Pintu Pendakian Sepiritual

Menarik pikiran dari objek-objek indria sehingga citta terjernihkan kembali sesuai keberadaannya semula yang halus (svarupãnukãra), inilah Pratyãhãra.
Dari sini lahirlah penguasaan sempurna terhadap sensasi-sensasi indriawi.
[YS II.54 dan II.55]

Untuk yang satu ini, Wrhaspati Tattwa 54 memaparkan: “Seluruh indria ditarik dari objeknya, sedangkan citta, buddhi dan manah tidak diberi kesempatan berkelana, dijaga oleh citta yang suci. Itulah yang disebut Pratyãhãrayoga.” Tampak jelas disini kalau secara esensial praktis, paparan ini sama dengan sutra tadi.
Dimaklumi bahwa Pratyãhãra merupakan langkah kelima, setelah Pranayama dan sebelum Dharana. Namun, bila kita perhatikan kembali sutra sebelumnya, yang antara lain berbunyi, “….sehingga batinpun siap dan layak memasuki Dharana”,  sekilas tampak kalau setelah Pranayama dapat langsung memasuki Dharana, dengan tanpa melalui Pratyãhãra terlebih dahulu. Apa memang demikian?
Yang dimaksud Patanjali dengan Dharana disini, tidak semata-mata terkonsentrasikannya pikiran pada satu objek sembarang. Oleh karenanya, dalam sutra II.53 disebutkan ‘siap dan layak memasuki’ Dharana, dan bukannya ‘adalah’ Dharana itu sendiri.
Dalam praktek, dengan terpusatnya pikiran hanya pada nafas saat Pranayama, tak ada yang lain lagi yang mengisi pikiran kecuali kegiatan bernafas itu sendiri. Dengan demikian, pikiran secara otomatis tidak berkeliaran lagi di luar —di antara objek-objek dan sensasi-sensasi indria. Ini juga merupakan praktek Pratyãhãra. Bedanya dengan Pranayama hanya pada objek yang masih dipegang oleh pikiran. Kalau fenomena keterpusatan ini bisa dianggap sebentuk Dharana juga, maka yang berbeda disini hanyalah objeknya.
Sesuai tabiatnya, pikiran mempunyai kecenderungan berubah-ubah dengan cepat, melompat dari satu objek ke objek lainnya dengan amat cepat. Belum lagi kegandrungannya berkeliaran di antara hal-hal duniawi serta langsung merespon stimulan-stimulan indriawi. Oleh karenanya, sadhana-sadhana seperti yang termaktub dalam Yama-Niyama menjadi sedemikian pentingnya untuk dijadikan sebentuk tradisi spiritual pribadi. Penarikan perhatian ke dalam umumnya tidak dapat dilakukan secara sekaligus; ia dilakukan secara bertahap, dalam arti, pikiran harus terkonsentrasi memegang hanya satu objek saja terlebih dahulu. Dan objek itu, memang sebaiknya nafas, yang tak jauh dari tubuh. Inilah keuntungan besar yang diberikan oleh Pranayama, dalam praktek.
Apa yang mula pertama dihasilkan oleh Pratyãhãra adalah semakin jernih dan heningnya citta. Swami Krishnanda memberi istilah “the frontiers of Yoga” kepadanya, dan mengatakan bahwa seseorang yang selalu mempraktekkan Pratyãhãra berada pada wilayah perbatasan dengan yang tak-terbatas; disini pula ia memperoleh pengalaman supra-fisikal. Yang pasti, Pratyãhãra melahirkan perhatian murni. Dalam telaga yang jernih, apapun yang ada dan terjadi di dalamnya tampak jelas; akan teramati dengan lebih baik. Dalam praktek, kejernihan serupa inilah yang amat ideal sebagai pijakan batin. Apabila perhatian murni ini diarahkan ke dalam batin —yaitu untuk mengamati fenomena-fenomena di dalam, ia akan memberikan pemahaman tentang diri dan batin itu sendiri, secara jauh lebih baik dan lebih cermat. Pemahaman yang dihasilkan dengan cara seperti ini tentu lebih terpercaya.
Narada Mahathera, dalam “Buddhism in a Nutshell”, mengungkap fenomena serupa dengan mengatakan: “Pikiran yang terarah ke luar melalui indria-indria merupakan penyebab timbulnya segala macam nafsu keinginan, yang merupakan sumber penderitaan. Karena sebabnya telah ada, maka timbullah penderitaan saat itu juga, seperti kebingungan, kekhawatiran, ketakutan, kegelisahan, frustasi, stress dll.” Sejalan dengan itu, dalam “Vipassana Meditation Course”-nya, Chanmay Sayadaw mengatakan bahwa teknik penutupan pintu-pintu indria —disebut indriya-samatta dalam bahasa Pali— menyebutkan bahwasanya indriya-samatta merupakan faktor teramat penting dalam ajaran Buddha, yang memungkinkan seseorang terbebas dari semua penderitaan.
Bila kita cermati kembali, sampai dengan Pranayama, perhatian masih relatif terarah ke luar, belum sepenuhnya terjun ke dalam telaga batin. Ia masih berkubang dan berkutat di luar, dimana sedekat-dekatnya, ia baru mendekati nafas yang merupakan aktivitas ragawi. Perhatian masih berkutat dengan objek-objek pikiran. Sejak tahap Pratyãhãra-lah perhatian baru mulai benar-benar mengarah ke dalam, untuk kemudian semakin dalam lagi. Oleh karenanya, sesungguhnyalah Pratyãhãra amat strategis dijadikan pijakan. Ia hendaknya dijadikan terminal, benteng pemisah yang memisahkan perhatian yang berkiblat ke luar, yang hanya mengakibatkan munculnya berbagai bentuk dan karakter pusaran pikiran dan perasaan. Darisini, pandangan akan jauh lebih jelas, baik ke luar maupun ke dalam, bagaikan melihat ikan warna-warni, ganggang dan tumbuhan air lainnya serta bebatuan di dasar ‘telaga batin’ yang tenang dan jernih.
Disinilah Sãdhana Pãda diakhiri oleh Patanjali. Dari Yama-Niyama hingga Pranayama dipandang sebagai praktek dasar yang masih bersifat eksternal, belum langsung menuju sasaran. Memasuki Pratyãhãra-lah penekun mulai mengarah atau mulai menapakkan kakinya dalam pendakian spiritualnya, langsung menghampiri gerbang batin. Dharana, Dhyana dan Samãdhi, yang sudah bersifat internal, dipisahkan dalam satu pãda tersendiri —Vibhuti Pãda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s