Mengerti Suara, Maksud, Asal dan Kehidupan Lampau Makhluk Hidup

MENGERTI SUARA, MAKSUD, ASAL DAN KEHIDUPAN LAMPAU MAKHLUK HIDUP. Suara, makna, dan gagasan yang melatarinya seringkali baur satu dengan yang lainnya sehingga membingungkan; menganalisanya melalui Samyama menghadirkan pengertian terhadap suara dari berbagai makhluk hidup.
Melalui mengamati dengan seksama ikhwal munculnya kesan-kesan mental (samskara), kehidupan lampau dapat diketahui.
[YS III.17 dan III.18]

Seperti perumpamaan atau pengandaian sebelumnya, satelit dapat mengamati apa saja dan bergerak kemana saja dengan mudah; demikian pula bila ia harus mengamati suara makhluk hidup maupun kesan-kesan mental. Ucapan atau kata-kata adalah tuangan perasaan atau ekspresi kondisi dan kesan-kesan mental lewat suara. Memahami hakekat dan bagaimana bekerjanya perasaan dan pikiran, maksud, makna serta gagasan yang melatari setiap ucapan atau suara mudah dipahami.
Dari kehidupan yang lampau, kita membawa benih-benih perbuatan (vasana), demikian pula makhluk hidup lainnya. Vasana-vasana itu, dulunya atau pada kehidupan yang bersangkutan merupakan kesan-kesan mental yang mendalam (samskara). Demikian juga samskara yang terbentuk kini, bila belum tersalur dan habis enerji potensialnya dalam kehidupan ini juga, menjadi vasana untuk kehidupan mendatang. Memahami kejadiannya demikian, dengan mengamati samskara dalam kejernihan citta, dipahami juga vasana; dengan mencermati vasana dan samskara melalui kejernihan citta akan dipahami kehidupan lampau maupun yang akan datang makhluk-makhluk lain.
Mengetahui Maksud dan Asal suara halus.

Melalui Samyama (terhadap samskara ini), kondisi citta makhluk hidup diketahui;
tetapi itu belum mendukung untuk mengetahui isinya, bila ia tidak direfleksikan dalam kehidupannya (melalui tindakan maupun ucapan).
Melalui Samyama terhadap wujud (rupa), daya sensorik yang terhalang karena mata tidak mengadakan kontak-langsung dengan cahaya, dapat diketahui ‘nilai internalnya’ (antardhanam). Dengan antardhanam inilah sabda dapat dipahami.
[YS III.19 – III.22]

Sutra III.19 – III.22 ini sebetulnya masih dalam suatu keterkaitan dengan sutra III.17 dan III.18, sebelumnya. Secara implisit, penjelasannya sebetulnya telah disampaikan pada sutra-sutra sebelumnya. Tambahan khususnya disini adalah, bagaimana bila hanya sabda yang terdengar, namun sumber sabda tidak terlihat? Inilah yang diperjelas dalam sutra III.21 dan III.22.
Sabda dan rupa adalah dua unsur halus dari Panca Tanmatra—lima unsur halus yang membentuk jasad manusia—disamping rasa, gandha dan sparsa tanmatra. Mereka ada pada setiap makhluk berjasad. Mereka jugalah yang merupakan objek cerapan indria sensorik yang ada dalam setiap makhluk hidup. Melalui kewaspadaan, keterpusatan dan kejernihan Samyama, daya asosiatif dari sensasi luar dengan yang di dalam meningkat kepekaannya. Peningkatan daya asosiatif ini yang didukung oleh ketajaman kelima indria sensorik inilah yang melahirkan kemampuan ekstra-sensorik bagi sang penekun. Dengan kemampuan ini, sang penekun mampu mengetahui yang tidak kasat-indria, ‘yang tersembunyi’, ‘yang rahasia’.
Apa yang sesungguhnya perlu kita ketahui dari sebentuk prilaku atau tindakan dan ucapan, adalah maksud atau motifnya. Bukan sekedar apa yang kasat-indria saja. Bukankah kita bertindak pun berucap berdasarkan motif atau maksud ini? Bukankah ini sebagai ‘nilai internal’ dari setiap tindakan dan ucapan kita. Namun, darimanakah maksud atau motif itu berasal? Bila kita menyelidikinya ke dalam, akan kita temukan kalau mereka semua merupakan ekspresi dari keinginan atau hasrat terpendam sehubungan dengan kesan-kesan mental yang terbentuk pada pengalaman sebelumnya (samskara), yang juga membentuk ingatan (smrtti), yang mengisi gudang ingatan.
Ada pula yang menterjemahkan sutra III.21 sebagai: “Dengan pelaksanaan Samyama pada rupa, pada penundaan dari daya reseptif (daya yang memudahkan untuk menerima gagasan baru), hubungan antara mata (dari si pengamat) dan sinar (dari badan) dipecahkan dan badan menjadi ‘tak terlihat’”. Menterjemahkannya demikian, mengakibatkan kesinambungannya dengan sutra-sutra yang mendahului dan mengikutinya terputus, sehingga mengaburkan pengertian yang dikandungnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s