duniawi. Ini sudah merupakan keputusan Yang Tegas, dari Yang Maha Esa, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Di pihak lain setiap tindakan sehari-hari apapun juga harus tetap dilaksanakan tanpa pamrih tetapi demi kewajiban kita kepada semuanya dan terhadap Yang Maha Esa dan lokasangraha (kesejahteraaan demi kemanusiaan). Yang penting adalah penyerahan total dari semua nafsu dan keinginan, semua bentuk ego yang mementingkan diri sendiri. Kalau kita tidak mau menyerahkan pikiran-pikiran negatif ini secara total, maka timbullah kama (nafsu dan keinginan) yang sebenarnya sudah ada dan hadir dalam pikiran dan indra-indra kita.
Sering timbul pertanyaan bagaimana caranya untuk menyingkirkan kama ini? Menurut teori di Barat yang diilhami oleh Freud, maka sebaiknya kama dijadikan teman saja dan semua keinginannya dipenuhi saja. Tetapi ajaran Hindu menolak mentah-mentah hal ini, karena kama ini ibarat api dan kalau dipenuhi terus menerus semua hasrat-hasratnya maka ibarat memberi minyak pada api ini, yang akibatnya adalah makin membara dan membesarnya api ini. Lalu ada ajaran yang mengatakan tindaslah kama atau nafsu ini. Tidak, menindasnya tidak menolong sama-sekali, karena bentuk nafsu atau kama ini tidak dapat ditindas karena sifat-sifatnya yang tidak dapat dimengerti dan amat misterius, apalagi oleh mereka yang masih jauh dari jalan spiritual.
Jalan yang benar untuk menjauhkan kama atau nafsu ini adalah dengan abhyasa atau meditasi, dengan usaha upaya atau praktek yang berketerusan. Dengan kata lain, seperti yang dianjurkan oleh Bhagavat Gita, yaitu dengan kendali diri yang disertai dengan penuh kesadaran atau mawas diri. Dengan kesadaran dan tekanan pada pikiran kita bahwa sebenarnya indra-indra dan nafsu kita juga bisa diarahkan ke arah yang positif secara spiritual dan duniawi, yaitu ketenangan dan kekuatan, kesucian dan kebenaran. Langkah demi langkah, secara perlahan tetapi pasti kita harus mengarahkan pikiran kita dan mengendalikannya (bukan menghentikannya sama sekali, tetapi mengendalikannya!) secara positif. Secara perlahan pastikan diri kita bahwa pemuasan nafsu-nafsu indra-indra kita secara tanpa kendali itu bukanlah cara dan jalan yang baik, begitupun menindas nafsu ini bukan juga jalan keluar. Jalan yang terbaik adalah yang terletak di tengah-tengah kedua metode tersebut, yaitu kendali-diri dengan mengendalikan nafsu-nafsu yang beraneka-ragam ini dan mempergunakannya seperlunya saja dan secara positif. Sadarlah akan suatu pengetahuan, yaitu tubuh kita ini dibentuk ibarat mata-pisau yang tajam dan peka; pisau itu dapat dipergunakan untuk tujuan positif seperti memotong sayur-sayuran dan kayu, atau untuk hal-hal negatif seperti membunuh atau merampok orang. Lalu bagaimana seharusnya kita gunakan tubuh ini dan semua indra-indranya. Untuk tersesat di dunia ini tanpa kendali dan terikat selama-lamanya secara duniawi atau untuk mengabdi dan kembali mengenal Yang Maha Esa. Dalam melakukan kendali diri yang penuh kesadaran ini, maka setahap demi setahap akan terbuka horizon baru dalam kehidupan kita dan akan nampak pergantian yang ajaib, misterius dan penuh dengan mukjizat yang sukar dilukiskan dengan kata-kata karena merupakan suatu pengalaman yang misterius dan spiritual. Seseorang yang indra-indranya terkendali dan terpakai secara positif akan menemui pengalaman-pengalaman unik, karena jiwa dan pikirannya yang bersih akan melakukan kontak-kontak ke obyek-obyek indranya dengan hasil yang berlainan sifatnya dari yang dialami selama ini. Kontak-kontak spiritual akan berlangsung secara otomatis, ingat pisau yang bermata dua, begitu pun indra-indra kita dapat dipergunakan secara duniawi dan secara spiritual, suatu potensi yang tersembunyi tetapi amat dahsyat karena kita tidak tahu akan hal ini selama kita terjebak dengan yang duniawi. Setelah itu akan timbul, secara perlahan tetapi pasti, sinar atau penerangan dalam hidup kita. Dan sekali ini tercapai maka seseorang yang telah hasil kerjanya secara total kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih, akan menjadi seseorang yang tetap bekerja di dunia ini sesuai dengan kewajibannya, tetapi sama sekali tanpa nafsu atau keinginan duniawi, karena ia telah mendapatkan sesuatu yang lebih menarik lagi dari semua itu, sesuatu kekuatan yang misterius dan membahagiakannya secara lahir dan batin, ia pun akan menjadi pusat dan inspirasi atau penerangan bagi mereka-mereka yang masuk ke dalam radius pengaruhnya. Jalan ke arah ini memang nampaknya sukar untuk manusia, tetapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini seandainya seseorang telah beritikad ke arah itu, karena memang setiap manusia diberikan potensi yang amat besar untuk melakukannya. Jadi terserah kita lagi, jalannya memang sukar, dan banyak jatuh-bangunnya, banyak jurang dan jeram yang menghadang, tetapi Yang Maha Esa sendiri secara “pribadi” akan menuntun kita, akan membimbing kita dan mengajarkan kita cara-cara mengatasi semua rintangan ini dan individu-individu yang kuat akhirnya akan sampai kepadaNya, karena itulah janji Yang Maha Esa kepada kita semua dan itulah tujuan yang dimaksud olehNya, yang telah ditentukan olehNya. Tanyakanlah kebenaran akan hal ini kepada mereka-mereka yang dianggap telah mencapai kesadaran ini, dan semua kebenaran akan dijawab dengan kebenaran. Om Tat Sat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s